Untuk Lebaran

Bunyi bedug yang menggema diikuti lantunan takbir yang bertalu-talu menyemarakkan suasana pagi ini. Sebenarnya masih terlalu dini kalau dikatakan pagi. Adzan Subuh pun belum terdengar. Yach, baru pukul setengah empat pagi. Jujur aku masih malas untuk bangun dari tidurku. Apalagi angin yang bertiup kencang pagi ini, terasa semakin menusuk hingga ke tulang belulangku. Makum daerahku adalah pegunungan yang terletak sekitar 700 dpl. Sudah begitu, di belakang, disamping kanan kiri, hingga di depan rumahku, pohon-pohon besar berdiri dengan kokohnya. Duh, lengkap deh, membuat aku betah mendungkul di ranjang lama-lama. Apalagi selimut ‘tiger’ku yang sudah hampir 4 tahun ini, makin terasa anget. Tidur lagi ah, siapa tahu mimpi ketemu idola.

“Nduk, kamu nggak akan ikut sholat Id tha? Bapak sama Imin sudah pergi ke masjid lho,” kata-kata ibu tiba-tiba membangunkanku kembali.

“Iya, bu,” sahuku lemas.

Yach, begitulah ibu. Ada aja kata-kata yang beliau lontarkan untuk memerintahku secara tak langsung. Termasuk untuk membangunkanku.

Aku turun dari ranjang tidurku. Dengan langkah setengah malas aku menuju ke pintur dapur. Kusandarkan tubuhku di kaki pintu sembari memperhatikan apa yang sedang ibu kerjakan. Dapat kulihat, dengan begitu cekatannya, ibu mengangkat ketupat-ketupat yang telah matang dari dalam panci. Kemudian menggantungkannya pada paku-paku besar yang sengaja dibuat untuk cantelan itu.

“Bu, apa ibu tidak lelah. Dari tadi malam, ibu nampaknya tidak istirahat?” tanyaku kemudian.

“Lelah?, tentu saja tidak. Lagi pula siapa bilang ibu tidak istirahat. Tadi malam ibu tidur mulai jam sebelas, baru kemudian bangun lagi pukul dua tadi. Kamu saja yang nggak lihat ibu tidur,” jelas Ibu.

Aku hanya melongo. Ih, malunya. Ibu semalam tidur hanya 3 jam, eh anaknya malah 8 jam sendiri. Dasar kebo! Eh manusia ding.

Aku pun beranjak ke kamar mandi.

“allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, laa ilaa haillallaahu Allaahu Akbar. Allaahu Akbar walillaahilmandu”. Suara takbir semakin kencang. Aku semakin mempercepat pekerjaanku. Kukeluarkan semua yang telah dipersiapkan dari kemarin. Yang pasti yang kata ibu untuk lebaran. Aku ingat ketiga tiga hari lalu ibu pesan itu padaku.

“Zah, ini toples dicuci semua ya, untuk lebaran nanti biar kelihatan bersih,” uh, padahal nggak harus lebaran kan memang semuanya harus bersih. Ibu saja yang tak memperhatikan itu.

Nggak hanya itu, waktu aku mau makan pakai piring yang disimpan di almaripun, ibu bilang nggak boleh, katanya buat lebaran besok. Sampai serbet makan baru pun turut buat lebaran juga. Yach, semuanya untuk lebaran!

“Zah, udah siap belum? Yuk kita berangkat ke Masjid!” ajak Ibu padaku. Beliau sudah tampak rapi dengan mukena barunya.

“Duh, duh, mukena baru nih? Untuk lebaran ya Bu? Tanyaku menggoda.

“Hus, jangan keras-keras. Pemberian Bu Hajah Hanifah kemarin. Sekalian…… untuk lebaran” Jawab ibu yang diiringi dengan senyuman. Uh, dasar ibu.

Aku pun segera mengenakan mukenaku. Meskipun tak baru, yang penting bersih. Untuk lebaran! Ha…… ha…… ha……

“Wassalaamualaikum warohmatullaahi wabarokaatuh”, ucapan salam diakhir acara pagi ini, menutup ritual yang diadalan hanya dua kali dalam setahun ini.

“Waalaikummussalaam warohmatullaahi wabarokaatuh,” jawab para jamaah serempak walau tanpa aba-aba. Kemudian dengan bersholawat, masing-masing jamaah yang semuhrim bersalam-salaman. Kadang air mata pun ikut mewarnai acara salam-salam itu. Aku jadi terharu. Apalagi bila sadar dosaku sudah lebih tinggi dari Mount Evereset, rasanya sedih dan menangis, hik, hik, hik……

seketika berbagai petasan mulai dinyalakan. Dari yang sebesar korek api, hingga yang sebesar tiang listrik (bukan tingginya lho!), dan dari yang bunyinya “Thar”, hingga yang bunyinya dor!!, semuanya membuat suasana terasa begitu beda dari biasanya..

Namanya juga tradisi, meski sudah dilarang untuk menyalakan petasan di sembarang tempat, tetap saja nggak bisa dicegah. Setiap tahun, pasti selalu rame oleh bunyi petasan.

Tak lama setelah itu, satu per satu jamaah meninggalkan masjid. Begitu juga aku dan ibu. Sedangkan Bapak dan Imin, adikku, langsung ke makam nenek untuk membersihkan sekitar makam.

Aku berjalan dengan perasaan tak menentu. Terasa ada sesuatu yang akan terjadi di lebaranku kali ini. Oh, kuharap ini hanya perasaanku saja. Termasuk dengan mas Hasby. Entah mengapa aku merasa begitu ingin bertemu dengan Mas Hasby. Memang kami belum lama saling tahu, dan aku juga tak pernah menduga kalau dalam waktu mendadak dia akan meminangku. Aku sempat tak percaya. Dan aku pun sempat nolak karena aku merasa masih belum siap dalam usiaku yang ke-19 tahun ini. Aku adalah remaja yang tak seberuntung yang lain. Setelah 3 tahun yang lalu aku lulus SMP, aku hanya duduk di rumah. Sebenarnya ngiri juga kalau lihat teman-teman sebayaku yang masih sekolah di SMA. Namun, syukurlah aku masih bisa merasakan bangku SMP walau tanpa memakannya. Sungguh aku sebenarnya masih terlalu muda. Aku pernah ngasih solusi pada Mas Hasby dengan jalan saling dekat dulu. Tapi, kata Mas Hasby itu sama saja mendekati zina, dan itu dilarang dalam Islam. Akhirnya ya……, aku terima saja keputusannya untuk meminangku.

Tapi, beberapa saat semenjak rencana itu ia sampaikan padaku, ia justru pergi ke kota. Katanya ia akan kembali saat menjelang lebaran. Namun yang membuat aku ragu, sampai sekarangpun ia belum datang. Dimana kau sebenarnya Mas?.

“Dorr!!” tiba-tiba suara Upi mengagetkanku.

“Apa-apan si Pi, kalau manggil yang bener dong. Nggak usah pakai nge-dor segala. Bikin kaget tahu!” cercaku.

“Eh ni anak, udah tiga kali aku panggil, kamunya nggak nengok-nengok. Lagi pula di jalan kok ngelamun sih. Untuk nggak ada banyak kendaraan. Dan mesti ingat ya neng, nih hari adalah Idul Fitri. So, kamu juga nggak perlu marah-marah kayak tadi dong”, ucap Upi membela diri.

Eh, benar juga kata Upi. Tanpa banyak komentar aku pun segera tersenyum dan mengulurkan tanganku padanya.

“Nah, gitu dong,” ucapnya seraya membalas uluran tanganku dengan salam erat.

“Eh Zah, kamu mau ikut keliling kampung nggak nanti?” tanya Upi. Aku berpikir sebentar.

“Ehm, maaf ya Pi, kayaknya aku nggak bisa ikut deh, soalnya aku sedang nunggu seseorang. Lagian biasanya juga orang-orang sekampung satu-persatu ke rumahku untuk nemui kakek. Sekali lagi maaf ya” ucapku pada Upi, rendah.

“Ya udah nggak apa-apa, kalau kamu ada acara, aku pergi dulu ya. Assalaamualaikum” salam Upi sambil ngeloyor pergi.

“Waalaikumussalaam,” jawabku.

Duh, untung dia nggak tanya nunggu siapa, kalau dia sampai tahu aku nunggu Mas Hasby, bisa gawat nih urusannya. Syukurlah.

Suasana kampung semakin sepi. Kebanyakan mereka pergi ke rumah keluarga yang paling tua. Aku juga seharusnya ke sana, ke Madendo, dimana orang tua Bapakku tinggal. Namun, sejak tadi pagi, aku semakin tak tenang. Tak banyak yang aku kerjakan. Setelah acara maaf-maafan bersama keluarga, aku hanya didalam kamar. Aku hanya berdiam diri. Aku sadar, seharusnya aku tak seperti ini. Hari ini adalah lebaran, Idul Fitri, hari yang suci. Tak sepantasnya kunodai dengan perasaanku yang gila ini. Tapi, aku juga tak bisa mengingkari kalau aku begitu mengharap kehadirannya. Hanya untuk sebuah kepastian, untuk sebuah kebenaran.

“Nduk, kamu jadi ikut ke Madenda atau tidak? Tinggal kita berdua. Semua keluarga sudah berangkat ke sana. Mereka nanti terlalu lama menunggu lho” suara ibu yang setia menemaniku terdengar dari balik pintu.

“Nduk, untuk lebaran nduk. Jangan diam terus dong. Cerita, ada apa dengan kamu?” ulang ibu ketika tak ada jawaban dariku. Aku pun beranjak. Kubukakan pintu kamar dengan pelan. Seketika tampak senyum ibu yang begitu indah menyapa wajahku.

“Bu, kapan Mas Hasby datang? Katanya menjelang lebaran mau datang? Kok sampe sekarang gak datang-datang”  tanyaku kemudian dengan nada rendah. Ibu nampak mengernyitkan dahi.

“Mas Hasby? Ya Allah nduk, maaf, ibu sampai lupa” ucap ibu seraya menempelkan telapak tangannya ke dahi. Seketika aku terheran. Kuikuti langkah Ibu dengan suatu kekuatan baru. Sempat kulihat warna lain di wajah beliau saat itu.

Tak lama kemudian, diambilnya sebuah amplop putih, bersih dari bawah lipatan-lipatan baju di almari. Aku semakin heran.

“Nduk, ini titipan buat kamu,” ujar ibu seraya menyodorkan amplop itu padaku.

Titipan? Titipan apaan?! Aku mulai berpikir.

Dengan cekatan segera ku buka amplop itu dan kubaca satu persatu isinya dengan teliti.

Pekalongan, 20 Ramadhan 1428 H.

Teruntuk : Adikku “Izah”

di Penantian

Minal aizin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin. Dik, Mas Hasby mohon maaf, bila selama ini adik telah banyak berharap dari mas. Itupun juga karena kesalahan Mas Hasby, mas akui itu. Itu karena keteledoran mas.

Dulu mas belum tahu siapa kita. Mas telah mencari tahu. Kuharap adik mampu menerima ini, qt saudara dik. Kalau adik belum paham dengan yang mas tuliskan ini, tanyakanlah kebenarannya pada ibumu. Beliau lebih tahu. Yang pasti kita tak boleh lakukan pernikahan itu, dik!

Mas juga tak pernah pergi ke kota. Mas hanya ingin menghindar darimu, hingga kutemukan cara paling tepat untuk kuceritakan pada adik semuanya.

Sekali lagi, maaf!

Wassalamualaikum wr. wb.

Dari : Mas Hasby

Tiba-tiba seluruh tubuhku bergetar karena kalimat yang cukup panjang itu. Kertas itu melayang dan tertiup angin pegunungan. Walau ku tahu itu tak mampu membiaskan perasaanku. Kutatap mata Ibu yang tampak teduh walaupun layu. Anggukan pasti Ibu menghantam perasaanku.

“Bu, siapa Mas Hasby, Bu?” tanyaku dengan mata yang mulai membendung air bening. Aku kecewa. Sungguh. Aku tahu tak ada lagi yang dapat mengobati luka kecewaku ini. “Bu, siapa Mas Hasby?!” ulangku bergetar.

“Mas Hasbymu adalah masmu juga Zah, dia kakakmu juga. Dia memang bukan lahir dari rahim ibu. Tapi, sejak usia 1 bulan hingga usia 3 tahun, ibulah yang menyusuinya. Hingga kemudian orang tuanya pindah ke tempat lain. Dan secara agama, kamu dan Hasby adalah muhrim, kamu tahu hukumnya pernikahan sesama muhrimkan nduk?” jelas ibu panjang lebar.

Aku hanya diam. Aku sudah dapat mencerna apa yang akan Ibu katakan. Aku dan Mas Hasby tidak boleh menikah! Tapi, kenapa mesti baru sekarang ibu katakan itu? Kenapa? Aku benci!!!

“Kamu tahu nduk, kapan surat itu datang?” tanyanya,

Aku menggeleng.

“Waktu itu Hasby kesini. Kebetulan kamu tidak di rumah. Lalu ibu ajak ia bercakap-cakap. Akhirnya ibu tahu latar belakang keluarganya. Ia pun saat itu sempat kaget dan tercengang waktu ia tahu bahwa ibulah yang menyusuinya. Ibu maklumi itu,” ungkap ibu.

“Kemudian beberapa hari setelah itu, ia kesini lagi serta ia titipkan surat ini pada ibu. Sekarang,…… kamu bisa mengerti kan nduk?” lanjutnya.

Aku masih terbenam dalam kekecewaan. Dia yang selalu kunanti ternyata tidak boleh menikahiku.

“Bu, tapi kenapa tidak Ibu sampaikan surat ini dari dulu,” tanyaku kemudian. Mencoba tuk mengurangi dan mengontrol perasaanku.

“Spesial. Hanya untuk hari ini. Untuk lebaran Zah!” jawab ibu singkat.

“Mas Hasby juga, tak pernah ceritakan ini sebelumnya. Sebelum aku lama menunggu hingga terasa bosan,” lanjutku mencoba menghibur diri.

“Untuk lebaran, dik,” tiba-tiba suara yang tak asing lagi di telingaku itu mengarahkan pandanganku dan Ibu ke arah pintu tengah.

“Mas Hasby!!,” ucapku setengah tak percaya.

Oh, tanpa sadar aku menitikkan air mata. Entah apa itu artinya. Tapi aku merasa bangga memiliki mas segagah dia.

Langkahku mendekat pelan, ke arahnya. Kini aku tak perlu lagi terlalu menundukkan pandanganku. Karena dia idamanku. Karena dia “my brother”. Sungguh indah lebaranku kali ini. Benar-benar indah!.

Aku tak perlu menangis

Karena tak memilikimu

Aku tak perlu membakar laut

Karena tak mendapatkanmu.

Aku pun tak perlu menangkap petir,

Dan meledakkannya di cermin hatiku

Karena aku sadar, hanya dalam maya

Mau milikku seutuhnya.

Namun aku rela.

Aku malu bila harus mematahkan asa

Hanya demi sebutir zarah di angan-angan

Aku malu bila harus mengais cinta

Dan memandang keindahan semu dimatamu,

Di setiap langkah tegap, bibir merah, kulit putih

Aku malu lakukan itu, karena q-ta miliNya.

Karena kuyakin, ada cinta terbesar menghampiriku

Tanpa perlu ku mengemis kepadaNya

Ada keindahan yang nampak jelas

Tanpa perlu ku mengorbankan nafsu jiwa

Ditulis dalam CerPeN. Leave a Comment »

Kata Orang Aku Mirip Nabi Yusuf?

Kali pertama membaca judul buku tersebut, yang langsung terlintas di dalam pikiran saya adalah “Seperti apa orangnya? Pasti luar biasa cakepnya!”. Dan ternyata bukan saya saja yang berpikiran demikian. Hampir setiap orang yang membaca sampul buku kumpulan cerpen penulis FLP Jawa Tengah (milik saya) ini, pikirannya langsung mengelana pada kisah klasik Nabi Yusuf dengan segala atributnya.

Yah, buku ini memang menarik. Tidak hanya dari segi judul dan perwajahannya saja, tetapi juga sekumpulan isi yang ada di dalamnya. Sehingga tidak berlebihan jika Joni Ariadinata menyebut buku ini dengan istilah ‘Kebun dan Taman’. Joni menyebutnya sebagai kebun karena kelima belas cerpen di dalam buku ini masing-masing menawarkan buah untuk dinikmati. Disebutnya dengan taman karena disamping menawarkan buah, kelima belas cerpen di buku ini juga menawarkan keindahan. Ya, perpaduan yang pas dan saling melengkapi dalam sebuah karya sastra. Kebun dan taman.

Ketika melihat keseluruhan isi buku ini, maka kita akan menyaksikannya sebagai warna lain FLP. Kenapa? Karena jika selama ini karya-karya FLP dikenal sebagai karya dakwah yang mengesampingkan nilai-nilai sastra dan sering mencantumkan nasehat-nasehat verbal dalam karyanya, maka di dalam KOAMNY ini kedua hal tersebut tidak kita jumpai apa adanya. Di sini mengandung arti bahwa FLP menyajikan karya dakwah dalam versi lain. Tanpa menggurui.

Sebagai contoh, mari kita tengok cerpen KOAMNY karya A. Adenata. Cerpen yang judulnya dijadikan sebagai judul utama buku ini, sekilas tampak biasa saja. Bahkan mungkin kita akan berkomentar “Kayak gak ada tema dan alur lain saja. Masa sih nyontek kisah nabi Yusuf beneran. Tema sama, alur juga sama persis. Klasik!” Tapi tunggu sebentar, lihatlah cuplikan KOAMNY berikut (yang membuktikan bahwa tema ini memang sengaja diracik secara apik. Bukan suatu ketidaksengajaan):

Tuan…! Zulaikha telah menggodaku seperti Zulaikha dulu menggoda Yusuf. Wanita-wanita tangannya tercincang ketika melihatku pada perjamuan makan, sama seperti wanita-wanita dulu melihat Yusuf tanpa sadar tangannya juga tercincang. Selanjutnya saya juga bisa mentakwilkan mimpi pejabat seperti Yusuf yang dulu mentakwilkan mimpi pejabat. Tuan…! Agar kisahku genap seperti Nabi Yusuf, aku punya permintaan”

“Apa itu. Sebutkan?”

“Aku ingin seperti Nabi Yusuf yang mendapatkan jabatan urusan keuangan agar bisa mencegah terjadinya krisis pangan.”

“Apa…?” sang pejabat kaget.

“Berani sekali Kau memintaku seperti itu. Siapakah Kau? Hingga berani meminta itu kepadaku!” sang pejabat marah.

“Aku Tuan. Aku yang mirip Nabi Yusuf!” Suaraku lantang.

“Apa! Kau mirip Nabi Yusuf. Bercerminlah dulu sebelum berkata!” bentak sang pejabat.

Dari sini kita bisa membaca apa yang mungkin ingin disampaikan oleh si penulis. Bahwa segala peristiwa/sejarah sebenarnya bisa terulang. Hanya saja terkadang manusia tidak mau belajar pada sejarah tersebut, sehingga akhirnya dia masuk pada kegagalan yang sama seperti masa lampau. Secara eksplisit A. Adenata juga menyebutkan, bahwa sesuatu yang terjadi berulang-ulang akhirnya akan semakin membekas dalam jiwa. Tuduhan `Mirip Nabi Yusuf` yang terus menerus menimpa tokoh `aku`, menjadikannya yakin bahwa si `aku` memang benar-benar mirip Nabi Yusuf. Cerpen ini cukup menarik, meskipun di akhir cerita penulis `berhasil` membuat bingung pembaca dengan ending terbukanya yang kurang mengena.

Kemudian, mari kita perhatikan cuplikan karya Aveus Har berikut:

Parjo menahan napas. Mendekat ke bibir ranjang. Dengan hati-hati diulurkan tangannya. Keahlian yang lama tidak digunakan kini masih bisa dia lakukan dengan sempurna. Gelang di pergelangan wanita itu telah berpindah ke sakunya.

Cukup.

Atau tidak sekalian kalung emas di lehernya?

Tidak. Parjo tidak mau serakah. Beberapa gelang emas ini cukup untuk membayar uang sekolah Ratmi. Cukup untuk beli sepatu Dudung. Dan sisanya bisa digunakan untyuk jajan anak terkecilnya yang masih balita.”

Apa kira-kira yang ingin ditunjukkan oleh Aveus Har? Yah, benar. Rasa cukup yang selalu ada dalam jiwa-jiwa manusia biasa. Yang penting keluarga bisa makan, anak bisa sekolah dan bisa jajan. Tidak lebih. Berbeda dengan orang-orang `atas`, yang selalu ingin lebih, lebih dan lebih. Di sini secara eksplisit juga tersampaikan bahwa segala sesuatu memang memerlukan keahlian. Termasuk kehalian mencuri.

Di lain paragraf, Aveus Har menuliskan:

Itu alasannya. Dia tak peduli toko tersebut mengambil keuntungan besar dengan harga penawarannya. Yang musti diperdulikan adalah istri dan anak-anaknya. Mereka butuh banyak uang untuk kehidupan yang lebih layak sebagai keluarga terpandang. Jabatan Kepala Sekolah adalah jabatan terhormat. Maka gaya hiduppun harus gaya hidup orang terhormat.”

Dalam cerpen berjudul `Maling` tersebut, Aveus Har mengajak pembaca untuk `membaca` ironi tentang keadilan di negeri ini. Tentang Maling yang kadang diartikan sempit oleh masyarakat. Tentang Maling yang tersembunyi di dalam kantor-kantor/ instansi dan `terdiamkan` saja oleh negara. Dan ironisnya, maling dan `maling`(baca:koruptor) itu menggunakan hasil uang curiannya untuk keluarga-keluarga mereka.

Selain dua prajurit pena di atas, ada prajurit-prajurit lain yang tidak kalah kreatif. Ada Afifah Afra dengan `Perjamuan Malaikat`nya yang mengingatkan kita pada tragedi kelaparan para jamaah haji beberapa waktu yang lalu. Ada Izzatul Jannah dengan `Sudah Mati`nya yang mengobrak-abrik pikiran kita tentang tokoh legendaris Soeharto nan multitafsir. Ada Titaq Muttaqwiati dengan `Elang Hilang Sayap`nya yang kental nilai islamnya. Ada Sakti Wibowo dengan `Battumi Anging Mamiri`nya yang kental nuansa Makasarnya. Khusus untuk Sakti Wibowo, saya agak kurang sepakat dengan pilihannya mengangkat nuansa Makassar. Rasanya agak kurang membumi mengingat antologi ini diterbitkan atas kerja sama FLP Jawa Tengah dengan Taman Budaya Jawa Tengah. Kenapa tidak mengangkat tema kedaerahan Jawa Tengah saja yang tentunya juga kaya warna? Kenapa tidak menulis dengan budaya Jawa Tengah saja? Atau mungkin Sakti Wibowo sudah lupa dengan etnik Jawa Tengah? Semoga saja tidak, seperti yang diungkapkan Afifah Afra dalam pengantarnya :”Ia tetap saja bangga sebagai wong Baturetno. Kalaupun cerpen yang ia tulis sangat kental rasa Makassar-nya, itu menunjukkan bahwa ia ternyata seorang yang gemar berselancar di area multietnik.”

Selain nama-nama yang sudah disebutkan di atas, ada juga Nassirun Purwokartun dengan `Agustus Tahun Depan`nya yang membawa kita pada wacana menunda, menunda, dan menunda. Ada Jazimah Al-Muhyi dengan `Barongan`. Ada M.N. Furqon dengan `Ziarah Batu`nya yang mengajak kita menengok pada zaman materialistik saat ini, dimana segala sesuatunya diukur dengan uang. Kemudian ada `Kerbau Pak Bejo`nya Rianna Wati yang meskipun di ending cerita, Rianna belum membawa konflik pada suatu penyelesaian (hingga pembaca sulit membaca apa yang diinginkan oleh penulisnya), namun cerpen ini cukup membuka mata kita tentang nilai sebuah harga diri dan perjuangan untuk hidup.

Di dalam `Jenmani untuk Ibu` karya Deasylawati P, kita diajak menyaksikan sebuah implementasi tentang `Surga di telapak kaki ibu`. Sardi, sang tokoh utama digambarkan sebagai lelaki yang merelakan waktu dan biaya yang besar untuk memenuhi keinginan ibunya, yaitu memiliki Tanaman Jenmani. Meskipun akhirnya Sardi tertipu karena ketidaktahuannya (tentang Jenmani), hingga uangnya dalam jumlah besar melayang, Namun kita trekesima dengan pengorbanan Sardi untuk Ibundanya tersebut.

Selain itu ada juga `Surat Buat Tuhan` karya Nashita Zayn, `Matahari Tergadai` karya Sunarno, `Bendera Bawang` karya Prana Perdana dan `Kyai Sanca wangsit` karya Kresna Pati.

Secara umum, dapat kita lihat bahwa nama-nama penulis yang tergabung dalam lima belas penulis KOAMNY ini adalah penulis-penulis besar Jawa Tengah yang karya-karyanya sudah malang melintang di dunia penulisan dan perbukuan. Hanya segelintir orang yang termasuk baru, yaitu tiga nama yang saya sebut terakhir tadi.

Kita semua maklum, bahwa semakin besar dan semakin dikenal nama penulis, maka semakin besar nilai tawarnya serta semakin tinggi harga jualnya.

Namun demikian, bukan berarti FLP hanya menampilkan nama-nama yang sudah besar saja dalam setiap antologinya. Karena yang namanya pengkaderan adalah membesarkan sesuatu yang kecil, dan mempertahankan serta meningkatkan sesuatu yang sudah besar.

Jadi, secara tidak langsung munculnya KOAMNY merupakan tantangan tersendiri untuk penulis-penulis FLP yang masih `kecil` untuk lebih gigih menulis, sehingga kelak muncul KOAMNY 2 dengan nama-nama penulis baru.

Sebagai penutup, saya katakan bahwa munculnya KOAMNY juga bisa menjadi bukti dan jawaban bagi kalangan pecinta buku yang anti label FLP, bahwa karya FLP juga memiliki nilai sastra yang kuat dan patut diperhitungkan. Bukan sekedar `karya sampah`. Jika ada beberapa titik yang perlu perbaikan, maka kita mengganggapnya sebagai buah dari pepatah `Tak ada gading yang tak retak`.(y2h/0908)

Pekalongan, 27 September 2008

Ditulis dalam UraIaN buku. 4 Komentar »