Untuk Lebaran

Bunyi bedug yang menggema diikuti lantunan takbir yang bertalu-talu menyemarakkan suasana pagi ini. Sebenarnya masih terlalu dini kalau dikatakan pagi. Adzan Subuh pun belum terdengar. Yach, baru pukul setengah empat pagi. Jujur aku masih malas untuk bangun dari tidurku. Apalagi angin yang bertiup kencang pagi ini, terasa semakin menusuk hingga ke tulang belulangku. Makum daerahku adalah pegunungan yang terletak sekitar 700 dpl. Sudah begitu, di belakang, disamping kanan kiri, hingga di depan rumahku, pohon-pohon besar berdiri dengan kokohnya. Duh, lengkap deh, membuat aku betah mendungkul di ranjang lama-lama. Apalagi selimut ‘tiger’ku yang sudah hampir 4 tahun ini, makin terasa anget. Tidur lagi ah, siapa tahu mimpi ketemu idola.

“Nduk, kamu nggak akan ikut sholat Id tha? Bapak sama Imin sudah pergi ke masjid lho,” kata-kata ibu tiba-tiba membangunkanku kembali.

“Iya, bu,” sahuku lemas.

Yach, begitulah ibu. Ada aja kata-kata yang beliau lontarkan untuk memerintahku secara tak langsung. Termasuk untuk membangunkanku.

Aku turun dari ranjang tidurku. Dengan langkah setengah malas aku menuju ke pintur dapur. Kusandarkan tubuhku di kaki pintu sembari memperhatikan apa yang sedang ibu kerjakan. Dapat kulihat, dengan begitu cekatannya, ibu mengangkat ketupat-ketupat yang telah matang dari dalam panci. Kemudian menggantungkannya pada paku-paku besar yang sengaja dibuat untuk cantelan itu.

“Bu, apa ibu tidak lelah. Dari tadi malam, ibu nampaknya tidak istirahat?” tanyaku kemudian.

“Lelah?, tentu saja tidak. Lagi pula siapa bilang ibu tidak istirahat. Tadi malam ibu tidur mulai jam sebelas, baru kemudian bangun lagi pukul dua tadi. Kamu saja yang nggak lihat ibu tidur,” jelas Ibu.

Aku hanya melongo. Ih, malunya. Ibu semalam tidur hanya 3 jam, eh anaknya malah 8 jam sendiri. Dasar kebo! Eh manusia ding.

Aku pun beranjak ke kamar mandi.

“allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, laa ilaa haillallaahu Allaahu Akbar. Allaahu Akbar walillaahilmandu”. Suara takbir semakin kencang. Aku semakin mempercepat pekerjaanku. Kukeluarkan semua yang telah dipersiapkan dari kemarin. Yang pasti yang kata ibu untuk lebaran. Aku ingat ketiga tiga hari lalu ibu pesan itu padaku.

“Zah, ini toples dicuci semua ya, untuk lebaran nanti biar kelihatan bersih,” uh, padahal nggak harus lebaran kan memang semuanya harus bersih. Ibu saja yang tak memperhatikan itu.

Nggak hanya itu, waktu aku mau makan pakai piring yang disimpan di almaripun, ibu bilang nggak boleh, katanya buat lebaran besok. Sampai serbet makan baru pun turut buat lebaran juga. Yach, semuanya untuk lebaran!

“Zah, udah siap belum? Yuk kita berangkat ke Masjid!” ajak Ibu padaku. Beliau sudah tampak rapi dengan mukena barunya.

“Duh, duh, mukena baru nih? Untuk lebaran ya Bu? Tanyaku menggoda.

“Hus, jangan keras-keras. Pemberian Bu Hajah Hanifah kemarin. Sekalian…… untuk lebaran” Jawab ibu yang diiringi dengan senyuman. Uh, dasar ibu.

Aku pun segera mengenakan mukenaku. Meskipun tak baru, yang penting bersih. Untuk lebaran! Ha…… ha…… ha……

“Wassalaamualaikum warohmatullaahi wabarokaatuh”, ucapan salam diakhir acara pagi ini, menutup ritual yang diadalan hanya dua kali dalam setahun ini.

“Waalaikummussalaam warohmatullaahi wabarokaatuh,” jawab para jamaah serempak walau tanpa aba-aba. Kemudian dengan bersholawat, masing-masing jamaah yang semuhrim bersalam-salaman. Kadang air mata pun ikut mewarnai acara salam-salam itu. Aku jadi terharu. Apalagi bila sadar dosaku sudah lebih tinggi dari Mount Evereset, rasanya sedih dan menangis, hik, hik, hik……

seketika berbagai petasan mulai dinyalakan. Dari yang sebesar korek api, hingga yang sebesar tiang listrik (bukan tingginya lho!), dan dari yang bunyinya “Thar”, hingga yang bunyinya dor!!, semuanya membuat suasana terasa begitu beda dari biasanya..

Namanya juga tradisi, meski sudah dilarang untuk menyalakan petasan di sembarang tempat, tetap saja nggak bisa dicegah. Setiap tahun, pasti selalu rame oleh bunyi petasan.

Tak lama setelah itu, satu per satu jamaah meninggalkan masjid. Begitu juga aku dan ibu. Sedangkan Bapak dan Imin, adikku, langsung ke makam nenek untuk membersihkan sekitar makam.

Aku berjalan dengan perasaan tak menentu. Terasa ada sesuatu yang akan terjadi di lebaranku kali ini. Oh, kuharap ini hanya perasaanku saja. Termasuk dengan mas Hasby. Entah mengapa aku merasa begitu ingin bertemu dengan Mas Hasby. Memang kami belum lama saling tahu, dan aku juga tak pernah menduga kalau dalam waktu mendadak dia akan meminangku. Aku sempat tak percaya. Dan aku pun sempat nolak karena aku merasa masih belum siap dalam usiaku yang ke-19 tahun ini. Aku adalah remaja yang tak seberuntung yang lain. Setelah 3 tahun yang lalu aku lulus SMP, aku hanya duduk di rumah. Sebenarnya ngiri juga kalau lihat teman-teman sebayaku yang masih sekolah di SMA. Namun, syukurlah aku masih bisa merasakan bangku SMP walau tanpa memakannya. Sungguh aku sebenarnya masih terlalu muda. Aku pernah ngasih solusi pada Mas Hasby dengan jalan saling dekat dulu. Tapi, kata Mas Hasby itu sama saja mendekati zina, dan itu dilarang dalam Islam. Akhirnya ya……, aku terima saja keputusannya untuk meminangku.

Tapi, beberapa saat semenjak rencana itu ia sampaikan padaku, ia justru pergi ke kota. Katanya ia akan kembali saat menjelang lebaran. Namun yang membuat aku ragu, sampai sekarangpun ia belum datang. Dimana kau sebenarnya Mas?.

“Dorr!!” tiba-tiba suara Upi mengagetkanku.

“Apa-apan si Pi, kalau manggil yang bener dong. Nggak usah pakai nge-dor segala. Bikin kaget tahu!” cercaku.

“Eh ni anak, udah tiga kali aku panggil, kamunya nggak nengok-nengok. Lagi pula di jalan kok ngelamun sih. Untuk nggak ada banyak kendaraan. Dan mesti ingat ya neng, nih hari adalah Idul Fitri. So, kamu juga nggak perlu marah-marah kayak tadi dong”, ucap Upi membela diri.

Eh, benar juga kata Upi. Tanpa banyak komentar aku pun segera tersenyum dan mengulurkan tanganku padanya.

“Nah, gitu dong,” ucapnya seraya membalas uluran tanganku dengan salam erat.

“Eh Zah, kamu mau ikut keliling kampung nggak nanti?” tanya Upi. Aku berpikir sebentar.

“Ehm, maaf ya Pi, kayaknya aku nggak bisa ikut deh, soalnya aku sedang nunggu seseorang. Lagian biasanya juga orang-orang sekampung satu-persatu ke rumahku untuk nemui kakek. Sekali lagi maaf ya” ucapku pada Upi, rendah.

“Ya udah nggak apa-apa, kalau kamu ada acara, aku pergi dulu ya. Assalaamualaikum” salam Upi sambil ngeloyor pergi.

“Waalaikumussalaam,” jawabku.

Duh, untung dia nggak tanya nunggu siapa, kalau dia sampai tahu aku nunggu Mas Hasby, bisa gawat nih urusannya. Syukurlah.

Suasana kampung semakin sepi. Kebanyakan mereka pergi ke rumah keluarga yang paling tua. Aku juga seharusnya ke sana, ke Madendo, dimana orang tua Bapakku tinggal. Namun, sejak tadi pagi, aku semakin tak tenang. Tak banyak yang aku kerjakan. Setelah acara maaf-maafan bersama keluarga, aku hanya didalam kamar. Aku hanya berdiam diri. Aku sadar, seharusnya aku tak seperti ini. Hari ini adalah lebaran, Idul Fitri, hari yang suci. Tak sepantasnya kunodai dengan perasaanku yang gila ini. Tapi, aku juga tak bisa mengingkari kalau aku begitu mengharap kehadirannya. Hanya untuk sebuah kepastian, untuk sebuah kebenaran.

“Nduk, kamu jadi ikut ke Madenda atau tidak? Tinggal kita berdua. Semua keluarga sudah berangkat ke sana. Mereka nanti terlalu lama menunggu lho” suara ibu yang setia menemaniku terdengar dari balik pintu.

“Nduk, untuk lebaran nduk. Jangan diam terus dong. Cerita, ada apa dengan kamu?” ulang ibu ketika tak ada jawaban dariku. Aku pun beranjak. Kubukakan pintu kamar dengan pelan. Seketika tampak senyum ibu yang begitu indah menyapa wajahku.

“Bu, kapan Mas Hasby datang? Katanya menjelang lebaran mau datang? Kok sampe sekarang gak datang-datang”  tanyaku kemudian dengan nada rendah. Ibu nampak mengernyitkan dahi.

“Mas Hasby? Ya Allah nduk, maaf, ibu sampai lupa” ucap ibu seraya menempelkan telapak tangannya ke dahi. Seketika aku terheran. Kuikuti langkah Ibu dengan suatu kekuatan baru. Sempat kulihat warna lain di wajah beliau saat itu.

Tak lama kemudian, diambilnya sebuah amplop putih, bersih dari bawah lipatan-lipatan baju di almari. Aku semakin heran.

“Nduk, ini titipan buat kamu,” ujar ibu seraya menyodorkan amplop itu padaku.

Titipan? Titipan apaan?! Aku mulai berpikir.

Dengan cekatan segera ku buka amplop itu dan kubaca satu persatu isinya dengan teliti.

Pekalongan, 20 Ramadhan 1428 H.

Teruntuk : Adikku “Izah”

di Penantian

Minal aizin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin. Dik, Mas Hasby mohon maaf, bila selama ini adik telah banyak berharap dari mas. Itupun juga karena kesalahan Mas Hasby, mas akui itu. Itu karena keteledoran mas.

Dulu mas belum tahu siapa kita. Mas telah mencari tahu. Kuharap adik mampu menerima ini, qt saudara dik. Kalau adik belum paham dengan yang mas tuliskan ini, tanyakanlah kebenarannya pada ibumu. Beliau lebih tahu. Yang pasti kita tak boleh lakukan pernikahan itu, dik!

Mas juga tak pernah pergi ke kota. Mas hanya ingin menghindar darimu, hingga kutemukan cara paling tepat untuk kuceritakan pada adik semuanya.

Sekali lagi, maaf!

Wassalamualaikum wr. wb.

Dari : Mas Hasby

Tiba-tiba seluruh tubuhku bergetar karena kalimat yang cukup panjang itu. Kertas itu melayang dan tertiup angin pegunungan. Walau ku tahu itu tak mampu membiaskan perasaanku. Kutatap mata Ibu yang tampak teduh walaupun layu. Anggukan pasti Ibu menghantam perasaanku.

“Bu, siapa Mas Hasby, Bu?” tanyaku dengan mata yang mulai membendung air bening. Aku kecewa. Sungguh. Aku tahu tak ada lagi yang dapat mengobati luka kecewaku ini. “Bu, siapa Mas Hasby?!” ulangku bergetar.

“Mas Hasbymu adalah masmu juga Zah, dia kakakmu juga. Dia memang bukan lahir dari rahim ibu. Tapi, sejak usia 1 bulan hingga usia 3 tahun, ibulah yang menyusuinya. Hingga kemudian orang tuanya pindah ke tempat lain. Dan secara agama, kamu dan Hasby adalah muhrim, kamu tahu hukumnya pernikahan sesama muhrimkan nduk?” jelas ibu panjang lebar.

Aku hanya diam. Aku sudah dapat mencerna apa yang akan Ibu katakan. Aku dan Mas Hasby tidak boleh menikah! Tapi, kenapa mesti baru sekarang ibu katakan itu? Kenapa? Aku benci!!!

“Kamu tahu nduk, kapan surat itu datang?” tanyanya,

Aku menggeleng.

“Waktu itu Hasby kesini. Kebetulan kamu tidak di rumah. Lalu ibu ajak ia bercakap-cakap. Akhirnya ibu tahu latar belakang keluarganya. Ia pun saat itu sempat kaget dan tercengang waktu ia tahu bahwa ibulah yang menyusuinya. Ibu maklumi itu,” ungkap ibu.

“Kemudian beberapa hari setelah itu, ia kesini lagi serta ia titipkan surat ini pada ibu. Sekarang,…… kamu bisa mengerti kan nduk?” lanjutnya.

Aku masih terbenam dalam kekecewaan. Dia yang selalu kunanti ternyata tidak boleh menikahiku.

“Bu, tapi kenapa tidak Ibu sampaikan surat ini dari dulu,” tanyaku kemudian. Mencoba tuk mengurangi dan mengontrol perasaanku.

“Spesial. Hanya untuk hari ini. Untuk lebaran Zah!” jawab ibu singkat.

“Mas Hasby juga, tak pernah ceritakan ini sebelumnya. Sebelum aku lama menunggu hingga terasa bosan,” lanjutku mencoba menghibur diri.

“Untuk lebaran, dik,” tiba-tiba suara yang tak asing lagi di telingaku itu mengarahkan pandanganku dan Ibu ke arah pintu tengah.

“Mas Hasby!!,” ucapku setengah tak percaya.

Oh, tanpa sadar aku menitikkan air mata. Entah apa itu artinya. Tapi aku merasa bangga memiliki mas segagah dia.

Langkahku mendekat pelan, ke arahnya. Kini aku tak perlu lagi terlalu menundukkan pandanganku. Karena dia idamanku. Karena dia “my brother”. Sungguh indah lebaranku kali ini. Benar-benar indah!.

Aku tak perlu menangis

Karena tak memilikimu

Aku tak perlu membakar laut

Karena tak mendapatkanmu.

Aku pun tak perlu menangkap petir,

Dan meledakkannya di cermin hatiku

Karena aku sadar, hanya dalam maya

Mau milikku seutuhnya.

Namun aku rela.

Aku malu bila harus mematahkan asa

Hanya demi sebutir zarah di angan-angan

Aku malu bila harus mengais cinta

Dan memandang keindahan semu dimatamu,

Di setiap langkah tegap, bibir merah, kulit putih

Aku malu lakukan itu, karena q-ta miliNya.

Karena kuyakin, ada cinta terbesar menghampiriku

Tanpa perlu ku mengemis kepadaNya

Ada keindahan yang nampak jelas

Tanpa perlu ku mengorbankan nafsu jiwa

Ditulis dalam CerPeN. Leave a Comment »

Satu Desember Untuk Rara

SATU DESEMBER UNTUK RARA

By: St. Khuzaiyah

Pagi ini masih seperti kemarin. Suasana kelas riuh. Siswa-siswi bergerombol di sudut pintu masuk dan di meja-meja favorit mereka (masing-masing gerombolan punya meja favorit sendiri sebagai basecamp mereka ngumpul. Ada yang di meja dekat pintu masuk, meja Olivia yang dekat jendela, Meja Dino yang paling stategis untuk ngelirik anak-anak Bahasa yang cantik-cantik, dll) Gerombolan itu membentuk gap-gap yang memisahkan antara siswa miskin dan melarat, siswa cantik dan kurang cantik (kalau nggak mau dibilang jelek), siswa pintar dan kurang pintar, siswa gaul dan siswa kuper, serta siswa aktif dan siwa pasif.

Aku menikmati kesendirianku di bangku paling belakang. Diantara gap-gap itu, hanya akulah yang menciptakan gap dengan anggota seorang saja: hanya diriku! Only one, not to others! Bukannya aku malas ngajak yang lain buat gabung di gapeku, tapi karena mereka sudah lari terlebih dahulu ketika mendengar namanya ku panggil. Kejam.

Yah, kalau orang bilang aku adalah orang yang harus dijauhi, mungkin ada benarnya. Walau aku tidak terima dengan sikap mereka. Kalau orang bilang aku adalah orang berpenyakit, mereka semua benar. Tapi sekali lagi kukatakan: aku tidak terima dengan sikap mereka! Boleh saja mereka mencerca orangtuaku, tapi mereka tidak berhak mencercaku. Boleh juga mereka menjauhi orangtuaku, tapi mereka tidak berhak menjauhiku. Sekali lagi tidak!

“Hey, Ra! Ngapain sih, dari tadi ngelamun terus,” Faza menepuk keras pundakku. Matanya mencoba mengorek serpihan layu yang berserakan di bola mataku.

“Eh, Faza. Tumben kamu berangkat siang. Biasanya jam setengah tujuh sudah standby di kelas,” ku coba alihkan perhatian Faza.

“Iya, tadi habis ngantar adik ke sekolah dulu. Biasanya Ibu yang nganter, tapi beliau mesti belanja ke pasar pagi banget, jadi ya…aku yang ngantar deh,”jelas Faza.

“Oya, barusan lagi ngelamunin apa sih? Ko` kayak serius banget,” lanjut Faza.

“Siapa yang ngelamun? Sok teu aja. Aku cuman lagi mikir, ko` ya masih ada orang kayak kamu di dunia ini,” aku datar. Faza berkernyit dahi.

“Maksudnya?” matanya menatap aneh, mencoba menerawang ke anganku yang masih berkeliaran

“Ya..aneh aja. Sementara temen-temen sekelas gak mau berteman denganku, kamu masih saja menggodaku. Sementara yang lain menjauhiku, kamu malah mendekatiku!” aku melemparkan tatapanku ke sudut ruangan.

“Rara! Berapa kali aku katakan, jangan kamu usili persahabatan kita. Biarkanlah persahabatan itu tumbuh subur diantara kita. Jangan kamu ganggu,” Faza memegang kedua pipiku, memutar kepalaku hingga mata kami berpandangan. Kata-katanya pasti, penuh ketegasan. Mengisyaratkan bahwa ia tidak senang dengan apa yang barusan ku katakan.

“Rara…Please, jangan nodai persahabatan kita. Percayalah, aku sayang kamu Ra…” Faza menggapai tubuhku, ia peluk tubuhku erat. Ada kehangatan di sana. Kehangatn yang tidak akan pernah bisa diberikan oleh orang lain.

***

“Ra, bentar lagi aku mau ngasih surprise buat kamu!” Faza datang dengan langkah seribu. Jilbab putihnya melambai-lambai ikuti gerak cepat tubuh cekingnya. Bibir tipisnya tersenyum lebar. Matanya berbinar. Ada kebahagiaan di sana.

“Aneh. Mau ngasih kejutan masa dibocorin dulu. Dimana-mana yang namanya kejutan tu dirahasiain Faza…” aku komentar.

“He…he…biar kamu gak terlalu surprise aja nantinya,” kilahnya.

“Kejutan apaan sih?”

“Ada deh…tunggu aja tanggal mainnya. Okey?” dia melirik ke arahku. Aku angkat bahu. Ia duduk di sebelahku dengan sebuah buku kecil tertenteng di tangannnya  “Kado Buat Sahabat” . Buku yang bagus. Pikirku.

“Oh, sudah dapat teman baru Za? Pantesan kita-kita dilupain,” Ryana ketus. Matanya melirik sengit ke arahku. Dia datang bersama gank `Bintang Tujuh` yang terdiri dari Venty, Nadia, Vera, Titin dan Cintya. Sebenarnya Faza dulu ikut pada gank mereka, tetapi karena ia tidak tahan dengan sikap mereka yang ekstrim, akhirnya ia memilih untuk keluar.

“Kamu sudah nggak nganggep kita sebagai teman? Atau…kamu mau jadi pahlawan buat si Rara ini?!” Vera menunjuk ke arahku dengan sengit. Bibirnya moncong. Kalau saja ada karet di dekatku, sudah kuikat bibirnya erat-erat.

“Vera, apa maksudmu? Kamu gak berhak ngomong gitu. Asal kalian tahu, nggak ada yang berhak mengganggu persahabatanku sama Rara. Termasuk kalian dan penyakit yang diderita Rara,” Faza tegas. Matanya menyala. Aku tahu, dia sangat marah dengan mantan sahabatnya itu.

“Oh gitu ya?! Okey, semoga kamu ketularan penyakit anak kotor ini,” Vera makin sengit melemparkan jarinya ke arahku. Kelima temannya bersungut.

“Hey, asal kalian tahu ya, penyakit Rara gak akan pernah nular kalau kita bersahabat. Kalian bodoh!” Kalimat Faza mengiringi kepergian Vera cs. Ia emosi.

“Terserah!!!” Vera menoleh dan mengibaskan tangannya ke arah kami.

“Dasar. Sok suci!” Faza masih tidak terima. Aku mengelus dada.

“Sudahlah, Za. Gak perlu kamu tanggapin kata-kata mereka,” aku rangkul dia pelan, mencoba menenangkan.

“Iya Ra, tapi mereka gak bakalan diam kalau kita gak tegas. Mereka semua memang jahat!” umpat Faza.

“Sssttt… Za. Sudah! Gak enak dilihatin teman yang lain. Aku juga gak apa-apa ko`,” aku mencoba menghibur. Walau sebenarnya jauh di dalam hatiku, aku juga sakit. Sangat sakit.

“Ra?” Faza tidak percaya. Aku mengangguk dengan senyum yang sengaja ku buat semanis mungkin. Senyum bertopeng. Itulah!

Yah, aku selalu berusaha tersenyum menyembunyikan airmata yang sebenarnya ingin tumpah. Air mata yang terbendung ketika kata-kata menyakitkan itu menghampiri telingaku, mengobrak-abrik perasaanku. Kata-kata yang selalu membuatku tidak terima. Aku benci dengan semuanya!

***

“Za, kayaknya kamu sibuk banget akhir-akhir ini? Sampai harus izin gak ikut pelajaran juga,” aku protes pada Faza yang akhir-akhir ini makin sibuk.

“Ngurusin OSIS mulu, sampai lupa ama aku,” lanjutku.

“Ih, Rara. Ko` gitu sih? Kalau aku sibuk di OSIS, ya memang harusnya gitu. Rara tahu kan betapa sibuknya jabatan sekretaris dalam OSIS. Jadi Rara mesti maklum. Gak boleh marah kayak gitu!” Faza panjang lebar. Sebenarnya gak usah dikasih tahu juga aku sudah tahu kalau sekretaris OSIS itu memang sibuk.

“Bukan itu maksudku,” aku jutek.

“Lalu?”

“Lagi sibuk nyiapin apa sih?” selidikku.

“Oh…itu. Hm…lihat aja deh ntar tanggal mainnya. Okey?” Faza melirik genit ke arahku.

“Eh ni anak, ditanya malah gitu. Emang kenapa sih? Rahasia?”

“Hm…nggak juga sih. Tapi…semi rahasia. Hahaha…” Faza ngakak. Tatapan teman-teman mendadak menyoroti kami. Mereka tampak benci. Ya, mereka benci ketika aku dan Faza akrab dan tampak bahagia. Terutama si Vera cs. Faza yang menyadari reaksi teman-teman, justru mengeraskan tawanya.

“Hahaha…hari ini kita dapat kebahagiaan Rara…” ucapnya keras.

Aku melongo. Kebahagiaan apa? Kebahagiaan dari Hongkong? Dasar, Faza kumat. Gerutuku.

***

Pagi ini kelas tampak sepi. Sampai jam setengah sembilan anak-anak belum juga datang. Seperti biasa, aku duduk di bangku paling belakang. Menikmati kesendirian sembari menanti kehadiran anak paling cerewet versiku, siapa lagi kalau bukan Faza.

“Rara…ko` masih di kelas sih? Tuh teman-teman sudah pada nyiapin diri di aula. Sebentar lagi acara mau dimulai loh,” Faza berteriak sembari menghambur ke arahku.

Aku melongo.

“Acara? Acara apaan?” aku masih tak tahu.

“Ya ampun, Rara. Aku lupa. Sorry. I have special event for you. It`s surprise for you! “ Faza sok British. Aku makin tak tahu. Segera ia menarik lenganku dan membawaku berlari kencang. Seakan ada tenaga luar biasa yang merasuki Faza.

“Faza, berhenti. Apa-apaan sih?” aku mencoba menahan tarikan Faza. Tapi ia lebih kuat. Ia tak mempedulikan ucapanku.

Setelah sampai di Aula, Faza berhenti dengan nafas tersengal-sengal. Di tempelkan kedua tangannya di kedua pipiku. Dia arahkan wajah dan tatapanku pada sebuah pemandangan  yang tak kusangka: aula sekolah tampak beda. Ada semacam warna lain di sana. Sebuah meja panjang dengan empat kursi tertata rapi. Di atasnya terdapat rumbai-rumbai dari kertas hias berwarna-warni dan tersusun saling silang. Kuperhatikan spanduk yang jadi background meja dan kursi tersebut.

Seminar Hari AIDS Sedunia

“DENGAN SEMANGAT HARI AIDS

MARI  JAUHI HIV/AIDS, TANPA HARUS MENJAUHI PENDERITA HIV/AIDS!”

Pekalongan, 1 Desember 2007

Aku tak percaya dengan semua ini. Terasa ada kekuatan lain menjalari tubuhku. Ada airmata yang diam-diam bersembunyi di balik mataku. Airmata yang ingin segera tumpah dan mengatakan : Aku terharu.

Ku tatap mata bening Faza. Ada kebanggaan di sana.

“Ra, aku sama anak-anak OSIS gelar acara ini special buat kamu. Aku ingin semua mata terbuka untuk menatap kamu apa adanya,” jelas Faza.

“Dan kamu…jadi narasumbernya juga!” lanjut Faza setengah merajuk.

“Apa?”

“Ya. Aku ingin kamu curhat di sini. Aku ingin kamu tumpahkan semua perasaanmu di sini. Aku ingin mereka semua bisa ngehargai kamu Ra!” Faza menatapku dalam.

“Ra, Please…” dia memohon.

Aku tersenyum berat. Ya, sangat berat. Karena dengan kata lain, jika aku jadi narasumber, maka seluruh warga sekolah akan makin tahu bahwa aku adalah pengidap HIV. Dan tidak menutup kemungkinan mereka semua akan dengan terang-terangan menghina dan mengucilkanku. Jujur, aku malu. Aku malu dengan semua ini.

Diam-diam hatiku menjerit “Kenapa Tuhan menakdirkanku terlahir dari orangtua pengidap HIV?. Aku…aku…ah entahlah!”

Faza masih menatap dalam ke bola mataku.

”Tapi Za, aku…” sejurus kemudian.

”Ssstt…jangan kepikiran macem-macem. Aku tahu ketidaksiapanmu. Aku tahu semua ini mungkin akan membuat kamu malu. Tapi..percayalah, semua akan baik-baik saja. Inilah satu-satunya jalan untuk menyadarkan mereka semua,” terangnya lembut. Aku masih belum bisa mengangguk. Terlalu berat.

“Makasih Za…” hanya kalimat itu yang terluncur lirih.

Jauh dalam hatiku, ada harapan baru yang bersemai perlahan : Mereka semua akan tahu, bahwa HIV/AIDS hanya akan menular melalui hubungan seks, darah dan cairan tubuh. Bukan melalui komunikasi ataupun persahabatan. Jadi, tidak ada alasan bagi mereka untuk menjauhiku! Aku tersenyum, antara getir dan kebahagiaan.

“Semua akan berubah Ra…” bisik Faza.

                                                                        Paninggaran, 20 Maret 2008

                                                                       

 

 

 

Ditulis dalam CerPeN. 1 Komentar »

Ajal Dua Layar

Ajal Dua Layar

Oleh: Siti Khuzaiyah

 

Suryo memandangi tubuhnya yang terbujur lemas di ranjang berseprei putih. Kulitnya keriput, matanya tidak secerah dulu, perawakannya tidak setegap tigapuluhan tahun yang lalu. Namun demikian, keberadaan Suryo tetap saja seperti dulu yang menjadi lirikan jutaan pasang mata dan tak pernah luput untuk didiskusikan.

Suryo Subroto. Siapa yang tidak kenal dia. Sosok kharismatik pengubah dunia. Tangannya melambai hingga ke setiap ujung negeri. Negeri Paman Sam, Negeri Gajah Putih, Negeri Kanguru, Negeri Tambang Emas, dan Negeri Pertiwi. Kedigdayaan luar biasa! Tapi lirikan mata itu sinis ketika kedigdayaanya melunturkan setiap asa manusia.

”Kawan, aku ingin segera pergi dari sini!” Suryo berbisik keras pada manusia di bawahnya.

”Aku ini pahlawan, bukan?” tanyanya.

Manusia itu hanya diam.

”Bukan! ” sejenak kemudian.

Suryo menatap tajam pada manusia keriput di pembaringan tikar lusuh itu.

”Tapi…Ya! Kau pahlawan kawan! Aku bangga padamu. Kau hebat kawan!” manusia itu tersenyum tipis. ”Kenapa aku tidak bisa sepertimu? Padahal dulu kita satu tanah,” lanjutnya.

Yach, hanya waktu yang tahu kawan,” Suryo menjawab ringan.

”Kau senang dengan posisimu sekarang ini?” manusia itu menyelidik. Matanya yang juga sudah tidak lagi bersinar itu membuka lebar.

”Kenapa kau tanyakan itu? Aku ingin segera pergi dari sini!” Suryo kembali keras. Bibirnya menyungging berat. Matanya ia lemparkan jauh ke atap Rumah Sakit, ke awan, ke angkasa, dan jatuh kembali ke jasadnya yang tak kuasa apa-apa.

***

Baru saja Suryo menyelesaikan garapan lahan padinya. Di sisa-sisa usianya, dia masih begitu giat berkarya. Menggarap lahan padi satu-satunya yang dia miliki.

”Sebentar lagi menguning. Sebentar lagi panen,” batin Suryo. Senyum menyungging di sela bibir keriputnya.

Di pungungnya yang tidak lagi lurus, tergantung beribu senyum yang bermekaran. Senyum yang menuai cinta dari anak cucu yang mendampinginya selama ini.

Suryo adalah bapak sekaligus kakek penuh wibawa. Walau namanya tak seharum tokoh negara, namun bagi anak cucunya nama Suryo lebih semerbak dan memberi arti kehidupan yang sesungguhnya. Dari sela gigi-giginya yang mulai ompong, cerita negeri ini tak jarang menjadi nyanyian pengisi hari. Tentang gemah ripah lohjinawi, tentang kolam susu, tentang bumi emas, tentang penghianatan, tentang rezim kekerasan, tentang ketidakadilan, hingga tentang pemberontakan. Lagu itu indah, sendu, naik, turun, naik, turun, naik ke angkasa, hingga jatuh ke dalam jurang curam.

”Negeri ini indah anakku. Kau akan merasakannya. Hanya butuh waktu dan tangan yang indah untuk mewujudkannya,” kata-kata Suryo disuatu senja.

”Tapi sayang, yang ada hanya tangan kuat tanpa keindahan. Tangan yang mencengkeram, anakku…” lanjutnya.  

***

Di ruangan berbau obat, Suryo mengamati orang-orang berbaju putih yang sibuk mengotak-atik raganya. Suryo tak tega ketika seorang dari mereka memasang suatu alat ke dalam tubuhnya dengan paksa. Entah apa yang dia pasang. Yang pasti, menurut salah satu dari mereka alat itu untuk membantu Suryo bertahan hidup.

”Aku tidak tahan, kawan. Aku sudah ingin pergi dari sini dengan tenang. Aku benci mereka!” Suryo mengadu perih. Matanya membendung airmata kesedihan. ”Aku tak tahan dengan semua ini. Aku tak tahan dengan perbincangan di luar sana, kawan…” lanjutnya pada manusia yang berbaring tenang di tikar itu. Mata Suryo menatap tajam tak tentu arah. Di samping kanan kiri ranjang empuk itu, deraian airmata tak henti-hentinya membasahi pipi anak-anak Suryo.

”Tapi kawan, aku maklum dengan mereka. Mereka melakukan semua ini karena mereka menyayangimu. Mereka ingin kau tetap ada karena mereka semua mencintaimu. Mereka membanggakanmu. Kau pahlawan yang membangun negeri ini kawan!” manusia itu berucap girang. Matanya berbinar.

”Tapi sayang, mereka juga membencimu. Kau…” kalimatnya menggantung. Bibirnya mengatup. Angannya mengembara pada rupiah yang terkubur jauh, di dalam rumah kebesaran Suryo. Bak tikus pengerat, ia menggerogoti tiap tiang kayu negeri ini.

”Kenapa kau biarkan tikus itu bersarang kawan. Kenapa kau biarkan tanamanmu yang telah subur itu hancur?!” lanjut manusia itu.

”Kawan…” Suryo pelan. Matanya kini menuju ke bumi. Menerawang jauh…ke sana. Ke pertiwi. Ia tertunduk.

***

Orang-orang ramai berkunjung ke rumah kecil Suryo. Menengok sebentar kemudian pergi. Sebagian tetap di situ menunggui orang berusia 80-an tahun. Mbah Yo, begitulah ia akrab disapa. Seorang guru ngaji yang gemar bercerita tentang negeri ini, tentang bangsa ini. Orang yang selalu memompa darah muda anak-anak pengajiannya untuk jadi Pahlawan.

”Jadilah bunga-bunga untuk bangsa ini anakku. Negeri ini butuh tangan-tangan indahmu. Jadilah pahlawan untuk negeri ini anakku. Jangan biarkan tikus-tikus berkeliaran semaunya. Mereka bisa merobohkan bangsa kita!” demikian kata-katanya di setiap kesempatan. Teringat benar semangat membara mbah Yo, yang selalu tampak ketika kalimat-kalimat itu terluncur.

Suryo terbaring diatas tikar tanpa daya. Dia telah tersadar. Matanya yang sendu kian menyejukkan. Dua jam yang lalu dua orang ke rumah membawa Suryo yang tidak sadar. Suryo ditemukan tersungkur di pematang sawah. Baju dinasnya kotor berlumuran lumpur sawah.

”Anakku, cucuku, bila sudah tiba waktuku nanti, mbah titipkan negeri ini padamu. Mbah akan pergi dengan tenang,” Suryo berkata lirih. Anak, cucu dan orang yang berkerumun di rumah bambu itu saling pandang. Bagai sebuah isyarat, tidak lama setelah kata itu terucap nafas Suryo tersengal-sengal. Matanya menatap ke atas dengan tajam. Mulutnya membuka, mengatup membuka, mengatup. Terdengar lirih bibirnya beralun ”Laailaahaillaallaah…Muhammadarraulullooh…”

Semua mendekat ke arah Suryo. Isak tangis mulai terdengar malu.

”Laailaahaillaallaah…Muhammadarraulullooh…” Suryo menghembuskan nafas terakhir. Jiwanya dengan tenang keluar, berhembus dan ikuti jalan putih nan indah.

***

”Kawan…kau menang kawan! Kau menang!” Suryo berkata keras pada tubuh yang terbaring di tikar itu. Tubuh itu mulai kaku. Tubuh itu hanya diam.

”Kawan. Aku iri padamu! Aku iri kawan! Kenapa semudah itu kau pulang?” airmata Suryo mulai menitik pelan.

”Tunggu aku. Aku akan segera menyusulmu. Semua sudah kurasakan kawan…!” suara Suryo semakin pelan.

Tim medis sibuk mengurusi tubuh Suryo. Kondisinya sangat lemah. Palpasi nadi sudah tidak teraba, tekanan darah 45/palpasi. Suasana ruang perawatan semakin memanas.

Di luar ruangan, orang-orang semakin ramai. Kamera dan recorder siap merekam semua peristiwa yang hendak terjadi saat itu.

”Kenapa kalian bawa alat-alat itu? Pergilah dari sini? Aku ingin pulang dengan tenang! Aku tidak butuh kamera dan tape recorder itu!” Suryo mengusir orang yang beramai-ramai di luar ruangan. Orang yang haus informasi itu tidak mempedulikan teriakan Suryo yang terlalu lembut untuk didengar.

Tidak lama kemudian nafas Suryo tersengal-sengal. Matanya menatap ke atas dengan tajam. Mulutnya membuka, mengatup membuka, mengatup. Bibirnya tak sanggup berucap. Hatinya berbisik ”Laailaahaillaallaah…Muhammadarraulullooh…”

Suryo menghembuskan nafas terakhir. Jiwanya keluar, berhembus dan ikuti jalan lembut itu…

Pahlawan itu telah pergi. Tokoh itu telah kembali. Tinggalkan negeri ini, apa adanya!

Selamat jalan bapak…!

                                                           

Pekalongan, 7 Februari 2008

 

Ditulis dalam CerPeN. 1 Komentar »