Ajal Dua Layar

Ajal Dua Layar

Oleh: Siti Khuzaiyah

 

Suryo memandangi tubuhnya yang terbujur lemas di ranjang berseprei putih. Kulitnya keriput, matanya tidak secerah dulu, perawakannya tidak setegap tigapuluhan tahun yang lalu. Namun demikian, keberadaan Suryo tetap saja seperti dulu yang menjadi lirikan jutaan pasang mata dan tak pernah luput untuk didiskusikan.

Suryo Subroto. Siapa yang tidak kenal dia. Sosok kharismatik pengubah dunia. Tangannya melambai hingga ke setiap ujung negeri. Negeri Paman Sam, Negeri Gajah Putih, Negeri Kanguru, Negeri Tambang Emas, dan Negeri Pertiwi. Kedigdayaan luar biasa! Tapi lirikan mata itu sinis ketika kedigdayaanya melunturkan setiap asa manusia.

”Kawan, aku ingin segera pergi dari sini!” Suryo berbisik keras pada manusia di bawahnya.

”Aku ini pahlawan, bukan?” tanyanya.

Manusia itu hanya diam.

”Bukan! ” sejenak kemudian.

Suryo menatap tajam pada manusia keriput di pembaringan tikar lusuh itu.

”Tapi…Ya! Kau pahlawan kawan! Aku bangga padamu. Kau hebat kawan!” manusia itu tersenyum tipis. ”Kenapa aku tidak bisa sepertimu? Padahal dulu kita satu tanah,” lanjutnya.

Yach, hanya waktu yang tahu kawan,” Suryo menjawab ringan.

”Kau senang dengan posisimu sekarang ini?” manusia itu menyelidik. Matanya yang juga sudah tidak lagi bersinar itu membuka lebar.

”Kenapa kau tanyakan itu? Aku ingin segera pergi dari sini!” Suryo kembali keras. Bibirnya menyungging berat. Matanya ia lemparkan jauh ke atap Rumah Sakit, ke awan, ke angkasa, dan jatuh kembali ke jasadnya yang tak kuasa apa-apa.

***

Baru saja Suryo menyelesaikan garapan lahan padinya. Di sisa-sisa usianya, dia masih begitu giat berkarya. Menggarap lahan padi satu-satunya yang dia miliki.

”Sebentar lagi menguning. Sebentar lagi panen,” batin Suryo. Senyum menyungging di sela bibir keriputnya.

Di pungungnya yang tidak lagi lurus, tergantung beribu senyum yang bermekaran. Senyum yang menuai cinta dari anak cucu yang mendampinginya selama ini.

Suryo adalah bapak sekaligus kakek penuh wibawa. Walau namanya tak seharum tokoh negara, namun bagi anak cucunya nama Suryo lebih semerbak dan memberi arti kehidupan yang sesungguhnya. Dari sela gigi-giginya yang mulai ompong, cerita negeri ini tak jarang menjadi nyanyian pengisi hari. Tentang gemah ripah lohjinawi, tentang kolam susu, tentang bumi emas, tentang penghianatan, tentang rezim kekerasan, tentang ketidakadilan, hingga tentang pemberontakan. Lagu itu indah, sendu, naik, turun, naik, turun, naik ke angkasa, hingga jatuh ke dalam jurang curam.

”Negeri ini indah anakku. Kau akan merasakannya. Hanya butuh waktu dan tangan yang indah untuk mewujudkannya,” kata-kata Suryo disuatu senja.

”Tapi sayang, yang ada hanya tangan kuat tanpa keindahan. Tangan yang mencengkeram, anakku…” lanjutnya.  

***

Di ruangan berbau obat, Suryo mengamati orang-orang berbaju putih yang sibuk mengotak-atik raganya. Suryo tak tega ketika seorang dari mereka memasang suatu alat ke dalam tubuhnya dengan paksa. Entah apa yang dia pasang. Yang pasti, menurut salah satu dari mereka alat itu untuk membantu Suryo bertahan hidup.

”Aku tidak tahan, kawan. Aku sudah ingin pergi dari sini dengan tenang. Aku benci mereka!” Suryo mengadu perih. Matanya membendung airmata kesedihan. ”Aku tak tahan dengan semua ini. Aku tak tahan dengan perbincangan di luar sana, kawan…” lanjutnya pada manusia yang berbaring tenang di tikar itu. Mata Suryo menatap tajam tak tentu arah. Di samping kanan kiri ranjang empuk itu, deraian airmata tak henti-hentinya membasahi pipi anak-anak Suryo.

”Tapi kawan, aku maklum dengan mereka. Mereka melakukan semua ini karena mereka menyayangimu. Mereka ingin kau tetap ada karena mereka semua mencintaimu. Mereka membanggakanmu. Kau pahlawan yang membangun negeri ini kawan!” manusia itu berucap girang. Matanya berbinar.

”Tapi sayang, mereka juga membencimu. Kau…” kalimatnya menggantung. Bibirnya mengatup. Angannya mengembara pada rupiah yang terkubur jauh, di dalam rumah kebesaran Suryo. Bak tikus pengerat, ia menggerogoti tiap tiang kayu negeri ini.

”Kenapa kau biarkan tikus itu bersarang kawan. Kenapa kau biarkan tanamanmu yang telah subur itu hancur?!” lanjut manusia itu.

”Kawan…” Suryo pelan. Matanya kini menuju ke bumi. Menerawang jauh…ke sana. Ke pertiwi. Ia tertunduk.

***

Orang-orang ramai berkunjung ke rumah kecil Suryo. Menengok sebentar kemudian pergi. Sebagian tetap di situ menunggui orang berusia 80-an tahun. Mbah Yo, begitulah ia akrab disapa. Seorang guru ngaji yang gemar bercerita tentang negeri ini, tentang bangsa ini. Orang yang selalu memompa darah muda anak-anak pengajiannya untuk jadi Pahlawan.

”Jadilah bunga-bunga untuk bangsa ini anakku. Negeri ini butuh tangan-tangan indahmu. Jadilah pahlawan untuk negeri ini anakku. Jangan biarkan tikus-tikus berkeliaran semaunya. Mereka bisa merobohkan bangsa kita!” demikian kata-katanya di setiap kesempatan. Teringat benar semangat membara mbah Yo, yang selalu tampak ketika kalimat-kalimat itu terluncur.

Suryo terbaring diatas tikar tanpa daya. Dia telah tersadar. Matanya yang sendu kian menyejukkan. Dua jam yang lalu dua orang ke rumah membawa Suryo yang tidak sadar. Suryo ditemukan tersungkur di pematang sawah. Baju dinasnya kotor berlumuran lumpur sawah.

”Anakku, cucuku, bila sudah tiba waktuku nanti, mbah titipkan negeri ini padamu. Mbah akan pergi dengan tenang,” Suryo berkata lirih. Anak, cucu dan orang yang berkerumun di rumah bambu itu saling pandang. Bagai sebuah isyarat, tidak lama setelah kata itu terucap nafas Suryo tersengal-sengal. Matanya menatap ke atas dengan tajam. Mulutnya membuka, mengatup membuka, mengatup. Terdengar lirih bibirnya beralun ”Laailaahaillaallaah…Muhammadarraulullooh…”

Semua mendekat ke arah Suryo. Isak tangis mulai terdengar malu.

”Laailaahaillaallaah…Muhammadarraulullooh…” Suryo menghembuskan nafas terakhir. Jiwanya dengan tenang keluar, berhembus dan ikuti jalan putih nan indah.

***

”Kawan…kau menang kawan! Kau menang!” Suryo berkata keras pada tubuh yang terbaring di tikar itu. Tubuh itu mulai kaku. Tubuh itu hanya diam.

”Kawan. Aku iri padamu! Aku iri kawan! Kenapa semudah itu kau pulang?” airmata Suryo mulai menitik pelan.

”Tunggu aku. Aku akan segera menyusulmu. Semua sudah kurasakan kawan…!” suara Suryo semakin pelan.

Tim medis sibuk mengurusi tubuh Suryo. Kondisinya sangat lemah. Palpasi nadi sudah tidak teraba, tekanan darah 45/palpasi. Suasana ruang perawatan semakin memanas.

Di luar ruangan, orang-orang semakin ramai. Kamera dan recorder siap merekam semua peristiwa yang hendak terjadi saat itu.

”Kenapa kalian bawa alat-alat itu? Pergilah dari sini? Aku ingin pulang dengan tenang! Aku tidak butuh kamera dan tape recorder itu!” Suryo mengusir orang yang beramai-ramai di luar ruangan. Orang yang haus informasi itu tidak mempedulikan teriakan Suryo yang terlalu lembut untuk didengar.

Tidak lama kemudian nafas Suryo tersengal-sengal. Matanya menatap ke atas dengan tajam. Mulutnya membuka, mengatup membuka, mengatup. Bibirnya tak sanggup berucap. Hatinya berbisik ”Laailaahaillaallaah…Muhammadarraulullooh…”

Suryo menghembuskan nafas terakhir. Jiwanya keluar, berhembus dan ikuti jalan lembut itu…

Pahlawan itu telah pergi. Tokoh itu telah kembali. Tinggalkan negeri ini, apa adanya!

Selamat jalan bapak…!

                                                           

Pekalongan, 7 Februari 2008

 

Ditulis dalam CerPeN. 1 Comment »

Satu Tanggapan to “Ajal Dua Layar”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: