Setiap perjuangan harus disertai kesabaran!

Ya, dalam perjuangan penuh tantangan, dalam tantangan ada hambatan, dalam hambatan ada keganasan. Keganasan yang hanya bisa mati oleh kesabaran!

Begitulah kiranya arti sebuah kesabaran dalam tiap tetes pejuangan kita. Jika kita meninggalkan barang sedetikpun kesabaran itu, niscaya airmata yang akan mengalir di hati dan kekesalan yang akan merasuki jiwa.

Hakikat perjuangan sebenarnya sangat luas. Hampir di setiap aktivitas kita merupakan perjuangan. Perjuangan untuk hidup, perjuangan untuk kuliah, perjuangan untuk datang tepat waktu, perjuangan untuk dapat IP memuaskan, perjuangan untuk selalu naik tingkat, perjuangan untuk bisa beramal di lingkungan sekitar, perjuangan untuk bisa berbuat yang terbaik, bla-bla-bla…semua adalah perjuangan! Perjuangan yang harus dijalani dengan perjuangan juga!

Yah! Begitu besar makna sebuah perjuangan. Dengan perjuangan kita bisa menggapai yang terbaik. Dengan perjuangan kita bisa tetap tersenyum di kala hati menangis. Dengan perjuangan kita bisa bersemangat di tengah kelelahan. Dengan perjuangan, kita…Ah, begitu besar arti sebuah perjuangan.

Menyadari begitu besar nilai perjuangan, sudah seharusnya perjuangan itu mendapat hak tertingginya: kesabaran! Ibarat bunga dari tangkainya, perjuangan tidak akan pernah terpisahkan dari kesabaran (seharusnya). Bunga perjuangan, tangkai kesabaran. Sekali tangkai kesabaran itu layu, maka bunga perjuangan akan begitu mudah gugur dan berserakan di tanah gersang berduri. Mati!

“Aku terkadang menangis ketika ingat begitu berat perjuangan ini. tapi kesabaran telah menghiburku. Aku ingin tertawa ketika ingat begitu indah dan gemerlapnya perjuangan di dunia ini. Tapi kesabaran dengan lembut membelaiku dan berkata lirih: ada perjuangan lebih besar yang menanti di depanmu. Aku sering tertidur lelap terbuai mimpi tak karuan, tapi sekali lagi kesabaran itu dengan penuh kesabaran membangunkanku dari mimpi dan berkata: realita lebih tajam anakku”

Ramadhanku?

Ya Alloh…

tanpa terasa Ramdhan akan segera berakhir. tanpa terasa bulan yang begitu mulia akan segera meniggalkan hamba.

mungkin masih teringat ketika Sya`ban hamba bersuka cita menyambut Ramadhan dengan segala persiapan. dan ketika sampai pada 1 Ramadhan hamba melakukan Puasa wajib untuk hari yang pertama. rasanya nikmaat sekali. kemudian malam harinya hamba memperbanyak tadarus, berdzikir, dan sholat lail.

Tapi sayang, itu hanya hari pertama. karena hari-hari berikutnya berjalan sepeti biasa. seperti hari-hari yang lalu. seperti saat bukan Ramadhan. inikah yang disebut sebagai `anget-anget…ayam?`tapi seharusnya ini tidak terjadi dalam hal ibadah. apalagi id saat Ramadhan seperti ini. dimana pahala dilipatgandakan. tapi apalah jiwa ini, futur!!!

detik demi detik berjalan, jam demi jam berlalu, malam demi malam merayap dengan lembut. tak terasa, benar-benar tak terasa. seakan hamba terbuai oleh nikmatnya berbuka da melalaikan saat setelah berbuka itu.

hamba tak tahu apakah puasa ini sudah `puasa` secara utuh, ataukah hanya sekedar `puasa`? apakah ada nilai kesmepurnaan dalam puasaku sementara amalan sunah hanya dilipat dan diletakkan di bawah bantal?

seakan puasa hamba hanyalah puasa menahan lapar dahaga. hamba tidak pernah mempuasakan alat-alat indera, sehingga maksiatpun mesih senang hati mampir dan bersemayam dalam tiap sisi jiwa.

kini, ketika Ramadhan akan berakhir barulah hamba sadari, barulah hamba menyesali, bahwasanya hamba telah ketinggalan kereta `Kemuliaan Ramadhan`. bahwa hamba menangisi Ramadhan dan berbisik pada ILLAHI

“Ya Alloh…pertemukanlah kembali hamba dengan Ramadhan tahun depan, agar dapat ku tebus penyesalan ini!”

TENTANG ADAB MENUNTUT ILMU

 

 

MUTIARA-MUTIARA SEPUTAR ILMU

“Tuntutlah ilmu dari ayunan (bayi) sampai ke liang lahat”

“Katakanlah wahai Muhammad apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya hanya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”

“Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina”

“Ilmu itu cahaya kehidupan”

 

Begitu mulianya arti sebuah ilmu, hingga tidak sedikit ayat-ayat dan hadist yang membahas keutamaannya.

Siapapun Kita yang terlahir ke dunia ini pada hakikatnya adalah penuntut ilmu. Mengingat ilmu itu begitu luas, maka penuntut ilmu di sinipun memiliki arti yang luas pula. Khusus bagi para pelajar dan mahasiswa, menuntut ilmu secara kasar dapat diartikan sebagai proses menimba ilmu di bangku sekolah atau kuliah. Tentunya dalam proses menuntut ilmu tersebut kita tidak ingin ilmu yang kita dapat hilang dan tidak berefek pada kehidupan kita. Sebagai seorang penunutut ilmu, tentunya kita ingin apa yang kita pelajari dapat memberikan manfaat baik pada kehidupan kita maupun kehidupan orang di sekitar kita. Lalu apa yang mesti kita lakukan supaya ilmu tersebut tidak lari begitu saja? Berikut beberapa adab menuntut ilmu yang bisa kita lakukan:

1.                  Niatkan menuntut lmu hanya karena Alloh. Di dalam hadist arbain-nawawi telah disebutkan “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya”. Sehingga jika niat karena Alloh sudha kita pegang, InsyaAlloh setiap jalan menuntut ilmu yang kita lalui akan senantiasa terasa mudah.

2.                   Seringlah berdoa memohon diberi kecemerlangan hati, otak dan pikiran. Berdoa memohon ilmu yang bermanfaat. Karena doa memiliki kakuatan yang luar biasa terhadap kehidupan kita. Doa diartikan sebagai proses tawakkalnya kita setelah kita berikhtiyar (belajar).

3.                   Jadilah pendengar yang baik pada saat pembelajaran / perkuliahan. Dengan menjadi pendengar yang baik, maka InsyaAlloh ilmu yang kita serap pun akan lebih baik dan lebih membekas.

4.                   Be Active! Jadilah penuntut ilmu yang aktif dan memiliki semangat belajar tinggi. Jadilah pembelajar yang haus akan ilmu-ilmu sehingga kita terdorong untuk menanyakan dan mencari tahu sesuatu yang belum kita ketahui itu. Sering-seringlah bertanya kepada guru/ ustadz/ dosen, karena dengan sering bertanya ini kita telah mendapatkan tiga manfaat sekaligus. Manfaat pertama, kita menjadi tahu jawaban atas pertanyaan kita. Manfaat kedua, saudara/ teman-teman kita ikut menyimak jawaban yang diberikan dosen kepada kita, sehinga mereka yang tidak bertanya (dan belum tentu tahu) itupun turut mendapatkan ilmu dari jawaban dosen atas pertanyaan kita. Manfaat ketiga, secara tidak langsung kita telah menstimulus dosen/ guru untuk lebih kreatif dan belajar banyak untuk bisa menjawab pertanyaan kita. Selain aktif bertanya, hendaknya juga aktif membaca, mencari literature-literatur terkait ilmu yang kita pelajari.

5.                   Ikatlah ilmu yang kita baca atau yang kita dengar dengan menuliskannya dalam buku catatan. Hal ini akan lebih meningkatkan daya ingat kita dan lebih memudahkan dalam mencari sesuatu yang kita butuhkan.

6.                   Adab kepada Guru/ Dosen:

Seringlah berdoa kepada Allah memohon kebaikan bagi gurunya baik saat berjumpa dengannya ataupun pada saat dia tidak ada karena Nabi shallallhu `alaihi wa sallam bersabda:
”Siapa yang telah berbuat baik kepada kalian, maka balaslah kebaikannya. Apabila kalian tidak mendapatkan sesuatu untuk membalas budi kepadanya, maka doakanlah (memohon kebaikan) untuknya sehingga kalian berpendapat telah membalas budinya” (HR.Ahmad 2/68,Abu Daud 1672,Nasa`i 5/82,Bukhari dalam buku Al-Adab Al-Mufrad 216, Ibnu Hibban 3408, Al Hakim 1/412 dan 2/13, At-Thayalisi 1895 dan selain mereka dari hadist Abdullah bin Umar bin Khattab radhiallohu `anhuma). Derajat hadist itu shahih (Syaikh Ali Hasan)Kebaikan apakah yang lebih agung kalau bukan kebaikan berupa ilmu dan setiap kebaikan tidaklah langgeng kecuali kebaikan berupa ilmu, nasehat, dan bimbingan. Setiap perkara yang bermanfaat bagi manusia -yang sampai kepada seorang siswa atau yang lainnya- maka hal itu termasuk kebaikan dan amal jariyah bagi si pemiliknya. Seorang penuntut ilmu haruslah bersikap lemah lembut terhadap gurunya, sopan ketika bertanya dan janganlah bertanya kepada gurunya pada saat dia sedang gusar, atau dalam keadaan penat atau marah. Ini agar dia tidak mempunyai pemikiran yang menyalahi kebenaran pada saat kacau pikirannya, atau paling tidak nantinya akan memberikan jawaban yang kurang lengkap.

Apabila seorang penuntut ilmu mendapatkan gurunya berbuat kesalahan, maka janganlah menyebutkan kesalahan tersebut secara terus terang. Tetapi betulkanlah kesalahan dia dengan cara bertanya dan bersikap sebagai seorang siswa terhadap gurunya. Hendaklah hal itu dilakukan beulang-ulang sampai terang bagi sang guru mana yang benar, karena kebanyakan manusia apabila kita tegur langsung kesalahannya, kecil sekali kemungkinan untuk rujuk, berat bagi dia untuk mengakui kesalahan, kecuali orang yang telah menguasai dirinya dan menghiasinya dengan akhlak yang terpuji. Orang seperti ini tidak akan tersinggung apabila pendapat dia dikritik atau ditegur secara langsung. Akan tetapi tipe orang seperti ini jarang sekali. Hanya dengan taufik Allah lah, kemudian dengan melatih jiwa untuk menekan gengsi, barulah orang tersebut akan mempunyai jiwa besar dengan mengakui kesalahannya dan rujuk kepada kebenaran.

 

 

Demikianlah beberapa adab menuntut ilmu yang dapat kita amalkan dan sedikit kita ambil hikmah di dalamnya. Semoga kita tidak termasuk golongan penuntut ilmu yang merugi dan tidak mendapat apa-apa atas apa yang kita cari. Allaahu a`lam bisshowab.

By: Pelangi Nasima (0908)

Beberapa mengutip dari:

  1. Adab Menuntut Ilmu (Mardirahardjo, SPd.I dalam Pesantren mahasiswa STIKES Muhammadiyah Pekajangan, 14 September 2008)
  2. http://www.indonesiaindonesia.com/f/5931-syarat-adab-menuntut-ilmu-muslimah/