Kasih masukan dong teman-teman… “Apa sih yang menarik diteliti?”

ini terkait penelitian yang mesti kulakukan. kalau umumnya program DIII hanya membuat TA sebagai persayaratan lulus, maka tidak demikian dengan DIII KEsehatan, khususnya DIII kebidanan. kita meski membuat KTI (Karya Tulis Ilmiah) riset disamping ada KTI Askeb (Asuhan Kebidanan). nah, terkait KTI riset yang akan kulaksanakan dalam waktu tidak lama lagi ini, ku butuh masukan dari teman-teman pembaca semua. kira-kira masalah terkait kebidanan apa yang menarik untuk diteliti? mungkin ada yang mau usul seputar kehamilan, melahirkan, Inisiasi Menyusu Dini, kespro (kesehatan reproduksi) remaja, tentang ASI, dsb. kalau bisa masukan tema/judulnya udah spesifik ya…atau ada yang mau menguraikan suatu masalah dan masih bertanya-tanya tentang pemecahan masalah tersebut (cie…). barangkali dari sini bisa kujadikan bahan untuk penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan.

okey? kutunggu ya masukan dari teman-teman pembaca semua. sebelum dan sesudahnya kuucapkan terimakasih.

semoga sumbangan dari teman-teman bisa memberikan manfaat buat siapa aja (khususnya saya yang punya gawe. :-)

oya, usulan bisa dikirim ke private email yayah.annisa_87@yahoo.com

thanks before…keep on smile!!!

Ditulis dalam CuRhAt.... 2 Komentar »

Setiap perjuangan harus disertai kesabaran!

Ya, dalam perjuangan penuh tantangan, dalam tantangan ada hambatan, dalam hambatan ada keganasan. Keganasan yang hanya bisa mati oleh kesabaran!

Begitulah kiranya arti sebuah kesabaran dalam tiap tetes pejuangan kita. Jika kita meninggalkan barang sedetikpun kesabaran itu, niscaya airmata yang akan mengalir di hati dan kekesalan yang akan merasuki jiwa.

Hakikat perjuangan sebenarnya sangat luas. Hampir di setiap aktivitas kita merupakan perjuangan. Perjuangan untuk hidup, perjuangan untuk kuliah, perjuangan untuk datang tepat waktu, perjuangan untuk dapat IP memuaskan, perjuangan untuk selalu naik tingkat, perjuangan untuk bisa beramal di lingkungan sekitar, perjuangan untuk bisa berbuat yang terbaik, bla-bla-bla…semua adalah perjuangan! Perjuangan yang harus dijalani dengan perjuangan juga!

Yah! Begitu besar makna sebuah perjuangan. Dengan perjuangan kita bisa menggapai yang terbaik. Dengan perjuangan kita bisa tetap tersenyum di kala hati menangis. Dengan perjuangan kita bisa bersemangat di tengah kelelahan. Dengan perjuangan, kita…Ah, begitu besar arti sebuah perjuangan.

Menyadari begitu besar nilai perjuangan, sudah seharusnya perjuangan itu mendapat hak tertingginya: kesabaran! Ibarat bunga dari tangkainya, perjuangan tidak akan pernah terpisahkan dari kesabaran (seharusnya). Bunga perjuangan, tangkai kesabaran. Sekali tangkai kesabaran itu layu, maka bunga perjuangan akan begitu mudah gugur dan berserakan di tanah gersang berduri. Mati!

“Aku terkadang menangis ketika ingat begitu berat perjuangan ini. tapi kesabaran telah menghiburku. Aku ingin tertawa ketika ingat begitu indah dan gemerlapnya perjuangan di dunia ini. Tapi kesabaran dengan lembut membelaiku dan berkata lirih: ada perjuangan lebih besar yang menanti di depanmu. Aku sering tertidur lelap terbuai mimpi tak karuan, tapi sekali lagi kesabaran itu dengan penuh kesabaran membangunkanku dari mimpi dan berkata: realita lebih tajam anakku”

Ramadhanku?

Ya Alloh…

tanpa terasa Ramdhan akan segera berakhir. tanpa terasa bulan yang begitu mulia akan segera meniggalkan hamba.

mungkin masih teringat ketika Sya`ban hamba bersuka cita menyambut Ramadhan dengan segala persiapan. dan ketika sampai pada 1 Ramadhan hamba melakukan Puasa wajib untuk hari yang pertama. rasanya nikmaat sekali. kemudian malam harinya hamba memperbanyak tadarus, berdzikir, dan sholat lail.

Tapi sayang, itu hanya hari pertama. karena hari-hari berikutnya berjalan sepeti biasa. seperti hari-hari yang lalu. seperti saat bukan Ramadhan. inikah yang disebut sebagai `anget-anget…ayam?`tapi seharusnya ini tidak terjadi dalam hal ibadah. apalagi id saat Ramadhan seperti ini. dimana pahala dilipatgandakan. tapi apalah jiwa ini, futur!!!

detik demi detik berjalan, jam demi jam berlalu, malam demi malam merayap dengan lembut. tak terasa, benar-benar tak terasa. seakan hamba terbuai oleh nikmatnya berbuka da melalaikan saat setelah berbuka itu.

hamba tak tahu apakah puasa ini sudah `puasa` secara utuh, ataukah hanya sekedar `puasa`? apakah ada nilai kesmepurnaan dalam puasaku sementara amalan sunah hanya dilipat dan diletakkan di bawah bantal?

seakan puasa hamba hanyalah puasa menahan lapar dahaga. hamba tidak pernah mempuasakan alat-alat indera, sehingga maksiatpun mesih senang hati mampir dan bersemayam dalam tiap sisi jiwa.

kini, ketika Ramadhan akan berakhir barulah hamba sadari, barulah hamba menyesali, bahwasanya hamba telah ketinggalan kereta `Kemuliaan Ramadhan`. bahwa hamba menangisi Ramadhan dan berbisik pada ILLAHI

“Ya Alloh…pertemukanlah kembali hamba dengan Ramadhan tahun depan, agar dapat ku tebus penyesalan ini!”

Dimana Hati Itu…?

DIMANA HATI ITU?

 

Dy, tahu nggak aborsi? Itu lho, mengeluarkan hasil konsepsi (pembuahan) sebelum saatnya. Atau lebih afdhol kita sebut saja `Pembunuhan` janin dalam kandungan. Yah, pembunuhan!

Meski kedengarannya terlalu kasar, namun bagiku kata itulah yang paling pas untuk menyebut pelaku aborsi. Bagaimana tidak, mereka para pelaku aborsi telah mengambil hak hidup para janin yang masih menikmati kehidupannya intra uterin. Dengan berbagai cara mereka berusaha menghentikan kehamilan dengan membunuh janin dan mengeluarkannya dari dalam rahim. Dari mulai minum jamu-jamu tradisional, minum obat-obatan garis keras, loncat-loncat tangga (konyol banget!), sampai cara akhir yaitu dengan mengkuretage (mengerok) janin dan mengeluarkannya dari rahim. Cara yang terakhir ini mungkin saja dilakukan oleh dukun, bidan, dokter spesialis kandungan atau oleh pihak-pihak tidak bertanggungjawan yang tidak memiliki kompeten dalam hal ini.

Pada kasus-kasus tertentu yang sangat darurat, aborsi memang diperbolehkan dengan syarat dan ketentuan yang ketat (seperti yang tercantum dalam UU Kesehatan no 23). Dalam hal ini aborsi diperbolehkan jika kandungan akan mengancam nyawa ibu.

Yang jadi persoalan adalah ketika aborsi ini dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab dan hanya mementingkan kepentingan dirinya sendiri, tanpa indikasi medis dan tanpa alasan yang kuat. Mereka tidak mempedulikan nyawa bayi dan hak hidupnya di dalam kandungan. Pelaku-pelaku ini mungkin saja dari para PSK, para freesex atau mereka yang memang tidak menginginkan kehamilannya.

Mungkin di pikiran mereka hanya berpikir “ Yah, yang penting kan gue gak malu sama perut gue yang bunting,” mungkin juga “La wong aku gak pengen hamil ko`, daripada nanti bayinya lahir gak aku urus, mending ya aku gugurin deh,”

Yah, mungkin itulah kilah mereka. Tapi dy, jauh di dalam hati mereka apa gak ada sedikit rasa takut dosa atas apa yang mereka lakuin itu? Apa mereka gak takut bakal dimintai pertanggungjawaban di akhirat nanti? Apa mereka gak ngebayangin suatu saat nanti janin-janin yang digugurkan itu bakal berlari mengejar mereka untuk minta nyawa yang sudah mereka renggut sejak dalam rahim? Apa hati dan akal mereka…MATI!!! Sehingga mereka gak lagi merasa kasian pada janin-janin itu (Padahal mereka yang ngelakuin Aborsi dulunya juga janin kan?!)

Entahlah Dy, aku hanya miris menyaksikan ini. Terkadang rasa miris ini membuatku tak sangggup nahan airmata (air mata itu seakan mengalir perlahan di hatiku). Dimana naluri keibuan mereka? Itulah pertanyaan yang seringkali muncul di hatiku. Apalagi ketika ada kabar menghangat tentang bidan yang melakukan praktek aborsi pada calon-calon ibu biadab, hatiku makin miris. Sakit Dy! Inikah cara mereka memanfatkan ilmunya di kebidanan? Inikah cara mereka menjalankan profesinya? Apa mereka gak pernah dapat materi Etika Profesi Kebidanan? Atau…mereka hanya mementingkan keuntungan materi saja?

“Yang penting kan dapat duit banyak. Masalah dosa, nantilah belakangan…Orang aku bisa melakukan aborsi, ya sudah aku bantu aja mereka yang ingin menggugurkan kandungannya. Selain Fee-nya besar, ini juga membantu lho!”

Astaghfirullah… Membantu? Membantu dalam kedholiman? Mau kerjasama masuk neraka? Ya Allah, sadarkan mereka!

Dy, sebagai orang yang nantinya akan terjun ke dunia Ibu-Anak, aku merasa bangga bakal membantu Ibu-ibu melahirkan para calon Khalifah bumi. Tapi melihat praktek aborsi yang kian marak dilakukan bidan, kadang aku jadi berpikir “Serendah itukah martabat seorang bidan?”

Ya Allah Bantu hambamu ini unuk bisa professional, Amar Ma`ruf nahi Munkar. Amieen..    

 

                                                                        Pemalang, 14 Januari 2008