Negeri Dua PeriOde

Negeri Dua Periode

                                                Oleh : Siti Khuzaiyah

“Augh!!” Ical menyeringai. Kakinya tersandung hingga tersungkur di rerumputan kering.

“Uh, sial! Dimana aku?” Mata Ical terbelalak mengamati lingkungan sekitar.

”Ma, Pa, ko` pada ngilang semua?!” dipanggilnya mama dan papa yang tadi menggandengnya di eskalator Mall Citra.

Dia bangkit. Segera ia betulkan posisi tas punggungnya. Dengan bibir menyeringai menahan nyeri di kaki, bocah 11 tahun itu tertatih menjalankan tuibuh gemuknya.

”Oya, laptopku? Duh untung gak terbentur batu tadi,” ia memeriksa benda yang ada di dalam tas punggungnya.

”Hp ku?” tangannya merogoh ke saku celana ¾ yang dia kenakan.

”Uh, untung gak jatuh,” dia lega ketika benda mungil yang sudah jadi bawaan wajibnya itu masih ada di sakunya.

”Ko` bisa aku di hutan? Sepi. Sendiri lagi!,” batin Ical. Dia masih teringat setengah jam yang lalu dia baru saja sampai di Mall Citra bersama mama papanya. ”Kenapa sekarang di sini? Tersesatkah? Oh, gak mungkin. Di Mall gak ada arena bermain atau taman yang diset kayak hutan seluas ini. Mimpikah? Augh…gak mungkin juga!” Ical mencubit tangannya sendiri. Ingin sekali Ical menangis. Rasanya dia menjadi manusia paling malang. Di hutan sendiri, gak bawa bekal makanan dan minuman, hari hampir petang, suasana mengerikan, dan…

”Haah, orang hutan?!” Ical terbelalak ketika tak jauh di hadapannya dua ekor orang hutan bergelayutan di pohon pinus yang tidak terlalu tinggi. Dua pasang mata makhluk itu menatap tajam ke arah Ical. Dalam hati senang juga bisa lihat orang hutan tanpa harus ke Bonbin. Tapi…

”Liar gak ya? Ko` matanya gitu. Jangan-jangan dia gak kenal manusia? Jangan-jangan aku diterkam? Jangan-jangan…? waaahh…takut…” Ical terbirit menjauhi orang hutan. Belum jauh dia lari, langkahnya mendadak terhenti. Matanya terbelalak semakin lebar. Jantungnya berdegup semakin kencang. Nafasnya tersengal

”Harimau?!” dia tidak percaya. ”Sabar, sabar. Jangan lari,” batinnya menenangkan diri.

Di luar dugaan Ical, harimau loreng itu berjalan pelan ke arah Ical. Degup jantung semakin tidak karuan. Di kanan kirinya diliputi pohon pinus rindang dengan cabang-cabangnya yang rapat. Ical merapat ke pohon dan mencoba menggapai cabang terendah dari pohon itu, merayapi pohon, dan…

”Sluruut…” dia gagal memanjat pohon.

”Uh, bodoh! Manjat pohon aja gak bisa,” gerutunya.

Harimau tampak semakin dekat. Ical belum menyerah, dia kembali memanjat pohon pinus. Dan, ”Yup, berhasil,” cabang paling rendah berhasil dia  gapai. Tubuh tambunnya kini telah menduduki satu cabang pinus.

”Husy! Husy!Macan cantik, ayolah pergi dari sini,” dari atas pohon dia berusaha mengusir makhluk di bawahnya.

”Auuummm…” harimau menatap Ical ganas. Aumannya membuat gemetar tubuh di atas pohon itu.

”Auuummm…” harimau merapat dan mencakar-cakar batang pohon. Ical makin gemetar. Ia bermandi keringat.

”Ya Tuhan, tolong aku…, jangan biarkan aku mati dimakan harimau ini,” harapnya dalam hati. Ia pejamkan mata supaya tidak melihat mata ganas makhluk di bawahnya.

”Tak-tak, tik-tak-tak-tak, tak-tak-tik-tak-tik-tak, ” suara bambu dipukul mengagetkan Ical. ”Hm, apakah ada orang di sini?” batinnya.

”Ya Tuhan, semoga mereka bisa bantu aku,”

”Ayo, cepetan. Hari sudah sore. Bentar lagi petang! ” ajak segerombolan anak yang membunyikan bambu itu.

”Ayo kita kejar-kejaran. Yang lebih dulu sampai di kampung dialah yang menang,” ajak seorang anak yang lain.

”Ayo. Siapa takut?!” tantang yang lain. Tidak lama kemudian mereka berlari, berkejar-kejaran ke arah barat. Yah, mungkin kampung ada di sebelah barat. Dari atas pohon Ical memperhatikan langkah ramai anak-anak sebayanya itu.

”Hey, orang kampung! Ke sini dong! Tolong aku!” teriak Ical ke arah gerombolan anak tersebut.

”Auuumm…” suara harimau kembali membuat Ical deg-degan.

”Hey, anak kampung…”

 Anak-anak itu menghentikan larinya. Merasa tidak nyaman dengan sebutan anak kampung, segerombolan anak-anak itupun menatap marah ke arah Ical.

”Ayo kita lanjutkan lari. Buat apa peduli sama anak sombong kayak dia, ” perintah seorang kribo dari mereka seraya melirik sengit ke arah Ical.

”Orang Kini kali Ka! Pantes begitu. Ayo kita lari lagi,” imbuh seorang yang membawa panah bambu di tangannya.

”Yuk…” mereka ramai berlarian.

”Hey, dasar orang kampung! Bodoh! Kuno! Bawanya panah sama ketapel aja sombong! Gak mau nolong aku…!” teriak Ical yang merasa punya laptop dan Hp. Yach, Ical adalah anak Kini, anak modern. Siswa kelas 5 SD itu lahir dan besar di Kini. Mainannya adalah komputer dan play station. Komunikasinya dengan Hp. Buku catatannya adalah laptop. Kendaraannya adalah mobil. Yang dia panjat bukan pohon, melainkan tangga berjalan dan rumah bertingkat.

”Hik, hik, hik. Tuhan, malang benar nasibku. Kenapa Kau turunkan aku di negeri seperti ini?! Hik, hik…” Ical menangis. Dilihatnya harimau yang kini bersandar di pohon tepat di bawahnya. Ingin sekali Ical meloncat dari pohon dan segera lari kembali ke negerinya. Tapi mana mungkin. Jika ia meloncat, harimau akan kaget dan bukan tidak mungkin dia akan bangkit dan mengejar Ical. Sedangkan untuk turun perlahan, Ical butuh tenaga ekstra. Maklum, seumur hidupnya baru kali ini Ical memanjat pohon. Baru kali ini juga dia bertemu degan binatang seram di hutan belantara. Kalau mungkin orang-orang yang tinggal di sekitar hutan bisa menjinakkan harimau, Ical hanya bisa menjinakkan dirinya sendiri agar harimau tidak megejarnya lagi.

”Heng, heng, heng…heng, heng, heng….” tangis Icalpun meluncur. Matanya yang sipit ia pejamkan rapat-rapat agar tidak melihat mata harimau yang tajam menatapnya. Takut, khawatir, kesal, benci jadi satu. Ia pasrah.

”Aum, aum, aum…hKene hGhurah hRaja hswadoh ani. Ghoum…hKene hGhurah hRaja hSwadhoh Sheina,” suara bocah terdengar asing di telinga Ical. Ia terkaget.

”Aum, aum, aum…hKene hGhurah hRaja hswadoh ani. Ghoum…hKene hGhurah hRaja hSwadhoh Sheina, Ghaum…”

Ical segera membuka matanya. Isak tangisnya kini terhenti. Dilihatnya anak laki-laki sebaya dirinya dengan lihai menjinakkan si loreng. Dari mulutnya keluar kata-kata asing., kain yang melilit di kepalanya serta sebatang kayu kecil di tangan kanan memantapkan keberaniannya. Dengan lihai dan lembut dia berhasil menggerakkan harimau loreng menjauh dari pohon tempat Ical bertengger.

Wah, titisan dewa penyelamat darimana? Batin Ical. Hatinya lega. Degup jantungnya mulai teratur. Airmatanya dihapus cepat.

”Hay, orang kam…eh, dewa penyelamat. Terimakasih ya!” dengan binar mata yang memancar Ical berkata keras pada bocah di bawahnya. Senyumnya mengembang.

”Ya, tak apa,” bocah itu membalas senyum Ical. Tulus.

”Bantu aku turun dong!” pinta Ical pada bocah berambut keriting itu.

Yup!

”Makasih ya,” Ical mengusap celananya yang kotor.

”Oh ya, kamu siapa? Anak kam…Eh, maksudku, asli sini?”

”Ya, aku anak kampung. Kampung Dulu,” ucap bocah itu dengan senyum mengembang. Ical tidak enak. Tersinggung? Mungkin. Walau bocah itu tidak bermaksud menyinggung.

”Kenalkan. Aku Wiro. Asli anak kampung Dulu,” Wiro mengulurkan tangannya. Ical dengan cepat menyambut uluran tangan Wiro. ”Ical,” ucapnya.

”Kamu orang Kini ya?” Ical mengangguk malu.

”Oh…”gumam wiro. Icalpun tersenyum tipis.

”Ya, kenalkan, aku Ical dari negeri seberang. Hm, kita…”

”Sahabat?” Wiro menyela. Ical terdiam. Tidak disangka dia bertemu dengan orang primitif seperti Wiro. Kulit hitam, lusuh, bermain di hutan, dengan panah bambu dan ketapel, bertelanjang dada, berkendaraan egrang, dan tanpa alas kaki. Kemarin-kemarin sosok Ical hanya ia jumpai di siaran anak televisi seperti `si Bolang`, `Surat Sahabatku` dsb. Karena di kawasan Real Estate tempat dia tinggal, yang ada hanyalah anak-anak gedongan yang borjuis. Dia dan teman-temannya berawakan bersih, baju mentereng, bermain dengan tekhnologi dan berkendaraan mobil atau motor. Lapangan bermainnya bukanlah hutan melainkan lapangan luas, mal-mal, taman wisata, pantai wisata, Play Station, Warnet, Roal coaster, dll.

Sedangkan sosok seperti Wiro, di matanya adalah sosok kuno yang sangat tidak pantas untuk berteman dengannya. Yah, Ical aniprimitif!

”Hay Ical! Sahabat?” Wiro membuyarkan lamunan Ical.

“Iy, iya. Kita sahabat,” ical terpaksa. Yah, terpaksa bersahabat karena Wiro menawarkan itu padanya. Karena dia tidak punya orang lain di hutan ini selain Wiro. Walau hati Ical enggan menerima persahabatan ini.

Kenapa harus terpaksa, bukankah dia dewa penolong yang telah menyelamatkanku dari harimau tadi? Seharusnya aku berterimakasih dan mau bersahabat dengannya. Batin Ical.

”Yuk kita cari sungai!” ajak Wiro.

”Untuk apa?”

”Mandi. Badan kita kotor,”

Mereka berjalan cepat menyusuri hutan.

”Oya, kenapa kau bisa sampai di sini? Mana rumahmu?”

”Aku?”

”Ya,”

”Hm, rumahku di kota Kini. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa berada di sini,” Ical polos.

”Lho! Ko` bisa?” Wiro menyelidik. Ical angkat bahu.

”Kawan, yang aku dengar orang Kini itu jahat-jahat ya,” Wiro berkata datar.

”Ko`?” Ical heran.

”Iya. Kata bapakku, orang Kini itu senengnya bikin sesuatu baru yang gak peduli alam. Apapun dibuat seenaknya. Di Kini juga katanya hutan-hutan sudah langka. Sungai-sungai kotor. Udara kotor. Lautan kotor. Bumi Kini semakin panas. Langitnya tipis. Bener gak Cal?” Wiro menoleh ke Ical. Ical no comment.

”Orang Kini juga katanya sombong-sombong. Gak mau ingat sama warisan luhur nenek moyangnya,” lanjut Wiro. Ical berkernyit.

”Siapa bilang? Gak semua orang Kini gitu ko`!” Ical protes.

”Yah, paling satu dua orang aja yang gak gitu,”

”Oya, kabarnya di Kini juga sering ada bencana ya? Kata bapak kejadian banjir, longsor, kebakaran, badai dan gempa bumi jadi makanan sehari-hari orang Kini. Bener gak?” Wiro menginterogasi. Ical tak mampu protes. Ia mengangguk pelan.

”Hah, bersyukur aku terlahir di Dulu. Aman-aman…” Wiro mempercepat langkah egrangnya. Ical menarik ke atas sudut bibirnya, lucu.

Sepanjang jalan menuju sungai, Ical memperhatikan Wiro yang lihai berjalan di atas egrang. Ical kagum. Hebat! Sesekali Wiro berhenti ketika dilihatnya burung bertengger di dahan pohon. Dengan mata jeli dia menembak burung dengan ketapelnya. Ical takjub. Hebat! Tapi Ical heran ketika dilihatnya Wiro melepaskan kembali burung yang sudah berhasil dia ketapel.

”Ko` dilepas lagi Ro?”

”Iya, kasihan kalau aku bawa pulang, ntar cicit-cicitnya gak ada yang ngasih makan. Cuma latihan ngetapel biar lihai aja Cal,”

”Oh…”                                                                                                    

”Tuh sungainya sudah dekat. Ayo kita siap-siap mandi!” ajak Wiro ketika tiba di tepi sungai berbatu yang alirannya tidak terlalu deras.

”Mencebur?” ical heran.  

”Ya!”

”Oya, kalau kamu ingin berak, di sungai yang bawah ya,”

Ical tertegun. Hi…mana mungkin! Aku tidak terbiasa berak di tempat kayak begini. Mending nanti saja, nunggu barangkali nemu WC. Batinnya.

Gak apa-apa ko`. Daripada di jamban kampung, baunya, huek!” Wiro menjelaskan dengan mimik lucu.

Akhirnya Ical yang memang ingin berak dari tadi, terpaksa mengeluarkan kotorannya di sungai bagian bawah. ”Hey, asyik juga ya Ro. Gak perlu nyiram, dah langsung hanyut!” Ical cekikikan duduk berendam di sungai. Tidak lama kemudian mereka berceburan di sungai. Saling lempar butiran air murni sungai hutan.

”Hey, Cal, ini sabunnya,” Wiro melemparkan batu keset sebesar kepalan tangan ke arah sahabat barunya. Dengan sigap Ical menangkap.

”Sabun?”

”Ya, digosok-gosok…” Wiro menjelaskan dengan mempraktikkannya.

”Ha? Kayak Didi kempot ya Ro. He..he..” Kosokan watu neng kali nyemplung reng kedung…

Asyik juga jadi anak Dulu. Bebas bermain di luar, nyemplung ke sungai, gak dikejar mama papa yang overprotektif. Gumam Ical.

Selesai mandi mereka yang tidak bawa handuksegera loncat-loncat menjatuhkan butiran-butiran air dari tubuh mereka. Tidak lama kemudian, Ical mengeluarkan benda mungil dari dalam saku.

”Apa itu?” Wiro antusias.

”Ini?” Wiro mengangguk. ”Handphone,”

”Oh, hempon,”

”Wuih, keluar bunyinya!”

”Yah, gak ada sinyal!” Ical mengibaskan Hp nya.

”Apa? Sandal? Wiro memang tidak biasa pake sandal Ical,” Wiro tanggap. Ical melongo.

Wiro menjinjing tas punggung Ical. ”Berat banget. Isinya apa Cal?” selidiknya.

”Buka aja!” perintah Ical. ”Wow, kotak apaan ini?” Wiro penasaran.

”Itu? Laptop!”

”Oh…leptop” Wiro mengangguk antara bingung dan takjub.

”Oya, aku punya permainan asyik loh!” Ical mengambil laptop dari dalam tas. Dibukanya beragam game favoritnya: Onet, Pinball, Rally, Spider Solitaire, dll.

”Wuih, kotak ajaib Cal! Ada gambarnya. Ih, ada suaranya juga!”Wiro takjub. Dielus-elusnya laptop Asus terbaru Ical. Mereka asyik bergame ria. Walau Wiro Cuma bisa lihat-lihat dan jerit-jerit takjub. Sesaat kemudian ditunjukkan oleh Ical foto kota-kota terkenal di dunia, foto 7 keajaiban dunia, tekhnologi, dan gambar-gambar yang berhubungan dengan IPTEK sembari menceritakan sedikit hal yang diketahuinya tentang gambar dan foto-foto itu. Ical bangga bisa berbagi,  walau dalam hati ia heran juga pada Wiro yang geleng-geleng saking takjubnya. He..he..kayak gak pernah lihat aja nih anak. Batinnya.

”Hebat-hebat. Orang Kini memang pinter dan hebat ya. Punya kotak ajaib yang hidup!” komentar Wiro.

”Yang hebat bukan orang Kininya Ro, tapi mereka yang membuat Kotak ini. Kalau kamu disuruh milih, pinginnya jadi yang mana? Yang membuat atau yang punya laptop?”

”Hm…yang mbuat dong. Kan tidak semua orang yang punya laptop bisa mbuat laptop. Tapi kalau yang mbuat, sudah tentu dia punya. Iya kan?”

”Yup, kamu hebat Ro. Mau jadi produsen laptop. Ha..ha..ha..” Ical menepuk-nepuk pundak Wiro.

”Kawan, sepertinya hari makin petang. Mari kita pulang, ” Wiro mengamati lingkungan sekitar.

”Ya, tapi kemana aku pulang? Aku tak tahu jalan yang benar untuk pulang ke rumah,”

”Tenanglah kawan, rumah kita luas. Rumahmu tidak hanya di rumahmu,” ujar Wiro. Ical berkernyit dahi. ”Maksudnya?”

”Hm…kita ikuti jalan ini saja. Sebelah barat sana ada kampung. Kampungku, kampung kita!”

Ical mengikuti langkah Wiro yang berjalan di atas egrang.

Belum jauh berjalan, Wiro menghentikan langkahnya dan segera turun dari egrang. Matanya menatap tajam pada segerombolan orang yang berjalan di hutan. Dua orang diantaranya menjinjing senapan berlaras panjang. Sorot matanya mencari-cari binatang buruan yang menjadi sasarannya. Senapannya siap meluncurkan peluru jika buruan itu sudah menampakkan diri. Dua orang yang lain menghisap rokok dan segera membuang sisa puntungnya ke rerumputan yang kering. Wiro tidak percaya.

”Dor!” bunyi senapan itu memekakkan telinga.

”Krasak-krasak. Bruk!” seekor burung terkapar jatuh ke tanah.

”Dor!” peluru kedua kembali meluncur. Seekor kijang terkena peluru itu, namun ia berhasil melarikan diri dari kejaran pemburu.

”Cal, orang-orang Kini itu akan merusak rumah kita!” seru Wiro.

”Dasar orang Kini! Perusak! Penjahat!” Wiro kesal. Dilemparkannya egrang ke tanah. Dia berlari ke arah pemburu.

”Wiro, tunggu! Kau mau ke mana?” teriak Ical. Wiro tak berkutik.

”Ro, jangan tinggalkan aku sendirian…Aku tak tahu harus pulang kemana! Aku takut Ro!” teriak Ical lagi. Wiro berhenti dan membalikkan tubuhnya ke arah Ical.

”Pulanglah ke rumahmu Cal! Pulanglah ke seberang! Rumah kita di sini tak seaman dulu Cal!” seru Wiro.

”Tapi Ro, aku tidak mungkin…” kata-kata Ical terhenti. Tenggorokannya tercekat ketika disaksikannya beribu burung berjatuhan ke tanah. Terkapar, mati. Sejurus kemudian, angin hutan bertiup perlahan, menyalakan puntung rokok di rerumputan kering. Api kecil itu kini berubah menjadi lidah merah yang berkobar. Nyalanya menerangi hutan yang hampir petang. Yah, kebakaran!

 Ical tidak percaya. Ia lari menyusuri hutan tak tentu arah. Ia ingin mencari rumahnya. Namun tubuh tambun itu tak bisa berkutik ketika kecepatan larinya kalah cepat dengan jilatan api yang kini mengenai tubuhnya.

”Augh…Tidak…Panas…” ia menjerit. Tubuhya meringsut menahan nyeri dan panas yang membakar. Seketika Ical merasakan sentuhan lembut menyeka wajahnya.

”Anakku, syukurlah kamu sudah sadar. Tadi kamu terjatuh dari eskalator Mall Citra!” seorang wanita setengah baya tersenyum girang. Segera ia nyalakan AC dengan freonnya untuk mendinginkan udara di kamar bernuansa biru itu.

”Sudah tidak panas kan nak?” tanyanya.

Ical terdiam. Matanya menerawang jauh ke jendela mata mama, ke atap kamar yang biru, ke langit tipis yang tidak lagi biru!

Orang Kini. Orang Dulu! Batinnya.

Pekalongan, 6 Februari 2008

Foot notes:

-          egrang : mainan dari bambu dengan bagian khusus untuk tempat menapakkan kakinya. Mainan ini digunakan dengan cara menaikinya untuk berjalan. Biasanya egrang terdiri dari dua buah (sepasang, kanan-kiri)

-          Freon: merupakan bahan pendingin udara yang diketahui sebagai penyebab menipisnya lapisan ozon di atmosfer bumi. Semakin tipis ozon, semakin panas suhu bumi dan semakin tinggi permukaan laut= (efek rumah kaca)

Ditulis dalam AnAk-anak. Tag: . Leave a Comment »

Ujian Akhir

Bocoran dari Pak De

Oleh: Siti Khuzaiyah

Jadwal ujian akhir kelas 6 sudah diumumkan. Entah kenapa, tiba-tiba Doni merasa takut dengan ujian yang akan berlangsung.. apalagi selama ini Doni tergolong siswa yang malas belajar. Sepulang sekolah ia lebih senang bermain dengan teman-teman sekelompoknya. Saat malam tiba ia juga lebih memilih menonton TV daripada belajar. Padahal sudah berkali-kali Ibu dan Bapak mengingatkan Doni untuk giat belajar, tetapi dia selalu menolak dengan berbagai alasan.

“Nak, belajar sayang. Biar nilai di raportmu bisa lebih baik,” pinta Ibu pada suatu ketika.

“Ah, ibu. Masa Doni harus belajar terus. Kan tadi sudah belajar bersama teman-teman di kelas,” kilah Doni.

“Iya nak, ibu tahu. Tapi walaupun sudah belajar di kelas, kamu harus mengulang pelajaran itu di rumah. Biar ilmu yang didapatkan dari kelas tidak hilang begitu saja,” terang Ibu sembari menepuk pundak putra satu-satunya..

“Iya, iya Bu!” Doni tampak malas. Mulutnya mengatup maju.

“Ingat lho nak, tugas utama seorang siswa adalah belajar. Bukan bermain atau menonton TV saja!” tegas Ibu seraya berlalu meninggalkan Doni yang sedang asyik dengan tayangan TV favoritnya.

“Huh, Ibu. Sebel!” gerutu Doni.

***

“Dor!” Ryan mengagetkan Doni dari belakang.

“Yan! Mengagetkan saja!” Doni tidak terima dengan ulah sahabatnya.

“He..he..maaf,” ucap Ryan.

“Doni, kamu kenapa? Dari tadi ko` diam saja,” tanya Bimo yang berdiri di samping Ryan. Sejenak Doni diam.

“Sahabat, kenapa tiba-tiba aku ko` merasa takut…” ucap Doni pada Ryan, Bimo dan Uncup yang berada di depannya.

“Takut kenapa? Takut dimarahi Bu Tuti lagi?” Ryan kaget. Memang selama ini Doni dan kelompoknya yang terdiri dari Ryan, Bimo dan Uncup seringkali membuat ulah. Mereka sering tidak ikut pelaajran di kelas karena asyik memancing di Pantai Pasirsari atau bermain playstation. Hampir setiap ulangan ia mendapatkan nilai 2, 3 atau 4. Karena alasan inilah mereka sering dipanggil bu Tuti, guru BK di SD 10 Pekalongan tersebut. Sebenarnya bu Tuti tidak pernah memarahi mereka. Beliau hanya mengingatkan lebih tegas bahwa tugas utama seorang pelajar adalah belajar. Tidak hanya bermain dan santai-santai saja. Beliau juga mengingatkan bahwa jika mereka tetap tidak mau belajar, masih senang membolos, dan nilai ulangan mereka masih 2, 3 atau 4, maka bisa jadi mereka tidak lulus ujian akhir. Dengan kata lain mereka tidak dapat melanjutkan ke SMP.

“Hm, tidak. Siapa bilang aku takut dimarahi bu Tuti? Aku takut karena sebentar lagi kita ujian,” terang Doni kemudian.

“Oh, lalu kenapa Don?” tanya Bimo penasaran.

“Aku takut tidak lulus Bim. Aku takut tidak bisa mengerjakan soal ujian. Selama ini kan kita tidak pernah belajar,” Doni lemas. Ia merasa kecewa karena selama ini ia selalu menolak setiap kali diingatkan ibu untuk belajar.

“Ting! Aku punya ide,” tiba-tiba Uncup berujar dengan mata berbinar.

“Ide apa?” yang lain penasaran. “Begini, Don. Pak De kamu kan kepala sekolah di SD kita. Kenapa kamu tidak minta bocoran soal ke beliau saja? Dengan begitu kita akan mudah mengerjakan soal waktu ujian nanti,” Uncup menjelaskan. “Wah, ide bagus Cup! Kenapa dari tadi aku tidak berpikir sampai kesitu ya?” Doni girang. Sekarang ia punya tenaga baru. Ketakutan akan ujian akhir seketika hilang. Doni berharap pak De Firman bisa memberikan bocoran soal ujian untuk keponakannya ini. Pasti beliau kasihan padaku. Mana mungkin seorang pak De rela melihat keponakannya tidak lulus ujian? Batin Doni.

“Kapan kamu mau ke rumah pak Firman, Don?” tanya Ryan. Doni berpikir sejenak.

“Besok aku ke sana. Nanti kalian menemani ya,”

“Baiklah. Tapi kalau nanti kamu dapat bocoran soal, kita diberitahu ya,” pinta Ryan.

“Baiklah,” Jawab Dino.

***

“Assalamualaikum…” ucap Dino setelah tiba di depan pintu rumah pak Firman.

“Walaikumsalaam..” jawab Bu Ina, istri pak Firman. “Oh, nak Doni dan temannya. Ada apa ya nak?” tanya Bu Ina.

“Kami ingin ketemu pak De, bu De…” jawab Doni.

“Oh, mau ketemu pak De. Sebentar ya, bu De panggilkan dulu. Silahkan duduk,” bu De mempersilahkan duduk seraya masuk ke ruang tengah memanggil pak De.

“Oh, Doni. Ada apa nak?” pak Firman menghampiri mereka berempat. Ryan, Uncup dan Bimo tampak gugup. “Begini pak De, kami mau minta bocoran soal ujian akhir,” Doni memberanikan diri.

“Bocoran soal ujian?” pak Firman tampak kaget.

“Iya pak De, karena sebentar lagi ujian. Doni dan teman-teman takut pak De,” ungkap Doni.

“Kenapa harus takut nak? Bukannya ujian itu hal yang wajar?” pak Firman heran.

“Kami takut karena selama ini kami tidak pernah belajar. Kami takut tidak lulus pak De,” lanjut Doni dengan suara pelan. Ketiga sahabatnya menggangguk pelan. “Pak De kan Kepala Sekolah, pasti bisa dengan mudah mendapatkan bocoran soal ujian itu,” Doni berujar seakan memohon supaya pak De nya berkenan memberikan bocoran soal ujian yang ia harapkan. Pak Firman hanya diam. Beliau tersenyum menatap raut wajah empat anak di depannya. Sejenak kemudian beliau ijin ke dalam. “Sebentar ya nak, pak De ambilkan bocoran soalnya,” ungkap pak Firman dengan senyum penuh wibawa. Tidak lama kemudian pak De kembali ke ruang tamu dengan menggenggam kertas putih yang dilipat rapi.

“Anak-anakku, bocoran soal itu ada di kertas ini. Kalian pelajari dengan baik ya,” ucap pak Firman seraya menyerahkan kertas tadi pada Doni.

“Terimakasih pak De,” Doni girang. Tidak kemudian mereka berpamitan pulang. Pak Firman tersenyum sembari menggeleng-gelengkankan kepalanya “Dasar anak-anak nakal,” gumam beliau.

***

Doni dengan cekatan membuka lipatan kertas. Dia kaget dengan tulisan di kertas tersebut. Sahabat-sahabatnya  yang berdiri mengelilinginya juga tampak tidak percaya. Mereka membaca lirih tulisan singkat itu hampir bersamaan:

 Kalau ingin lulus ujian akhir, kalian harus rajin belajar! Tidak ada yang bisa membantu kalian untuk lulus kecuali kalian sendiri. (pak De-Kepala Sekolah)

Mereka saling berpandangan. Wajah Uncup, Ryan dan Bimo tampak kecewa. Sedangkan Doni sebaliknya. Dia justru merasa bangga pada pak Firman yang bijaksana. Sejak saat itu Doni berjanji akan mulai belajar dengan giat supaya saat ujian nanti dia bisa lulus dengan usahanya sendiri. “Sobat, tidak ada kata terlambat untuk belajar kan?” Doni tersenyum kepada ketiga sahabatnya. Terimakasih pak De. Batin Doni. 

                                                                                                            Pekalongan, 13 Maret 2008

Ditulis dalam AnAk-anak. Tag: . Leave a Comment »

Adik-adik Mau Ujian…? yuukk…

Sambut Ujian Dengan Gembira

Oleh: Siti Khuzaiyah

Adik-adik, waktu ujian akhir sekolah sudah semakin dekat. Tentunya ada banyak hal yang harus dipersiapkan untuk menyambut ujian tersebut. Berikut kakak berikan kiat-kiat suksesnya:

  1. Jaga Kesehatan

Menjaga kesehatan penting dilakukan. Apalagi pada saat-saat menjelang ujian seperti ini. Resep praktisnya yaitu dengan makan teratur, perbanyak minum air putih, perbanyak istirahat dan jangan sampai terlalu lelah. Jika adik-adik merasa tidak enak badan, segera beritahu ibu/ keluarga supaya segera mendapatkan pertolongan pertama. Jangan sampai kalian terlalu lelah menyiapkan ujian, hingga akhirnya sakit dan justru tidak bisa ikut ujian. Sayang kan? 

  1. Rapikan Buku dan Catatan

Melengkapi buku dan merapikan catatan hendaknya dilakukan paling tidak dua bulan menjelang ujian. Kalau masih ada catatan yang kurang lengkap, bisa meminjam teman kita yang catatannya lebih lengkap. Catatlah dengan rajin dan mudah dibaca, biar adik-adik lebih mudah saat belajar.

  1. Buat Rangkuman Materi

Membuat rangkuman materi akan memudahkan kita dalam memahami pelajaran. Misalnya saja, materi pelajaran yang kita dapatkan dari sekolah setebal 100 halaman. Kalian bisa meringkasnya dengan memilih mana materi yang penting untuk dibuat dalam catatan kecil yang lebih ringkas. Hal ini akan memudahkan kita dalam belajar.

  1. Jangan Hanya Menghafal, Tapi Harus Dipahami

Dengan memahami kita akan lebih mudah mengingat materi yang kita pelajari. Sedangkan kalau kita hanya menghafal, materi itu akan mudah hilang dari ingatan kita.

 

  1. Belajar Secara Rutin dan  Berkesinambungan

Belajar sedikit demi sedikit secara rutin (setiap hari) akan lebih baik daripada belajar banyak tapi hanya sekali saja.

Dengan belajar sedikit tapi terus-menerus kita akan merasakan bahwa belajar itu sebenarnya mudah.

  1. Perbanyak Latihan Soal

Dengan banyak latihan, soal-soal yang tadinya terasa sulit akan menjadi mudah untuk dikerjakan. Soal-soal bisa kalian dapatkan dari buku kumpulan soal-soal ujian akhir. Atau kalian bisa minta soal-soal ujian tahun lalu kepada guru kelas. Guru kelas akan dengan senang hati memberikan soal-soal tersebut kepada muridnya.

  1. Jangan Malu Bertanya

Malu bertanya sesat di jalan.

Kalau adik-adik masih merasa bingung atau kesulitan dalam memahami suatu pelajaran, coba tanyakan pelajaran itu kepada guru yang bersangkutan. Atau kalau adik-adik mengalami kesulitan itu saat belajar di rumah, coba tanyakan pelajaran itu kepada bapak, ibu, kakak atau siapa saja yang ada di rumah. Mereka akan dengan senang hati menjelaskan permasalahan yang kalian hadapi.

  1. Hindari Cara Belajar Semalam Suntuk

Belajar semalam suntuk akan membuat adik-adik lemas. Selain itu materi yang dipelajari juga tidak akan bisa dipahami dengan baik.

  1. Ciptakan Suasana Belajar yang Menyenangkan

Misalnya adik-adik senang dengan suasana taman atau sawah, maka tidak ada salahnya kalian belajar di taman ataupun sawah itu. Atau kalian bisa mengganti posisi meja belajar supaya tidak membosankan. Usahakan untuk selalu menikmati saat-saat belajar kalian, sehingga kita tidak merasa jenuh dan suntuk saat belajar. Kalau perlu ganti lampu di meja belajar dengan lampu yang lebih terang, biar mata kita tidak sakit saat membaca.

  1. Minta Doa Restu Ibu dan Bapak

Katakanlah kepada Bapak dan Ibu : “Pak, Bu, sebentar lagi adik ujian. Doakan ya supaya adik lulus dengan nilai yang baik,”

Ibu dan Bapak akan merasa senang mendengar permintaan kalian dan mereka akan dengan senang hati mendoakan supaya kalian lulus dan sukses. Doa mereka lebih mudah dikabulkan lho dik. Senang kan dapat doa restu dari orang tua?

  1. Minta Dukungan Kakak, Adik dan Keluarga yang Lain

Katakan kepada mereka : “Pak, Bu, Kak, Dik, Budi sebentar lagi ujian. Bantu Budi untuk belajar ya… Kalau Budi belajar seharian di kamar dan tidak membantu pekerjaan rumah jangan dimarahi ya. Oya, adik juga jangan mengganggu kalau kakak sedang belajar…” Dengan cara seperti ini keluarga akan memahami kesibukan belajar kalian dan kalian akan merasa lebih nyaman saat belajar.

  1. Jangan Lupa Berdoa

Setelah kita berusaha, jangan lupa berdoa : “Ya Allah, berikanlah kecemerlangan hati, kecemerlangan otak, dan kecemerlangan ingatan agar hamba dapat dengan mudah memahami ilmu-Mu.” Atau berdoa: “Ya Allah, Permudahkanlah segala urusan hamba dan berikanlah hamba ilmu yang bermanfaat” Amiin.

Dengan berdoa setiap usaha dan belajar kita akan terasa lebih mudah.

Terakhir, kakak ucapkan Selamat belajar dan menempuh ujian akhir. Semoga kalian lulus dengan nilai yang memuaskan dan bisa melanjutkan ke sekolah yang kalian harapkan. Dan kelak bisa menjadi orang-orang yang sukses. Semangat ya Dik!

                                                                                                Pekalongan, 13 Maret 2008

Ditulis dalam AnAk-anak. Tag: . 2 Komentar »