Satu Desember Untuk Rara

SATU DESEMBER UNTUK RARA

By: St. Khuzaiyah

Pagi ini masih seperti kemarin. Suasana kelas riuh. Siswa-siswi bergerombol di sudut pintu masuk dan di meja-meja favorit mereka (masing-masing gerombolan punya meja favorit sendiri sebagai basecamp mereka ngumpul. Ada yang di meja dekat pintu masuk, meja Olivia yang dekat jendela, Meja Dino yang paling stategis untuk ngelirik anak-anak Bahasa yang cantik-cantik, dll) Gerombolan itu membentuk gap-gap yang memisahkan antara siswa miskin dan melarat, siswa cantik dan kurang cantik (kalau nggak mau dibilang jelek), siswa pintar dan kurang pintar, siswa gaul dan siswa kuper, serta siswa aktif dan siwa pasif.

Aku menikmati kesendirianku di bangku paling belakang. Diantara gap-gap itu, hanya akulah yang menciptakan gap dengan anggota seorang saja: hanya diriku! Only one, not to others! Bukannya aku malas ngajak yang lain buat gabung di gapeku, tapi karena mereka sudah lari terlebih dahulu ketika mendengar namanya ku panggil. Kejam.

Yah, kalau orang bilang aku adalah orang yang harus dijauhi, mungkin ada benarnya. Walau aku tidak terima dengan sikap mereka. Kalau orang bilang aku adalah orang berpenyakit, mereka semua benar. Tapi sekali lagi kukatakan: aku tidak terima dengan sikap mereka! Boleh saja mereka mencerca orangtuaku, tapi mereka tidak berhak mencercaku. Boleh juga mereka menjauhi orangtuaku, tapi mereka tidak berhak menjauhiku. Sekali lagi tidak!

“Hey, Ra! Ngapain sih, dari tadi ngelamun terus,” Faza menepuk keras pundakku. Matanya mencoba mengorek serpihan layu yang berserakan di bola mataku.

“Eh, Faza. Tumben kamu berangkat siang. Biasanya jam setengah tujuh sudah standby di kelas,” ku coba alihkan perhatian Faza.

“Iya, tadi habis ngantar adik ke sekolah dulu. Biasanya Ibu yang nganter, tapi beliau mesti belanja ke pasar pagi banget, jadi ya…aku yang ngantar deh,”jelas Faza.

“Oya, barusan lagi ngelamunin apa sih? Ko` kayak serius banget,” lanjut Faza.

“Siapa yang ngelamun? Sok teu aja. Aku cuman lagi mikir, ko` ya masih ada orang kayak kamu di dunia ini,” aku datar. Faza berkernyit dahi.

“Maksudnya?” matanya menatap aneh, mencoba menerawang ke anganku yang masih berkeliaran

“Ya..aneh aja. Sementara temen-temen sekelas gak mau berteman denganku, kamu masih saja menggodaku. Sementara yang lain menjauhiku, kamu malah mendekatiku!” aku melemparkan tatapanku ke sudut ruangan.

“Rara! Berapa kali aku katakan, jangan kamu usili persahabatan kita. Biarkanlah persahabatan itu tumbuh subur diantara kita. Jangan kamu ganggu,” Faza memegang kedua pipiku, memutar kepalaku hingga mata kami berpandangan. Kata-katanya pasti, penuh ketegasan. Mengisyaratkan bahwa ia tidak senang dengan apa yang barusan ku katakan.

“Rara…Please, jangan nodai persahabatan kita. Percayalah, aku sayang kamu Ra…” Faza menggapai tubuhku, ia peluk tubuhku erat. Ada kehangatan di sana. Kehangatn yang tidak akan pernah bisa diberikan oleh orang lain.

***

“Ra, bentar lagi aku mau ngasih surprise buat kamu!” Faza datang dengan langkah seribu. Jilbab putihnya melambai-lambai ikuti gerak cepat tubuh cekingnya. Bibir tipisnya tersenyum lebar. Matanya berbinar. Ada kebahagiaan di sana.

“Aneh. Mau ngasih kejutan masa dibocorin dulu. Dimana-mana yang namanya kejutan tu dirahasiain Faza…” aku komentar.

“He…he…biar kamu gak terlalu surprise aja nantinya,” kilahnya.

“Kejutan apaan sih?”

“Ada deh…tunggu aja tanggal mainnya. Okey?” dia melirik ke arahku. Aku angkat bahu. Ia duduk di sebelahku dengan sebuah buku kecil tertenteng di tangannnya  “Kado Buat Sahabat” . Buku yang bagus. Pikirku.

“Oh, sudah dapat teman baru Za? Pantesan kita-kita dilupain,” Ryana ketus. Matanya melirik sengit ke arahku. Dia datang bersama gank `Bintang Tujuh` yang terdiri dari Venty, Nadia, Vera, Titin dan Cintya. Sebenarnya Faza dulu ikut pada gank mereka, tetapi karena ia tidak tahan dengan sikap mereka yang ekstrim, akhirnya ia memilih untuk keluar.

“Kamu sudah nggak nganggep kita sebagai teman? Atau…kamu mau jadi pahlawan buat si Rara ini?!” Vera menunjuk ke arahku dengan sengit. Bibirnya moncong. Kalau saja ada karet di dekatku, sudah kuikat bibirnya erat-erat.

“Vera, apa maksudmu? Kamu gak berhak ngomong gitu. Asal kalian tahu, nggak ada yang berhak mengganggu persahabatanku sama Rara. Termasuk kalian dan penyakit yang diderita Rara,” Faza tegas. Matanya menyala. Aku tahu, dia sangat marah dengan mantan sahabatnya itu.

“Oh gitu ya?! Okey, semoga kamu ketularan penyakit anak kotor ini,” Vera makin sengit melemparkan jarinya ke arahku. Kelima temannya bersungut.

“Hey, asal kalian tahu ya, penyakit Rara gak akan pernah nular kalau kita bersahabat. Kalian bodoh!” Kalimat Faza mengiringi kepergian Vera cs. Ia emosi.

“Terserah!!!” Vera menoleh dan mengibaskan tangannya ke arah kami.

“Dasar. Sok suci!” Faza masih tidak terima. Aku mengelus dada.

“Sudahlah, Za. Gak perlu kamu tanggapin kata-kata mereka,” aku rangkul dia pelan, mencoba menenangkan.

“Iya Ra, tapi mereka gak bakalan diam kalau kita gak tegas. Mereka semua memang jahat!” umpat Faza.

“Sssttt… Za. Sudah! Gak enak dilihatin teman yang lain. Aku juga gak apa-apa ko`,” aku mencoba menghibur. Walau sebenarnya jauh di dalam hatiku, aku juga sakit. Sangat sakit.

“Ra?” Faza tidak percaya. Aku mengangguk dengan senyum yang sengaja ku buat semanis mungkin. Senyum bertopeng. Itulah!

Yah, aku selalu berusaha tersenyum menyembunyikan airmata yang sebenarnya ingin tumpah. Air mata yang terbendung ketika kata-kata menyakitkan itu menghampiri telingaku, mengobrak-abrik perasaanku. Kata-kata yang selalu membuatku tidak terima. Aku benci dengan semuanya!

***

“Za, kayaknya kamu sibuk banget akhir-akhir ini? Sampai harus izin gak ikut pelajaran juga,” aku protes pada Faza yang akhir-akhir ini makin sibuk.

“Ngurusin OSIS mulu, sampai lupa ama aku,” lanjutku.

“Ih, Rara. Ko` gitu sih? Kalau aku sibuk di OSIS, ya memang harusnya gitu. Rara tahu kan betapa sibuknya jabatan sekretaris dalam OSIS. Jadi Rara mesti maklum. Gak boleh marah kayak gitu!” Faza panjang lebar. Sebenarnya gak usah dikasih tahu juga aku sudah tahu kalau sekretaris OSIS itu memang sibuk.

“Bukan itu maksudku,” aku jutek.

“Lalu?”

“Lagi sibuk nyiapin apa sih?” selidikku.

“Oh…itu. Hm…lihat aja deh ntar tanggal mainnya. Okey?” Faza melirik genit ke arahku.

“Eh ni anak, ditanya malah gitu. Emang kenapa sih? Rahasia?”

“Hm…nggak juga sih. Tapi…semi rahasia. Hahaha…” Faza ngakak. Tatapan teman-teman mendadak menyoroti kami. Mereka tampak benci. Ya, mereka benci ketika aku dan Faza akrab dan tampak bahagia. Terutama si Vera cs. Faza yang menyadari reaksi teman-teman, justru mengeraskan tawanya.

“Hahaha…hari ini kita dapat kebahagiaan Rara…” ucapnya keras.

Aku melongo. Kebahagiaan apa? Kebahagiaan dari Hongkong? Dasar, Faza kumat. Gerutuku.

***

Pagi ini kelas tampak sepi. Sampai jam setengah sembilan anak-anak belum juga datang. Seperti biasa, aku duduk di bangku paling belakang. Menikmati kesendirian sembari menanti kehadiran anak paling cerewet versiku, siapa lagi kalau bukan Faza.

“Rara…ko` masih di kelas sih? Tuh teman-teman sudah pada nyiapin diri di aula. Sebentar lagi acara mau dimulai loh,” Faza berteriak sembari menghambur ke arahku.

Aku melongo.

“Acara? Acara apaan?” aku masih tak tahu.

“Ya ampun, Rara. Aku lupa. Sorry. I have special event for you. It`s surprise for you! “ Faza sok British. Aku makin tak tahu. Segera ia menarik lenganku dan membawaku berlari kencang. Seakan ada tenaga luar biasa yang merasuki Faza.

“Faza, berhenti. Apa-apaan sih?” aku mencoba menahan tarikan Faza. Tapi ia lebih kuat. Ia tak mempedulikan ucapanku.

Setelah sampai di Aula, Faza berhenti dengan nafas tersengal-sengal. Di tempelkan kedua tangannya di kedua pipiku. Dia arahkan wajah dan tatapanku pada sebuah pemandangan  yang tak kusangka: aula sekolah tampak beda. Ada semacam warna lain di sana. Sebuah meja panjang dengan empat kursi tertata rapi. Di atasnya terdapat rumbai-rumbai dari kertas hias berwarna-warni dan tersusun saling silang. Kuperhatikan spanduk yang jadi background meja dan kursi tersebut.

Seminar Hari AIDS Sedunia

“DENGAN SEMANGAT HARI AIDS

MARI  JAUHI HIV/AIDS, TANPA HARUS MENJAUHI PENDERITA HIV/AIDS!”

Pekalongan, 1 Desember 2007

Aku tak percaya dengan semua ini. Terasa ada kekuatan lain menjalari tubuhku. Ada airmata yang diam-diam bersembunyi di balik mataku. Airmata yang ingin segera tumpah dan mengatakan : Aku terharu.

Ku tatap mata bening Faza. Ada kebanggaan di sana.

“Ra, aku sama anak-anak OSIS gelar acara ini special buat kamu. Aku ingin semua mata terbuka untuk menatap kamu apa adanya,” jelas Faza.

“Dan kamu…jadi narasumbernya juga!” lanjut Faza setengah merajuk.

“Apa?”

“Ya. Aku ingin kamu curhat di sini. Aku ingin kamu tumpahkan semua perasaanmu di sini. Aku ingin mereka semua bisa ngehargai kamu Ra!” Faza menatapku dalam.

“Ra, Please…” dia memohon.

Aku tersenyum berat. Ya, sangat berat. Karena dengan kata lain, jika aku jadi narasumber, maka seluruh warga sekolah akan makin tahu bahwa aku adalah pengidap HIV. Dan tidak menutup kemungkinan mereka semua akan dengan terang-terangan menghina dan mengucilkanku. Jujur, aku malu. Aku malu dengan semua ini.

Diam-diam hatiku menjerit “Kenapa Tuhan menakdirkanku terlahir dari orangtua pengidap HIV?. Aku…aku…ah entahlah!”

Faza masih menatap dalam ke bola mataku.

”Tapi Za, aku…” sejurus kemudian.

”Ssstt…jangan kepikiran macem-macem. Aku tahu ketidaksiapanmu. Aku tahu semua ini mungkin akan membuat kamu malu. Tapi..percayalah, semua akan baik-baik saja. Inilah satu-satunya jalan untuk menyadarkan mereka semua,” terangnya lembut. Aku masih belum bisa mengangguk. Terlalu berat.

“Makasih Za…” hanya kalimat itu yang terluncur lirih.

Jauh dalam hatiku, ada harapan baru yang bersemai perlahan : Mereka semua akan tahu, bahwa HIV/AIDS hanya akan menular melalui hubungan seks, darah dan cairan tubuh. Bukan melalui komunikasi ataupun persahabatan. Jadi, tidak ada alasan bagi mereka untuk menjauhiku! Aku tersenyum, antara getir dan kebahagiaan.

“Semua akan berubah Ra…” bisik Faza.

                                                                        Paninggaran, 20 Maret 2008

                                                                       

 

 

 

Ditulis dalam CerPeN. 1 Comment »

Satu Tanggapan to “Satu Desember Untuk Rara”

  1. Nadia Says:

    baru setengah q baca. tapi q dh tw klo nih cerpen keren bgt. Pertama2nya q kira si Faza tuh cowok! Iyalah, dimana2 juga yg namanya Faza itu cowo! Sedikit kecewa juga sih, soalnya q punya cerita sama org yg namanya Faza. He3x. Tapi gpp. Aku cuma mo bilang: ceritanya keren bgt. Salut ma mbk Siti Khuzaiyah! Thx! :p


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: