Negeri Dua PeriOde

Negeri Dua Periode

                                                Oleh : Siti Khuzaiyah

“Augh!!” Ical menyeringai. Kakinya tersandung hingga tersungkur di rerumputan kering.

“Uh, sial! Dimana aku?” Mata Ical terbelalak mengamati lingkungan sekitar.

”Ma, Pa, ko` pada ngilang semua?!” dipanggilnya mama dan papa yang tadi menggandengnya di eskalator Mall Citra.

Dia bangkit. Segera ia betulkan posisi tas punggungnya. Dengan bibir menyeringai menahan nyeri di kaki, bocah 11 tahun itu tertatih menjalankan tuibuh gemuknya.

”Oya, laptopku? Duh untung gak terbentur batu tadi,” ia memeriksa benda yang ada di dalam tas punggungnya.

”Hp ku?” tangannya merogoh ke saku celana ¾ yang dia kenakan.

”Uh, untung gak jatuh,” dia lega ketika benda mungil yang sudah jadi bawaan wajibnya itu masih ada di sakunya.

”Ko` bisa aku di hutan? Sepi. Sendiri lagi!,” batin Ical. Dia masih teringat setengah jam yang lalu dia baru saja sampai di Mall Citra bersama mama papanya. ”Kenapa sekarang di sini? Tersesatkah? Oh, gak mungkin. Di Mall gak ada arena bermain atau taman yang diset kayak hutan seluas ini. Mimpikah? Augh…gak mungkin juga!” Ical mencubit tangannya sendiri. Ingin sekali Ical menangis. Rasanya dia menjadi manusia paling malang. Di hutan sendiri, gak bawa bekal makanan dan minuman, hari hampir petang, suasana mengerikan, dan…

”Haah, orang hutan?!” Ical terbelalak ketika tak jauh di hadapannya dua ekor orang hutan bergelayutan di pohon pinus yang tidak terlalu tinggi. Dua pasang mata makhluk itu menatap tajam ke arah Ical. Dalam hati senang juga bisa lihat orang hutan tanpa harus ke Bonbin. Tapi…

”Liar gak ya? Ko` matanya gitu. Jangan-jangan dia gak kenal manusia? Jangan-jangan aku diterkam? Jangan-jangan…? waaahh…takut…” Ical terbirit menjauhi orang hutan. Belum jauh dia lari, langkahnya mendadak terhenti. Matanya terbelalak semakin lebar. Jantungnya berdegup semakin kencang. Nafasnya tersengal

”Harimau?!” dia tidak percaya. ”Sabar, sabar. Jangan lari,” batinnya menenangkan diri.

Di luar dugaan Ical, harimau loreng itu berjalan pelan ke arah Ical. Degup jantung semakin tidak karuan. Di kanan kirinya diliputi pohon pinus rindang dengan cabang-cabangnya yang rapat. Ical merapat ke pohon dan mencoba menggapai cabang terendah dari pohon itu, merayapi pohon, dan…

”Sluruut…” dia gagal memanjat pohon.

”Uh, bodoh! Manjat pohon aja gak bisa,” gerutunya.

Harimau tampak semakin dekat. Ical belum menyerah, dia kembali memanjat pohon pinus. Dan, ”Yup, berhasil,” cabang paling rendah berhasil dia  gapai. Tubuh tambunnya kini telah menduduki satu cabang pinus.

”Husy! Husy!Macan cantik, ayolah pergi dari sini,” dari atas pohon dia berusaha mengusir makhluk di bawahnya.

”Auuummm…” harimau menatap Ical ganas. Aumannya membuat gemetar tubuh di atas pohon itu.

”Auuummm…” harimau merapat dan mencakar-cakar batang pohon. Ical makin gemetar. Ia bermandi keringat.

”Ya Tuhan, tolong aku…, jangan biarkan aku mati dimakan harimau ini,” harapnya dalam hati. Ia pejamkan mata supaya tidak melihat mata ganas makhluk di bawahnya.

”Tak-tak, tik-tak-tak-tak, tak-tak-tik-tak-tik-tak, ” suara bambu dipukul mengagetkan Ical. ”Hm, apakah ada orang di sini?” batinnya.

”Ya Tuhan, semoga mereka bisa bantu aku,”

”Ayo, cepetan. Hari sudah sore. Bentar lagi petang! ” ajak segerombolan anak yang membunyikan bambu itu.

”Ayo kita kejar-kejaran. Yang lebih dulu sampai di kampung dialah yang menang,” ajak seorang anak yang lain.

”Ayo. Siapa takut?!” tantang yang lain. Tidak lama kemudian mereka berlari, berkejar-kejaran ke arah barat. Yah, mungkin kampung ada di sebelah barat. Dari atas pohon Ical memperhatikan langkah ramai anak-anak sebayanya itu.

”Hey, orang kampung! Ke sini dong! Tolong aku!” teriak Ical ke arah gerombolan anak tersebut.

”Auuumm…” suara harimau kembali membuat Ical deg-degan.

”Hey, anak kampung…”

 Anak-anak itu menghentikan larinya. Merasa tidak nyaman dengan sebutan anak kampung, segerombolan anak-anak itupun menatap marah ke arah Ical.

”Ayo kita lanjutkan lari. Buat apa peduli sama anak sombong kayak dia, ” perintah seorang kribo dari mereka seraya melirik sengit ke arah Ical.

”Orang Kini kali Ka! Pantes begitu. Ayo kita lari lagi,” imbuh seorang yang membawa panah bambu di tangannya.

”Yuk…” mereka ramai berlarian.

”Hey, dasar orang kampung! Bodoh! Kuno! Bawanya panah sama ketapel aja sombong! Gak mau nolong aku…!” teriak Ical yang merasa punya laptop dan Hp. Yach, Ical adalah anak Kini, anak modern. Siswa kelas 5 SD itu lahir dan besar di Kini. Mainannya adalah komputer dan play station. Komunikasinya dengan Hp. Buku catatannya adalah laptop. Kendaraannya adalah mobil. Yang dia panjat bukan pohon, melainkan tangga berjalan dan rumah bertingkat.

”Hik, hik, hik. Tuhan, malang benar nasibku. Kenapa Kau turunkan aku di negeri seperti ini?! Hik, hik…” Ical menangis. Dilihatnya harimau yang kini bersandar di pohon tepat di bawahnya. Ingin sekali Ical meloncat dari pohon dan segera lari kembali ke negerinya. Tapi mana mungkin. Jika ia meloncat, harimau akan kaget dan bukan tidak mungkin dia akan bangkit dan mengejar Ical. Sedangkan untuk turun perlahan, Ical butuh tenaga ekstra. Maklum, seumur hidupnya baru kali ini Ical memanjat pohon. Baru kali ini juga dia bertemu degan binatang seram di hutan belantara. Kalau mungkin orang-orang yang tinggal di sekitar hutan bisa menjinakkan harimau, Ical hanya bisa menjinakkan dirinya sendiri agar harimau tidak megejarnya lagi.

”Heng, heng, heng…heng, heng, heng….” tangis Icalpun meluncur. Matanya yang sipit ia pejamkan rapat-rapat agar tidak melihat mata harimau yang tajam menatapnya. Takut, khawatir, kesal, benci jadi satu. Ia pasrah.

”Aum, aum, aum…hKene hGhurah hRaja hswadoh ani. Ghoum…hKene hGhurah hRaja hSwadhoh Sheina,” suara bocah terdengar asing di telinga Ical. Ia terkaget.

”Aum, aum, aum…hKene hGhurah hRaja hswadoh ani. Ghoum…hKene hGhurah hRaja hSwadhoh Sheina, Ghaum…”

Ical segera membuka matanya. Isak tangisnya kini terhenti. Dilihatnya anak laki-laki sebaya dirinya dengan lihai menjinakkan si loreng. Dari mulutnya keluar kata-kata asing., kain yang melilit di kepalanya serta sebatang kayu kecil di tangan kanan memantapkan keberaniannya. Dengan lihai dan lembut dia berhasil menggerakkan harimau loreng menjauh dari pohon tempat Ical bertengger.

Wah, titisan dewa penyelamat darimana? Batin Ical. Hatinya lega. Degup jantungnya mulai teratur. Airmatanya dihapus cepat.

”Hay, orang kam…eh, dewa penyelamat. Terimakasih ya!” dengan binar mata yang memancar Ical berkata keras pada bocah di bawahnya. Senyumnya mengembang.

”Ya, tak apa,” bocah itu membalas senyum Ical. Tulus.

”Bantu aku turun dong!” pinta Ical pada bocah berambut keriting itu.

Yup!

”Makasih ya,” Ical mengusap celananya yang kotor.

”Oh ya, kamu siapa? Anak kam…Eh, maksudku, asli sini?”

”Ya, aku anak kampung. Kampung Dulu,” ucap bocah itu dengan senyum mengembang. Ical tidak enak. Tersinggung? Mungkin. Walau bocah itu tidak bermaksud menyinggung.

”Kenalkan. Aku Wiro. Asli anak kampung Dulu,” Wiro mengulurkan tangannya. Ical dengan cepat menyambut uluran tangan Wiro. ”Ical,” ucapnya.

”Kamu orang Kini ya?” Ical mengangguk malu.

”Oh…”gumam wiro. Icalpun tersenyum tipis.

”Ya, kenalkan, aku Ical dari negeri seberang. Hm, kita…”

”Sahabat?” Wiro menyela. Ical terdiam. Tidak disangka dia bertemu dengan orang primitif seperti Wiro. Kulit hitam, lusuh, bermain di hutan, dengan panah bambu dan ketapel, bertelanjang dada, berkendaraan egrang, dan tanpa alas kaki. Kemarin-kemarin sosok Ical hanya ia jumpai di siaran anak televisi seperti `si Bolang`, `Surat Sahabatku` dsb. Karena di kawasan Real Estate tempat dia tinggal, yang ada hanyalah anak-anak gedongan yang borjuis. Dia dan teman-temannya berawakan bersih, baju mentereng, bermain dengan tekhnologi dan berkendaraan mobil atau motor. Lapangan bermainnya bukanlah hutan melainkan lapangan luas, mal-mal, taman wisata, pantai wisata, Play Station, Warnet, Roal coaster, dll.

Sedangkan sosok seperti Wiro, di matanya adalah sosok kuno yang sangat tidak pantas untuk berteman dengannya. Yah, Ical aniprimitif!

”Hay Ical! Sahabat?” Wiro membuyarkan lamunan Ical.

“Iy, iya. Kita sahabat,” ical terpaksa. Yah, terpaksa bersahabat karena Wiro menawarkan itu padanya. Karena dia tidak punya orang lain di hutan ini selain Wiro. Walau hati Ical enggan menerima persahabatan ini.

Kenapa harus terpaksa, bukankah dia dewa penolong yang telah menyelamatkanku dari harimau tadi? Seharusnya aku berterimakasih dan mau bersahabat dengannya. Batin Ical.

”Yuk kita cari sungai!” ajak Wiro.

”Untuk apa?”

”Mandi. Badan kita kotor,”

Mereka berjalan cepat menyusuri hutan.

”Oya, kenapa kau bisa sampai di sini? Mana rumahmu?”

”Aku?”

”Ya,”

”Hm, rumahku di kota Kini. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa berada di sini,” Ical polos.

”Lho! Ko` bisa?” Wiro menyelidik. Ical angkat bahu.

”Kawan, yang aku dengar orang Kini itu jahat-jahat ya,” Wiro berkata datar.

”Ko`?” Ical heran.

”Iya. Kata bapakku, orang Kini itu senengnya bikin sesuatu baru yang gak peduli alam. Apapun dibuat seenaknya. Di Kini juga katanya hutan-hutan sudah langka. Sungai-sungai kotor. Udara kotor. Lautan kotor. Bumi Kini semakin panas. Langitnya tipis. Bener gak Cal?” Wiro menoleh ke Ical. Ical no comment.

”Orang Kini juga katanya sombong-sombong. Gak mau ingat sama warisan luhur nenek moyangnya,” lanjut Wiro. Ical berkernyit.

”Siapa bilang? Gak semua orang Kini gitu ko`!” Ical protes.

”Yah, paling satu dua orang aja yang gak gitu,”

”Oya, kabarnya di Kini juga sering ada bencana ya? Kata bapak kejadian banjir, longsor, kebakaran, badai dan gempa bumi jadi makanan sehari-hari orang Kini. Bener gak?” Wiro menginterogasi. Ical tak mampu protes. Ia mengangguk pelan.

”Hah, bersyukur aku terlahir di Dulu. Aman-aman…” Wiro mempercepat langkah egrangnya. Ical menarik ke atas sudut bibirnya, lucu.

Sepanjang jalan menuju sungai, Ical memperhatikan Wiro yang lihai berjalan di atas egrang. Ical kagum. Hebat! Sesekali Wiro berhenti ketika dilihatnya burung bertengger di dahan pohon. Dengan mata jeli dia menembak burung dengan ketapelnya. Ical takjub. Hebat! Tapi Ical heran ketika dilihatnya Wiro melepaskan kembali burung yang sudah berhasil dia ketapel.

”Ko` dilepas lagi Ro?”

”Iya, kasihan kalau aku bawa pulang, ntar cicit-cicitnya gak ada yang ngasih makan. Cuma latihan ngetapel biar lihai aja Cal,”

”Oh…”                                                                                                    

”Tuh sungainya sudah dekat. Ayo kita siap-siap mandi!” ajak Wiro ketika tiba di tepi sungai berbatu yang alirannya tidak terlalu deras.

”Mencebur?” ical heran.  

”Ya!”

”Oya, kalau kamu ingin berak, di sungai yang bawah ya,”

Ical tertegun. Hi…mana mungkin! Aku tidak terbiasa berak di tempat kayak begini. Mending nanti saja, nunggu barangkali nemu WC. Batinnya.

Gak apa-apa ko`. Daripada di jamban kampung, baunya, huek!” Wiro menjelaskan dengan mimik lucu.

Akhirnya Ical yang memang ingin berak dari tadi, terpaksa mengeluarkan kotorannya di sungai bagian bawah. ”Hey, asyik juga ya Ro. Gak perlu nyiram, dah langsung hanyut!” Ical cekikikan duduk berendam di sungai. Tidak lama kemudian mereka berceburan di sungai. Saling lempar butiran air murni sungai hutan.

”Hey, Cal, ini sabunnya,” Wiro melemparkan batu keset sebesar kepalan tangan ke arah sahabat barunya. Dengan sigap Ical menangkap.

”Sabun?”

”Ya, digosok-gosok…” Wiro menjelaskan dengan mempraktikkannya.

”Ha? Kayak Didi kempot ya Ro. He..he..” Kosokan watu neng kali nyemplung reng kedung…

Asyik juga jadi anak Dulu. Bebas bermain di luar, nyemplung ke sungai, gak dikejar mama papa yang overprotektif. Gumam Ical.

Selesai mandi mereka yang tidak bawa handuksegera loncat-loncat menjatuhkan butiran-butiran air dari tubuh mereka. Tidak lama kemudian, Ical mengeluarkan benda mungil dari dalam saku.

”Apa itu?” Wiro antusias.

”Ini?” Wiro mengangguk. ”Handphone,”

”Oh, hempon,”

”Wuih, keluar bunyinya!”

”Yah, gak ada sinyal!” Ical mengibaskan Hp nya.

”Apa? Sandal? Wiro memang tidak biasa pake sandal Ical,” Wiro tanggap. Ical melongo.

Wiro menjinjing tas punggung Ical. ”Berat banget. Isinya apa Cal?” selidiknya.

”Buka aja!” perintah Ical. ”Wow, kotak apaan ini?” Wiro penasaran.

”Itu? Laptop!”

”Oh…leptop” Wiro mengangguk antara bingung dan takjub.

”Oya, aku punya permainan asyik loh!” Ical mengambil laptop dari dalam tas. Dibukanya beragam game favoritnya: Onet, Pinball, Rally, Spider Solitaire, dll.

”Wuih, kotak ajaib Cal! Ada gambarnya. Ih, ada suaranya juga!”Wiro takjub. Dielus-elusnya laptop Asus terbaru Ical. Mereka asyik bergame ria. Walau Wiro Cuma bisa lihat-lihat dan jerit-jerit takjub. Sesaat kemudian ditunjukkan oleh Ical foto kota-kota terkenal di dunia, foto 7 keajaiban dunia, tekhnologi, dan gambar-gambar yang berhubungan dengan IPTEK sembari menceritakan sedikit hal yang diketahuinya tentang gambar dan foto-foto itu. Ical bangga bisa berbagi,  walau dalam hati ia heran juga pada Wiro yang geleng-geleng saking takjubnya. He..he..kayak gak pernah lihat aja nih anak. Batinnya.

”Hebat-hebat. Orang Kini memang pinter dan hebat ya. Punya kotak ajaib yang hidup!” komentar Wiro.

”Yang hebat bukan orang Kininya Ro, tapi mereka yang membuat Kotak ini. Kalau kamu disuruh milih, pinginnya jadi yang mana? Yang membuat atau yang punya laptop?”

”Hm…yang mbuat dong. Kan tidak semua orang yang punya laptop bisa mbuat laptop. Tapi kalau yang mbuat, sudah tentu dia punya. Iya kan?”

”Yup, kamu hebat Ro. Mau jadi produsen laptop. Ha..ha..ha..” Ical menepuk-nepuk pundak Wiro.

”Kawan, sepertinya hari makin petang. Mari kita pulang, ” Wiro mengamati lingkungan sekitar.

”Ya, tapi kemana aku pulang? Aku tak tahu jalan yang benar untuk pulang ke rumah,”

”Tenanglah kawan, rumah kita luas. Rumahmu tidak hanya di rumahmu,” ujar Wiro. Ical berkernyit dahi. ”Maksudnya?”

”Hm…kita ikuti jalan ini saja. Sebelah barat sana ada kampung. Kampungku, kampung kita!”

Ical mengikuti langkah Wiro yang berjalan di atas egrang.

Belum jauh berjalan, Wiro menghentikan langkahnya dan segera turun dari egrang. Matanya menatap tajam pada segerombolan orang yang berjalan di hutan. Dua orang diantaranya menjinjing senapan berlaras panjang. Sorot matanya mencari-cari binatang buruan yang menjadi sasarannya. Senapannya siap meluncurkan peluru jika buruan itu sudah menampakkan diri. Dua orang yang lain menghisap rokok dan segera membuang sisa puntungnya ke rerumputan yang kering. Wiro tidak percaya.

”Dor!” bunyi senapan itu memekakkan telinga.

”Krasak-krasak. Bruk!” seekor burung terkapar jatuh ke tanah.

”Dor!” peluru kedua kembali meluncur. Seekor kijang terkena peluru itu, namun ia berhasil melarikan diri dari kejaran pemburu.

”Cal, orang-orang Kini itu akan merusak rumah kita!” seru Wiro.

”Dasar orang Kini! Perusak! Penjahat!” Wiro kesal. Dilemparkannya egrang ke tanah. Dia berlari ke arah pemburu.

”Wiro, tunggu! Kau mau ke mana?” teriak Ical. Wiro tak berkutik.

”Ro, jangan tinggalkan aku sendirian…Aku tak tahu harus pulang kemana! Aku takut Ro!” teriak Ical lagi. Wiro berhenti dan membalikkan tubuhnya ke arah Ical.

”Pulanglah ke rumahmu Cal! Pulanglah ke seberang! Rumah kita di sini tak seaman dulu Cal!” seru Wiro.

”Tapi Ro, aku tidak mungkin…” kata-kata Ical terhenti. Tenggorokannya tercekat ketika disaksikannya beribu burung berjatuhan ke tanah. Terkapar, mati. Sejurus kemudian, angin hutan bertiup perlahan, menyalakan puntung rokok di rerumputan kering. Api kecil itu kini berubah menjadi lidah merah yang berkobar. Nyalanya menerangi hutan yang hampir petang. Yah, kebakaran!

 Ical tidak percaya. Ia lari menyusuri hutan tak tentu arah. Ia ingin mencari rumahnya. Namun tubuh tambun itu tak bisa berkutik ketika kecepatan larinya kalah cepat dengan jilatan api yang kini mengenai tubuhnya.

”Augh…Tidak…Panas…” ia menjerit. Tubuhya meringsut menahan nyeri dan panas yang membakar. Seketika Ical merasakan sentuhan lembut menyeka wajahnya.

”Anakku, syukurlah kamu sudah sadar. Tadi kamu terjatuh dari eskalator Mall Citra!” seorang wanita setengah baya tersenyum girang. Segera ia nyalakan AC dengan freonnya untuk mendinginkan udara di kamar bernuansa biru itu.

”Sudah tidak panas kan nak?” tanyanya.

Ical terdiam. Matanya menerawang jauh ke jendela mata mama, ke atap kamar yang biru, ke langit tipis yang tidak lagi biru!

Orang Kini. Orang Dulu! Batinnya.

Pekalongan, 6 Februari 2008

Foot notes:

          egrang : mainan dari bambu dengan bagian khusus untuk tempat menapakkan kakinya. Mainan ini digunakan dengan cara menaikinya untuk berjalan. Biasanya egrang terdiri dari dua buah (sepasang, kanan-kiri)

          Freon: merupakan bahan pendingin udara yang diketahui sebagai penyebab menipisnya lapisan ozon di atmosfer bumi. Semakin tipis ozon, semakin panas suhu bumi dan semakin tinggi permukaan laut= (efek rumah kaca)

Ditulis dalam AnAk-anak. Tag: . Leave a Comment »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: