“ Saya ingin menghidupi Organisasi, Bukan Hidup di Organisasi”

“ Saya ingin menghidupi Organisasi, Bukan Hidup di Organisasi”

Korupsi merupakan wacana publik yang tidak ada habisnya. Begitu juga dalam lingkup mahasiswa, korupsi bukanlah suatu hal yang baru. Jika KPK menemukan kasus korupsi dalam lingkup aktivis mahasiswa, hal tersebut tidak terlalu mengejutkan. Karena lingkungan aktivis mahasiswa juga merupakan lahan subur untuk tumbuhnya bibit-bibit koruptor.

Korupsi tingkat aktivis tampak menonjol ketika penyusunan proposal dan LPJ (Laporan Pertanggung Jawaban) kegiatan. Tidak jarang pada proses penyusunan proposal, anggaran dana dibuat sangat besar. Jika pada kenyataannya kegiatan hanya menelan biaya sedikit, maka dalam penyusunan LPJ dana tersebut akan dibesar-besarkan, “dipas-paskan”, yang tidak sesuai “disesuaikan”, tujuannya supaya mendekati anggaran yang diajukan dalam proposal. Walau sebenarnya dana tersebut entah kemana. Hal ini tentu membuat kita miris. Di saat kita aktif menempa kemampuan diri dalam berorganisasi dan berkiprah ke masyarakat/kampus, kita mencoreng diri kita dengan ketidakjujuran. Corengan “koruptor kecil” yang tumbuh dalam diri kita, lama-kelamaan akan tumbuh menjadi “koruptor besar”. Bila hal ini dibiarkan maka calon-calon koruptor semakin tumbuh subur dari kalangan aktivis mahasisawa. Sungguh disayangkan.

Secara eksternal, kurangnya respek dan apresiasi pihak kampus terhadap keberadaan aktivis mahasiswa, bisa jadi merupakan salah satu sebab munculnya praktik korupsi. Menyikapi masalah tersebut, sudah sepatutnya institusi terkait lebih respek pada aktivitas mahasiswa. Jalin silaturrahim dengan para aktivis. Selain itu, sepatutnya institusi juga memberi apresiasi terhadap para aktivis, dengan beasiswa organisasi misalnya. Jangan hanya mereka yang berprestasi di bidang akademik saja yang dapat beasiswa (Mohon maaf!). Bagaimanapun para aktivis adalah orang-orang terpilih yang rela mengorbankan waktu, tenaga dan pikiran untuk menghidupkan suasana kampus. Tanpa adanya aktivis, kehidupan kampus `bagai sayur tanpa garam`.

Secara internal, pribadi masing-masing aktivis juga berpengaruh. Pribadi yang senang mencari keuntungan, tidak jujur, berakhlak buruk, dan pendalaman agamanya kurang, cenderung memiliki peluang untuk melakukan korupsi.

Menyikapi hal ini, sudah sepatutnya para aktivis memperbaiki moral dan keniatanya dalam beraktivitas. Banyak belajar dan mempraktikkan ilmu ikhlas penting dilakukan. Tidak mudah memang, tetapi hanya dengan ikhlaslah kita akan bersih dari bisikan-bisikan hati yang kotor. Kita juga hendaknya mengingat kembali bahwa tujuan utama kita di aktivitas kemahasiswaan adalah beribadah, beramal, serta menimba pengalaman dan pelajaran hidup, bukan materi. Saya ingat suatu ketika ada seorang aktivis yang menangkap ide amoral mampir ke telinganya, dengan tegas ia mengatakan

“Saya ingin menghidupi organisasi bukan hidup di organisasi!”

Ya, begitulah idealnya seorang aktivis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: