Workshop “Menjadi Penulis Produktif, Menulis di Media Massa dan Menerbitkan Buku Itu Mudah”

Ikuti Wokshop Kepenulisan umum dengan Tema:

“Menjadi Penulis Produktif, Menulis di Media Massa dan Menerbitkan Buku Itu Mudah”

Dengan Pembicara:

1. Afifah Afra Amatulloh (FLP Jawa Tengah dan Penulis Prduktif, Solo)

2. Budi Maryono (ext. Redaktur Suara Merdeka dan Penulis Produktif, Semarang)

3. Ridho Al-Hamdi (Penulis dan editor Penebit Leutika, Jogyakarta)

Hari, Tanggal : Ahad, 8 November 2009

Waktu                  : 07.30-16.00 WIB

Tempat              : STIE Muhammadiyah Pekalongan, Jl. KH Mas Mansyur No 2 Pekalongan (Depan Bundaran Air MAncur dekat Sri Ratu).

hanya dengan 25 ribu rupiah, Anda sudah mendapatkan: Workshop kit (makalah, bloknote, pulpen, stiker), sertifikat, snack, makan siang dan doorprize.

AYO DAFTAR SEKARANG JUGA! Peserta Tebatas!

Hubungi: Siti Khuzaiyah, Pekajangan (085659676149), Muthoharoh , STAIN Pekalongan (085640064849)

Batas akhir pendaftaran: 1 November 2009.

BUKTIKAN BAHWA MENULIS DI MEDIA MASSA DAN MENERBITKAN BUKU ITU MUDAH DAN JADILAH ANDA PENULIS-PENULIS SUKSES MASA DEPAN!!


Ada JUGA -buku dari penerbit sponsor yang bisa ANda borong dari tanggal 5-8 November 2009 di STIEM Pekalongan. Jangan sampai Ketinggalan.

Ikuti DIKLAT Jurnalistik dan Workshop Kepenulisan Terbesar di Pekalongan Tahun 2009

Dunia kita saat ini tidak bisa terlepas dari aktifitas jurnalistik. Kehidupan tanpa adanya aktivitas jurnalistik bagaikan sayur tanpa garam: hambar. Tanpa jurnalistik pejalanan manusia sepi karena tidak ada suara pengkitisan pada tiap aktivitas manusia, sehingga tidak mustahil semua peistiwa akan berjalan konstan tanpa adanya perubahan ke aah lebih baik. Menyadari pentingnya makna kejunalistikan, maka pengetahuan dan ketrampilan tentang jurnalistik mutlak diperlukan, teutama bagi kita yang mengaku sebagai manusia kitis, selalu bepikir dan berposes ke arah lebih baik. Nah, sebagai salah satu upaya penyerapan pengetahuan dan pengasahan keterampilan kita di dunia jurnalistik, maka diperlukan sebuah proses dan penggodokan dalam agenda Pendidikan dan Pelatihan (DIKLAT) Jurnalistik. Untuk itu, ayo ikuti:

PENDIDIKAN DAN PELATIHAN JURNALISTIK SE-JAWA TENGAH

Menyajikan tema-tema menarik dengan pemateri yang kompeten di bidangnya. Matei lebih mengedepankan praktik simulasi, hingga peserta diharapkan benar-benar dapat mempaktikkan setiap ilmu yang didapat secara langsung.
Materi meliputi: Dasar-dasar Junalsitik (Artikel, Feature, Berita), Junalsitik daalm Fotografi, Kiat Menembus Nedia, Menulis Kritis dan Pogessif, Pengelolaan Tulisan dan Media, Jurnalistik dan broadcasting, Kelas Fiksi, Jurnalistik di Era IT dan Webbloging, Motivasi Menulis serta ada diskusi-diskusi tekait jurnalistik.
Pemateri yang akan Hadir: Mustofa W. Hasyim (Wartawan Senior dan Ketua Pusat Ikatan Jurnalis Muhammadiyah, Jogya), Deni Al-Asy`ari (Penulis kritis dan Ka.DIKLAT Pusat IJM, Jogya), Miftachul Huda (Penulis, pengelola Kibar Pers dan Redaktur Majalah Suara Muhammadiyah, Jogya), Burhan (Suara Merdeka), Adi Sucipto (Sek.Bid Keilmuan PP IMM, fotografer), Fidaus Putra (Trainer Kepenulisan dan Blogging dan peraih penghargaan dari Kapanlagi.com, Banyumas), Sulistyo Suparno (Cerpenis dan Novelis, Batang), Broadcaster BSP Radio Pekalongan, dll.
Hanya dengan 50ribu ANda sudah mendapatkan: DIKLAT Kit (makalah, bloknote, pulpen, stiker, map), setifikat, snack dan makan 3 hari, coffee break dan sahabat-sahabat baru.
Catat hari dan tanggalnya: Kamis-Sabtu, 5-7 Novembe 2009
Waktu : 13.30-selesai
Tempat: Kampus STIE Muhammadiyah Pekalongan, Jl. KH Mas Mansyur No. 2 Pekalongan (depan bundaran Air Mancur)
Hubungi Cp:
Siti Khuzaiyah (085659676149), Mutoharoh (085640064849), Suryati (085642813040).
Ayo Daftar sekarang juga!! Peserta terbatas!!

 

batas akhir pendaftaran: Sabtu, 31 Oktober 2009.

Presented By: Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Pekalongan.

Sudahkah Kita Merdeka?

Agenda 17-an baru saja berlalu. Perayaan akbar tahunan baru saja digelar. Usia Indonesia terhitung sejak kemerdekaan telah mencapai 64 tahun. Hal ini berarti bahwa kita telah merdeka selama 64 tahun. Bukan waktu yang pendek memang. Namun pertanyaanya adalah sudahkah kita benar-benar merdeka? Merdeka yang berarti bebas menentukan nasibnya sendiri, berdikari (berdiri di atas kaki sendiri), tidak mengandalkan pihak lain (kecuali Alloh), dan tidak menjadi `babu` bagi pihak lain.

Merdeka adalah mampu berpikir, menentukan apa yang hendak dilakukan dengan pertimbangan akal yang dimilikinya, mampu menimbang mana yang baik dan mana yang buruk, serta mampu melaksanakan yang baik dan meninggalkan yang buruk.

Sekali lagi, mari kita bertanya pada diri kita, Sudahkah kita merdeka?

Patutkah kita meneriakkan kemerdekaan jika:

-         Kita masih tidak Pe-De (Percaya Diri) pada kemampuan yang kita miliki

-         Kita masih takut untuk berkata jujur.

-         Kita masih takut pada makhluk (manusia, entah itu guru, dosen, dll) melebihi ketakutan kepada Alloh.

-         Kita masih takut dan malu berkreatifitas.

-         Kita masih suka `membebek` (ikut-ikutan) pada suatu hal yang belum kita ketahui maslahatnya/ manfaatnya

-         Kita mudah terbawa arus pergaulan bebas atas nama Persahabatan, seperti memakai pakaian ketat, bergaul bebas dengan lawan jenis, memakai narkoba, merokok, dan berkongko-kongko tanpa tujuan yang jelas.

-         Kita tidak militan mempertahankan harga dan kehormatan diri. Bahkan mugkin kita senang menjatuhkan harga diri dengan akhlak tercela dan dengan sikap asusila kita.

-         Kita masih mau diperintah-perintah bukan dalam kebaikan.

-         Kita masih bangga dengan budaya barat dan malu dengan budaya sendiri.

-         Kita masih suka berputus asa dari RahmatNYA.

Nah, jika semua sifat itu masih menempel pada diri kita, maka sudah sepatutnya kita berpikir ulang, merenungi diri, serta kembali bertanya pada diri kita, SUDAHKAH KITA MERDEKA??? LAYAKKAH KITA DISEBUT MERDEKA? Jika kita masih belum merdeka, sekaranglah saatnya kita merdekakan diri kita!!

Apalah arti kemerdekaan bangsa Indonesia, jika kita sebagai warganya ternyata belum juga merdeka??

Pekajangan, 18 Agustus 2009

Ditulis dalam OpiNi. Tag: . 3 Komentar »

Dewasa Menyikapi Facebook

wajah lain facebook

wajah lain facebook (diambil dari anews.eu)

Jaman kita telah berubah. Jaman kita sudah sampai pada jaman yang termakan oleh kemajuan teknologi. Rasanya manusia sekarang tidak bisa hidup tanpa tekhnologi. Betul?

Yach, tekhnologi telah menghipnotis manusia. Teknologi `aneh` yang dulu hanyalah sebuah `bayangan`kini bisa tersajikan setiap saat di depan mata.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan tekhnologi jika kemajuannya dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif. Yang menjadi masalah adalah ketika orang-orang semakin mundur dengan kemajuan tekhnologi itu karena ia memanfaatkannya bukan untuk kebaikan melainkan untuk kesenangan semata, bahkan untuk suatu hal yang jelas-jelas merugikan. Merugikan di sini sifatnya kompleks, mulai dari kerugian biaya, tenaga dan yang paling besar adalah kerugian waktu dan usia.

Beberapa tahun lalu kita baru mengenal adanya email (surat elektronik) sebagai media komunikasi jarak jauh yang menggantikan fungsi surat. Beberapa tahun kemudian mulai dikenal adanya friendster sebagai ajang hiburan, ajang refreshing, ajang mencari teman bahkan ajang mencari jodoh. Di dalam friendster (fs) sebenarnya ada fasilitas blog yang bisa digunakan untuk mengembangkan diri dalam hal tulis menulis, berbagi ilmu dan dakwah bilqolam. Akan tetapi hanya segelintir orang (sangat sedikit) yang memanfaatkan fasilitas blog yang ada di dalam friendster ini, kebanyakan mereka mengabaikan fungsi yang satu ini dan hanya menggunakan fs sekedar alat penjalinan teman2 baru (bahkan jodoh J). Yang sangat disayangkan adalah banyak remaja (bahkan yang mengaku orangtua) kecanduan friendster, hingga boleh dikatakan mereka masih `lapar` jika dalam 1 minggu bahkan 1 hari tidak ke warnet untuk sekedar membuka friendster dan melihat perubahan2 terbaru dalam friendster (seperti inbox, undangan petemanan, komentar, dsb).

Beberapa waktu berikutnya sempat booming blog sebagai ajang aktualisasi diri di dunia maya. Banyak hal yang bisa dilakukan para blogger dengan blognya. Mulai dari sekedar curhat, berbagi pengalaman dengan sesama blogger ataupun pengguna web lain, berbagi ilmu, dakwah bil qolam (dakwah dengan pena/tulisan), bahkan tidak sedikit blogger yang sekarang memanfaatkan blog sebagai media / mesin pencari uang. Jika kita tilik perbedaan blog dan fs, kita akan melihat kelebhian-kelebhian yang lebih menonjol pada blog daripada fs. Bahkan kalau boleh saya katakan, jangan mengaku penggemar dunia maya/ professional maya jika belum mempunyai blog. Bahkan ada seorang teman yang mengungkapkan `bloggito ergo sum` (karena blog aku ada). Namun tidak semua orang bisa memiliki pandangan yang sama tentang blog. Mereka justru menganggap blog hanya di peruntukkan bagi mereka-mereka yang punya kemampuan yang lebih dalam menulis. Mereka cenderung lebih suka dengan friendster karena dirasa lebih mudah. Betul?

Beberapa waktu kemudian mulai dikenal adanya facebook (fb). Sebuah `ajang permainan` baru tsb. Hingga saat ini sedang booming-boomingnya.  Kalau kita tilik ada kemiripan antara friendster dengan facebook, yaitu sama-sama menjadi ajang mendapatkan teman-teman baru (dan ternyata fungsi inilah yang menjadikan fs/fb digemari banyak kalangan ). Yang menjadi kelebihan fb mungkin terletak pada kepiawaiannya mencari teman-teman baru/ teman lama tanpa kita harus tahu dulu alamat emailnya. Yach, kalau pada fs kita baru bisa meng-add teman jika kita tahu alamat emailnya, sedangkan pada fb kita cukup mengetikkan nama atau sekolah asal pada mesin pencari yang sudah tersedia di facebook dan kemudian akan muncul nama-nama sesuai dengan yang dicari pada hasil pencarian. Di satu sisi ada manfaat yang bisa diambil dari fb ini, yaitu bisa menjalin kembali silaturrahim dengan teman-teman/ saudara-saudara yang lama terputus.

Selain berniat mencari teman-teman yang hilang, ada juga pengguna fb yang sekedar iseng dan (katanya) sekedar mengisi waktu luang. Namun, dari yang iseng dan sekedar mengisi waktu luang inilah yang akhirnya melahirkan semacam kecanduan, karena sejak awal sudah diniati dengan iseng hingga akhirnya tidak mengenal batas ruang dan waktu. Yach, penulis mengatakan demikian karena fakta membuktikan bahwa fb sekarang telah `dituhankan` setiap tempat dan setiap waktu. Tidak hanya dari kalangan pengangguran saja yang ber-fb ria, tetapi juga dari siswa, mahasiswa, karyawan, guru, dosen sampai mereka yang punya aktivitas di rumah. Semakin menjamurnya warnet (warung internet) dan semakin banyaknya fasilitas hotspot (jaringan internet nirkabel) yang tersedia, akan semakin meningkatkan jumlah penggemar situs-situs pertemanan semacam fb ini. Penulis tidak menganggap salah dengan lahirnya fb, karena setiap sesuatu lahir/diciptakan tentu memiliki tujuan ataupun manfaat. Fb akan menjadi tidak bermanfaat bahkan merugikan jika kehadirannya menjadikan kita lalai. Lalai akan tugas utama kita sebagai `manusia seutuhnya`, baik itu tugas sebagai makhluk Tuhan (Alloh), tugas sebagai makhluk individu maupun tugas sebagai makhluk social.

Sangat disayangkan ketika kita telat absent lima waktu gara-gara terlelap dalam fb, atau mendapatkan hasil kerja yang kurang maksimal gara-gara kita nyambi fb ketika bekerja, atau banyak pekerjaan tertunda karena asyik cerita tak `berisi` ngalor ngidul dengan sesama pengguna fb, atau bahkan lupa makan/ mandi karena terbang bersama situs bernama facebook.

Sebagai manusia berakal sudah sepatutnya kita memikirkan dan mempertimbangkan segala hal yang hendak kita lakukan. Kita mengenal adanya 4 pembagian skala prioritas dalam mengerjakan sesuatu, yaitu mendesak, penting, perlu dan boleh. Dengan menetapkan pembagian ini tentu kita akan bertindak sesuai skala prioritas tersebut, yaitu dengan mengutamakan yang mendesak, kemudian mengerjakan yang penting, kemudian melakukan yang perlu, baru jika ketiga hal tersebut sudah tertunaikan kita selingi dengan sesuatu yang boleh. Dengan demikian kita akan menjadi manusia yang bijak atas waktu 24 jam yang kita miliki.  Ingat, hanya 24 jam! tidak lebih! Jangan sampai kita melakukan yang boleh sementara banyak tugas2 mendesak dan perlu kita lakukan justru terbengkalai. Begitupun ketika kita mengerjakan sesuatu yang boleh, harus ditilik juga pekerjaan apa yang lebih banyak manfaatnya bagi kita.

Lalu, masuk ke prioritas manakah aktivitas ber-facebook? jawabannya adalah relative. Yach, jika kita memanfaatkan fb untuk membahas sesuatu yang mendesak (misal:terkait nasib organisasi, terkait masalah yang memang harus dipecahkan, dll), maka tentu penggunaannyapun masuk kategori mendesak. Jika penggunaan fb adalah untuk berdiskusi ataupun merajut persaudaraan yang terputus boleh jadi itu menjadi hal yang penting atau perlu, sedangkan jika penggunaan fb sekedar untuk mencari teman-teman baru tanpa tujuan jelas ataupun hanya iseng maka itu masuk kategori boleh. Dan…jika penggunaan fb adalah untuk ngerasani/ ghibah, berkencan dengan lawan jenis, atau sekedar `pemuas rasa`, maka fb bukan lagi masuk boleh, penting atau bahkan mendesak, tetapi masuk pada kategori mudharat. Sepakat? (silahkan yang tidak sepakat untuk menulis komentar yaw..:-)

Okey, sebagai penutup tulisan ini, penulis mengajak kepada semuanya untuk bersikap dewasa dalam menyambut kehadiran facebook. tidak selayaknya kemajuan tekhnologi justru memundurkan generasi umat. Bagi yang memiliki notebook/laptop (yang bisa online setiap saat jika ada hotspot) sudah semestinya bersikap bijak, yaitu dengan mengajak pembaca semua untuk lebih memilih webblog, karena blog adalah budaya yang baik untuk mengasah kreativitas menulis, berbagi ilmu dan pengalaman serta sebagai memanfaatkannya untuk menimba ilmu dan wawasan seluas-luasnya. Penulis juga wujud eksistensi diri di dunia maya, yang tentu jauh, jauh dan jauuuuhhh lebih baik daripada sekedar friendster ataupun facebook. Sepakat?

Baiklah, semoga umur yang tersisa bisa kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya dan ketika datang saat penimbangan amal, kita akan mendapatkan timbangan yang berat pada amal baik kita.

“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih, dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehat supaya menetapi kebenaran” (Q.S Al-Ashr:1-3)

“Ingat 5 perkara sebelum datang lima perkara. Hidupmu sebelum matimu, sehatmu sebelum sakitmu, lapangmu sebelum sibukmu, mudamu sebelum tuamu, kayamu sebelum miskinmu…” (HR Ahmad)

Pekalongan, 11 Juli 2009

Ditulis dalam ArTikEL UMuM. Tag: . 10 Komentar »

The Zikr dan Pilpres 2009

Pilihlah pemimpin yang takutkan Alloh
Yang minta dibantu menegak kebenaran
Yang minta ditegur kalau ia bersalah
Yang tidak menyebut apa jua jasanya
Yang tidak banyak mebuat janji manis

Biasanya seorang pemimpin itu
Ia mempunyai ilmu yang sederhana
Jiwanya kental dan juga gigih
Dapat pengalaman dari hidup

Kalau kita hendak tahu pemimpin yang sejati
Dia tak berjawatan pun masih dihormati
Oleh semua pengikutnya

Biasanya pemimpin yang sejati itu
Ia tersendiri ada panduan yang diberi ada kharisma
Semua jadi mendidik mengikut
Hingga taat setia tidak berbelah bagi

Sengaja saya kutip syair di atas dalam rangka menyambut pilpres 2009 yang tinggal beberapa hari lagi. Yach, agenda penentu masa depan bangsa ini dalam waktu lima tahun ke depan akan segera digelar. Agenda itu bukanlah suatu yang seharusnya dianggap remeh, karena tentu tidak sedikit dana yang dipakai untuk penyelenggaraan pilpres tersebut. Namun pertanyaannya adalah, akankah agenda pesta demokrasi tersebut mampu melahirkan seorang `pemimpin ideal` untuk negeri ini? Hm…siapa bisa menjamin?
Kembali pada pemimpin ideal, seperti apakah hendaknya?
Menilik pada nasyid The Zikr berjudul Pemimpin Sejati di atas (Download versi MP3), maka mari kita lihat lebih jauh tentang sosok pemimpin ideal itu. Jika kita cermati isi syair tersebut, maka kita akan teringat pada sosok pemimpin sejati yang benar-benar sejati. Siapa beliau? Yach, Rosululloh SAW. Pemimpin yang membawa manusia dari jaman kebodohan menuju jaman yang terang dengan cahaya ilmu. Pemimpin yang menduduki urutan no.1 dalam buku `100 Tokoh Berpengaruh di Dunia` . Adakah seorang pemimpin yang kualitasnya setingkat Rosululloh di era sekarang? Hm…tampaknya sulit kita temukan, bahkan boleh dikatakan tak kan pernah kita temukan lagi (benarkah?).
Sekarang mari kita `pritili` (penggal) sosok pemimpin ideal versi the Zikr…
1. Pilihlah pemimpin yang takutkan Alloh
2. Minta dibantu menegak kebenaran
3. Minta ditegur kalau ia bersalah
4. Tidak menyebut apa jua jasanya
5. Tidak banyak membuat janji manis
6. Mempunyai ilmu yang sederhana
7. Jiwanya kental dan juga gigih
8. Dapat pengalaman dari hidup
9. Dia tak berjawatan pun masih dihormati Oleh semua pengikutnya

Hm, sudahkah para pemimpin-pemimpin negeri ini takut akan Alloh? Seperti apakah ciri-ciri pemimpin yang takut akan Alloh?
Baiklah, kalau kita ingat kembali akan makna suatu jabatan (pemimpin), maka hendaknya kita sadar bahwa sesungguhnya jabatan bukanlah suatu yang `menyenangkan`. Jabatan tidak lain adalah suatu amanah yang tentu akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di akhirat. Pemimpin yang takut Alloh hendaknya benar-benar menjalankan amanah yang dipikulnya, bukan justru mengkhianati rakyat dipimpinnya dengan sikap&perilaku yang tidak terpuji seperti korupsi, `menjajah` dan menyengsarakan rakyat.
Pemimpin yang sejati juga hendaknya minta dibantu menegakkan kebenaran, bukan justru marah, bengis dan naik pitam ketika banyak kritikan berdatangan dari rakyat, karena sesungguhnya kritikan dari rakyat merupakan alarm bahwa ada yang tidak beres dengan pemerintahan yang dipimpin. Jadi hendaknya pemimpin yang sejati selalu mendengarkan dan menyikapi setiap kritikan dalam rangka menegakkan kebenaran.
Pemimpin sejati tentu tidak akan menyebut jasa-jasa yang telah diberikannya pada rakyat, karena sesungguhnya apa yang sudah diperbuat untuk rakyat itu sejatinya merupakan sebuah amanah/kewajiban yang memang sudah seharusnya dijalankan. Bukan berarti saya tidak meghargai seorang pemimpin yang berhasil, tetapi mencoba mewacanakan bahwa sudah seharusnya seorang pemimpin berbuat dan memberikan yang terbaik untuk rakyat hingga akhirnya tercapai suatu keberhasilan.
Pemimpin sejati bukanlah pemimpin yang selalu mengumbar janji-janji manis, tapi pemimpin yang selalu merealisasikan segala hal program untuk rakyat: Demi Rakyat! Bukan hanya demi cari muka di hadapan rakyat (maaf…) dengan janji-janjinya. Obral janji lebih mudah daripada obral barang-barang, karena obral janji tidak butuh modal hanya butuh vocal, sementra obral barang butuh barangnya serta butuh tenaganya. Akan tetapi, dampak dari obral janji itu tentu lebih besar, tanggung jawab moralnyapun luar biasa.
Pemimpin sejati juga hendaknya menjadikan setiap pengalaman hidupnya sebagai guru yang berharga, bukan dijadikan lintas lalu. Pengalaman itu dijadikannya sebgai bekal untuk proses perbaikan dalam pola memimpin setiap detiknya, setiap harinya dan tiap waktunya. Hingga jika kepemimpinnya lengser, dia masih dihormati sebagai seorang pemimpin, bukan dilecehkan atau dibuang begitu saja seperti pepatah Habis manis sepah dibuang. Begitu? Yach, pemimpin abadi untuk dirinya sendiri dan untuk rakyat.
Baiklah, menjelang pilpres 2009 sudah patutnya kita bijak dalam menentukan calon pemimpin yang hendak kita pilih. Bagaimanapun nasib bangsa ini lima tahun ke depan ditentukan oleh kita semua melalui pesta demokrasi lima tahunan yang akan digelar 8 Juli besok. Jadilah rakyat yang cerdas, jadilah pemilih yang cerdas yang memilih calon wakil rakyatnya dengan menggunakan akal dan hati. Jangan memilih wakil rakyat hanya karena pengaruh orang-orang sekitar dan karena faktor `X` saja, tapi pikirkanlah dengan matang, demi masa depan bangsa! Okey?
Sampai jumpa pada pilpres 2009!
Semoga Indonesia bisa mendapatkan pemimpin yang sejati itu? Siapakah dia? Anda semua yang menentukan!
Pekalongan, 4 Juli 2009

Ditulis dalam ArTikEL UMuM. Tag: . 2 Komentar »

Aku untuk Negeriku: Akan Kukarantina Indonesia

Akan Kukarantina Indonesiaku

Indonesia

Merah darahmu

Putih tulangmu

Bersatu dalam semangatmu

Indonesia,,,,,,,,,,,!!!

Tapi, apa ya yang bisa kulakukan untuk negeriku?…

.

Bila tiba saatnya nanti, ingin kuciptakan sebuah gedung besar bernama `Karantina`. Gedung luas tanpa atap, tanpa dinding dan tanpa seorangpun yang bisa merobohkannya (kecuali Tuhan Semesta Alam). Gedung raksasa yang bisa menampung negeriku ini. Gedung yang juga mampu `menghidupi` dan `menghukumi` para penghuninya.

Mau tahu siapa saja yang bakal kumasukkan dalam gedung dan akan kukarantina di sana? (*_*)

1. Akan ku Karantina Tikus-tikus Nakal

Yupz! Tikus-tikus nakal di negeri ini banyak sekali. Hampir tiap lini & sisi negeri terdapat tikus yang menggerogoti. Tikus itu ada yang blak-blakkan, ada yang sembunyi-sembunyi, dan ada yang semi blak-blakkan dan semi sembunyi (wah, apa tuh maksudnya?)

Yang pasti negeri ini sudah terlalu muak dengan para tikus. Apalagi tikus di negeri ini perutnya sudah buncit-buncit. Padahal si empunya yang melihara mereka di bawah pada kelaperan. Kalau boleh dibilang, tikus-tikus negeri buncit karena kekenyangan, sedangkan si empunya di bawah (baca:rakyat) buncit karena kelaperan. Wuih,,kontras banget kan?

Kalau tikus-tikus itu terus dibiarkan berkeliaran di negeri ini alias gak ada (atau gak berani ya?) meng-karantina mereka, jangan harap negeri ini akan kokoh. Ya, karena tiang negeri jadi keropos berkat digerogoti tikus-tikus rakus. Makanya gak ada jalan lain untuk menghentikan tikus-tikus berkeliaran itu, kecuali dengan mengkarantina mereka dan menggodok mereka dengan pelajaran PPKn/ PMP (Pendidikan Moral Pancasila). Di gedung karantina ini para tikus juga kusuruh untuk memuntahkan semua milik rakyat yang sudah ditelan, biar tubuh mereka bersih. Kalau masih ada yang nakal dan bersikeras menggorogoti tiang negeri Indonesia, tentu jalan paling aman adalah….(apa hayo..?) Pikir sendiri-sendiri aja yaw…

2. Akan ku Karantina Kambing-kambing dan Pengangguran

Pengangguran! Satu kata berjuta makna dan berjuta akibat. Betul gak? Yupz! Berjuta makna karena yang dimaknai pengangguran pada hakikatnya bukan hanya mereka yang tidak kerja saja, tapi juga mereka yang kerja tapi senang mangkir. Setuju gak? Ya, karena uang negeri ini telah terlalu banyak yang digunakan untuk membayari pegawai-pegawai yang `tidak kerja`. Mereka kerja tapi ongkang-ongkangan. Mereka kerja tapi berangkat seenaknya, mereka kerja tapi gak memberikan servise memuaskan kepada rakyat, mereka kerja tapi sombong, mereka kerja tapi bermalas-malasan, mereka kerja tapi tidak menghargai pemilik negeri baca:rakyat). Ya, para pekerja seperti ini juga perlu dikarantina untuk mendapatkan gemblengan dari rakyat.Mereka perlu dikarantina untuk praktek menjadi rakyat bawah selama beberapa bulan. Suruh mereka mencangkul, menarik becak, makan nasi aking, makan nasi jaguug, tinggal di gubuk bamboo dan juga menjadi pemulung. Biar mereka ikut merasakan bahwa pnghuni negeri ini tidak hanya orang-orang seperti mereka yang tidur di kasur empuk, tinggal di rumah mewah tanpa takut kebocoran saat hujan, yang makan sekali sehari, dan `yang-yang` yang lain…ya, mereka perlu dikarantina.

Okey, selanjutnya pengangguran disebut berjuta akibat karena dengan adanya pengangguran yang sesungguhnya (baca:mereka yang benar-benar tidak memiliki mata pencaharian) maka akan banyak masalah yang timbul di negeri ini. Dari mulai masalah status kesehatan yang buruk, gizi buruk, putus sekolah, kekerasan, kriminalitas bahkan tindakan-tindakan asusila seperti munculnya PSK-PSK yang mengatasnamakan kemiskinan sebagai alasan mereka melacur. Jika memang benar adanya demikian, maka sudah seharusnya pengangguran ini diberantas. Nah, bila sudah tiba waktunya nanti, aku punya rencana khusus dalam rangka mengurangi penganguran. Yupz, apa itu? Tdk lain adalah mengkarantina para penganguran di lingkungan tempat tinggalku. Bagi pengangguran remaja kayaknya lebih cocok kalau ku bekali mereka dengan keterampilan yang bisa dijadikan sebagai modal bekerja. Ya, semisal keterampilan nyervis Hp, keterampilan mejahit, bikin kue-kue ringan, dan keterampilan bikin jajan dari tanaman yang ada di sekitar tempat tinggalku seperti keripik, sale dll (karena memang daerahku adalah daerah pegunungan n perkebunan).

Bagi pengangguran bapak-bapak mereka dibekali seekor kambing untuk dirawat. Jadi perlu dibuatkan karantina juga buat kambing-kambing biar bapak-bapak yang notebene gak punya modal buat bikin kandang jadi gak bingung. Tiap bapak bertanggung jawab atas satu kambing yang jadi jatahnya. Nanti kalau kambing sudah besar dan beranak, si bapak bisa mengambil anak kambing itu menjadi miliknya dan dibesarkan lagi sebagai modal kehidupannya, sedangkan si kambing induk harus dikembalikan ke saya (cie…) untuk kemudian dirawat oleh bapak lain yang belum pernah dapat bagian. Jadi sistemnya muter gitu, hingga bila tiba saatnya nanti tiap rumah/ tiap bapak bisa punya kambing satu-satu, dua-dua, bahkan sepuluh-sepuluh hingga tak ada lagi kemiskinan di daerahku. Amien…

3. Akan ku Karantina Bendera Pusaka

Yupz! Supaya kita selalu ingat dan cinta pada negeri ini. Bukankah ada pepatah (ataukah hadits?) yang berbunyi :khubbul wathon minal iimaan, yang artinya kurang lebih Cinta tanah air adalah sebagian dari iman. Betul gak?

4. Akan ku Karantina Sampah-sampah

Wah, masalah sampah kayaknya gak ada habisnya ya. Sampai-sampai Indonesia menjadi langganan banjir tiap tahun. Kayak musim sekarang ini. Memang sih ada banyak factor penyebab banjir, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa sampah yang berkeliaran dan menumpuk juga memberi andil besar pada munculnya banjir ini. Sayangnya kesadaran masyarakat Indonesia akan kebersihan boleh dikatakan masih minim. Kita tak punya rasa malu sedikitpun ketika buang sampah sembarangan. Wah, kalau ngomongin kebersihan jadi ngiri sama Jepang nih. Di sana suasana kota bersih dan tertata rapi. Tapi, itu sekedar iri loh, karena sesungguhnya lebih kucintai Indonesia daripada Jepang (ya iyalah…masa ya iya dong!).

Nah, sebagai upaya pelestarian dan kebersihan alam Indonesia, perlu dibuatkan karantina untuk sampah-sampah. Setiap RT wajib mempunyai tempat pembuangan sampah umum. TIDAK BOLEH TIDAK!!! Dan masyarakatpun harus membuang sampah pada tempatnya. Kalau ada yang tidak mematuhi aturan ini, konskuensinya Pak RT harus rela munguti sampah yang ada di RT nya (wah…galak banget sih!) gak apa-apa, demi kedisiplinan dan kemajuan galak kadang diperlukan. Iya gak?

5. Akan ku Karantina Para Kakek-nenek dan sesepuh

Kalau bicara masalah orangtua, kakek-nenek dan sesepuh kok hati ini jadi miris ya.. Masalahnya di negeri ini orangtua kurang mendapat penghargaan dan perhatian khusus. Banyak anak-anak di negeri ini yang menyiaka-menyiakan orangtua. Mereka yang telah sukses dan hidup dalam keluarga kecilnya begitu mudah dan tanpa dosa menitipkan orangtua di panti jompo. Terkadang kita tidak ingat betapa perjuangan orang tua terutama ibu ketika melahirkan kita ke dunia ini. Keringat darah tercurah ketika proses persalinan. Pertaruhan antara hidup dan mati. Dari rahim ibu kita lahir, dari ASI ibu kita hidup, dari belaian ibu kita dibesrakan dan dari keringat bapak kita tercukupi. Ingatkah kita?

Suatu ketika saat aku ikut partus (melahirkan) di desa juga dapat info, bahwa tetangga keluarga yang kami partusi (baca:kami Bantu persalinan)`tidak mengakui` ibunya yang sebatang kara dan tidak mau mengasuh beliau. Alhasil ibu tesebut mencari penghidupan sendiri dengan meminta-minta ke tetangganya `door to door` demi sesuap nasi. Padahal anak dari ibu itu saat ini jadi orang terkaya di desa itu. Naudzubillah… Malang nian nasibmu ibu…

Pernah kusaksikan juga sebuah tayangan di stasiun TV swasta yang mengangkat tema kehidupan para orangtua di negeri ini. Para kakek-nenek yang hidup di Jakarta sebatang kara. Mereka mencari penghidupan dengan mengumpulkan sampah gelas plastic di jalanan dan tempat sampah. Satu gelas plastic dihargai 50 perak. Sehari mereka kadang dapat 40 gelas dan mereka jual pada bos dengan harga 2000 perak. Ya, mereka hanya mendapatkan 2000 rupiah setiap hari. Bayangkan, apa yang bisa mereka dapatkan dari uang sejumlah itu? Mereka tidak mesti makan 3x sehari. Malang nian nasibmu nek…

Nah, sebagai bakti cintaku pada kakek-nenek, ingin ku bangun karantina khsus untuk mereka. Kuangkut mereka yang ada di jalan-jalan dan kolong jembatan. Jika memungkinkan ingin kupertemukan mereka kembali dengan anak-anak mereka, supaya anak-anak mereka kmbali ingat pada sejarah mereka ada di dunia.

Jangan pernah lupakan sejarah, karena dari sejarah engkau ada. Itulah ucapan seorang teman yang pernah kutangkap.

6. Akan ku Karantina Anak-anak Putus Sekolah

Ya, ingin ku bangun karantina khusus untuk anak-anak di desaku. Anak-anak yang putus sekolah karena ketiadaan biaya akan kutampung. Tak tau apa yang akan kulakukan pada mereka nantinya, apakah akan diberikan pendidikan alternative seperti metode Qoryah Toyyibah. Atau akan kubangun Gerakan Nasional Orang Tua Asuh di desaku. Yang penting mereka bisa tetap mendapatkan pendidikan, meskipun tidak secara formal. Mereka bisa mendapatkan kesempatan untuk megasah pemikiran kritisnya, mereka berkesempatan menikmati manisnya ilmu. Siapa tahu dari karantinaku nanti bisa terlahir presiden satau orang-orang besar yang bersih dan kritis. Hehe..:-)

Atau juga barangkali dari karantinaku bisa terlahir ilmuwan canggih yang bisa memecahkan permasalahan-permasalahan crusial di negeri ini.

Walah-walah…muluk-muluk banget Yayah…hehe, memang sih…

Tapi ya…barangkali bisa. Apa salahnya sih bermimpi. Bukankah tanpa mimpi kita tidak akan pernah bisa mewujudkan mimpi itu? Jadi gak perlu takut bermimpi kan?

Yupz!

Okey, mari bermimpi bersama-sama untuk perwujudan negeri ini lebih baik…

Aku Cinta Indonesia……………

Kamu Cinta Indonesia…………..

Kita Cinta Indonesia………………..

Ditulis dalam ArTikEL UMuM. 8 Komentar »

Sholat Tahajud Sebagai Terapi Berbagai Penyakit (Dimensi Psikoneuroimunologi sholat)

Taukah apa kita itu Psikoneuroimunologi?
Tahukah juga bahwa ternyata sholat bisa menjadi terapi berbagai penyakit? Yah, bagi sebagian orang mungkin akan kaget dengan judul yang saya tulis. Namun, percayalah, bahwa ini memang benar adanya dan telah dibuktikan secara ilmiah efek sholat terhadap kesembuhan penyakit.

Secara sederhana Psikoneuroimunologi dapat diartikan sebagai bentuk kekebalan tubuh yang didapat dari
kondisi psikologi dan keadaan jiwa seseorang. Atau bisa juga diartikan sebagai hubungan antara keadaan otak/ saraf, pkisis dan kekebalan tubuh seseorang. Jadi, secara
Psikoneuroimunologi kesehatan seseorang akan terganggu ketika ada gangguan pada aspek psikologis.

WHO (World Health Organization) mendefinisikan sehat sebagai suatu keadaan sejahtera secara fisik, jiwa, sosial dan ekonomi. Sedangkan teori lama tentang timbulnya penyakit menyatakan bahwa suatu penyakit akan muncul jika terdapat gangguan pada salah satu atau lebih aspek dari segitiga berantai. Segitiga tersebut meliputi Host, agent dan environment yang bisa digambakan sebagai segitiga yang erdiri dari : host-Agent- environment

Artinya seseorang akan sakit jika keadaan tubuh sedang ada gangguan, ada agen penyebab penyakit, atau/dan adanya lingkungan yang mendukung pada timbulnya penyakit. Teori lama ini kurang memperhatikan factor psikologi sebagai penyebab timbulnya penyakit. Berbeda dengan teori baru yang dikemukakan Prof. Dr. H.M Sholeh Drs.MPD.PNI dalam
seminarnya di UNISULA (20 Desember 2008). Beliau menyebutkan bahwa etiologi (penyebab) timbulnya penyakit ada lima, yaitu: pola piker, pola makan, pola laku, pola lingkungan (missal radiasi), serta kehendak Alloh SWT. Beliau juga menyebutkan bahwa pada dasarnya sumber dari berbagai penyakit adalah factor ketidakikhlasan dan kesombong
an
yang bercokol di hati. Orang yang sombong, dengki dan tidak ikhlas cenderung lebih rentan terhadap stress. Sementara itu jika kita stress tubuh kita akan mengeluarkan Hormone cortisol, yaitu suatu hormone yang dihasilkan oleh cortex adrenal (suatu kelenjar yang berada di ginjal bagian atas) dan hanya akan keluar jika kita stress. Cortisol akan menyebabkan protein dari berbagai jaringan smidal otot dsb-kesuali protein pada hati- dilepaskan untuk kemudian diubah lagi menjadi glukosa. Cortisol yang meningkat menyebabkan penurunan sel-sel makrofag, basofil, ionofil dll dalam tubuh, dimana sel-sel tersebut pada dasarnya berfungsi `memakan` sel-sel abnormal dalam tubuh. Jika sel-sel tadi jumlahnya semain turun, maka diprediksi apa yang akan terjadi, yaitu peningkatan sel abnormal dalam tubuh yang manifestasi aikhirnya adalah akan timbul suatu penyakit. Secara ringkas, Ganner dalam BiokimiaHarper menyatakan bahwa kortisol menekan system imun (pertahanan tubuh) yang menyebabkan seseorang rentan terhadap penyakit.

Psikoneuroimunologi Dari Segi Sains

Modifikasi system imun pada saat stress Seperti yang telah dibahas di atas, bahwa ketika kita stress akan terjadi gangguan pada sel-sel tubuh kita, yang secara skematis bisa digambarkan sebagai berikut:

Stress
peningkatan hormone cortisol penurunan sel makrofag

(pemakan sel-sel abnormal) peningkatan sel abnormal
pertumbuhan myoplasma (tumor atau kanker) dan penurunan tingkat
kekebalan

Sekedar catatan, 1 sel makrofag akan memakan > 20 sel abnormal dalam
tubuh. Ini berarti jika ada 10 saja sel makrofag yang turun, maka
akan ada 200 sel abnormal yang muncul dalam tubuh kita. Perbandingan
yang cukup tajam, bukan?

Hubungan Kortisol dengan Tahajud

Kortisol dikeluarkan oleh kelenjarnya secara periodic, sehingga membentuk suatu irama yang disebut sebagai `Irama sirkadian`. Kadar kortisol tertinggi dicapai setelah tengah malam (dini hari) hingga siang hari. Pertanyaannya adalah bagaimana cara kita menurunkan kadarnya secara umum sehingga kita sehat dengan kekebalan yang tinggi? Kuncinya adalah: Tahajud!

Padasaat kita sholat tahajud, maka kita terbawa pada suatu kondisi emosional yang stabil. Kita akan lebih rileks dan kondisi psikologimenjadi lebih tenang. Penelitian yang dilakukan oleh Prof. Sholeh terhadap 41 responden siswa SMU
Luqman Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah, Surabaya menunjukkan bahwa pada pengamal sholat tahaud, kadar hormone kortisol relative stabil dan relative lebih rendah. Ketika diuji kadar system imunnya, diperoleh hasil yang bermakna pada uji statistic dalam kelompok tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sholat tahajud
berpengaruh terhadap peningkatan respon ketahanan tubuh imunologik. Sholat tahajud yang dilaksanakan secara kontinyu
(terus menerus/ berkesinambungan), khusyuk dan ikhlas mampu menumbuhkan persepsi dan motivasi positive dan memperbaiki suatu mekanisme tubuh dalam mengatasi perubahan yang dihadapi atau beban
yang diterima.
Dengan sholat yang lama, maka sel makrofag mencapai maksimal dan akan memakan sel abnormal lebih banyak.

Prof. Sholeh juga menyebutkan bahwa dengan sholat tahajud selama 2 bulan, akan menurunkan kadar kortisol, meningkatkan jumlah makrofag, basofil, ionofil dll, menurunkan jumlah sel abnormal dan akhirnya penyakit dapat sembuh. InsyaAlloh…

Jadi, marilah bersama-sama menunaikan tahajud agar hidup kita bisa lebih sehat, baik lahir maupun batin. Ayo!

Pekalongan,
13 Januari 2009

  • disarikan
    dari seminar Psikoneuroimunologi dalam ANTIBIOTIK 4

    UNISSULA, Semarang 20 Desember 2008, oleh Prof. Dr. H.M Sholeh
    Drs.MPD.PNI

  • buku
    pendukung: Super Health, Gaya Hidup Sehat Rosululloh. Egha Zainur
    Ramadhani. 2007:49-52 )