Ujian Akhir

Bocoran dari Pak De

Oleh: Siti Khuzaiyah

Jadwal ujian akhir kelas 6 sudah diumumkan. Entah kenapa, tiba-tiba Doni merasa takut dengan ujian yang akan berlangsung.. apalagi selama ini Doni tergolong siswa yang malas belajar. Sepulang sekolah ia lebih senang bermain dengan teman-teman sekelompoknya. Saat malam tiba ia juga lebih memilih menonton TV daripada belajar. Padahal sudah berkali-kali Ibu dan Bapak mengingatkan Doni untuk giat belajar, tetapi dia selalu menolak dengan berbagai alasan.

“Nak, belajar sayang. Biar nilai di raportmu bisa lebih baik,” pinta Ibu pada suatu ketika.

“Ah, ibu. Masa Doni harus belajar terus. Kan tadi sudah belajar bersama teman-teman di kelas,” kilah Doni.

“Iya nak, ibu tahu. Tapi walaupun sudah belajar di kelas, kamu harus mengulang pelajaran itu di rumah. Biar ilmu yang didapatkan dari kelas tidak hilang begitu saja,” terang Ibu sembari menepuk pundak putra satu-satunya..

“Iya, iya Bu!” Doni tampak malas. Mulutnya mengatup maju.

“Ingat lho nak, tugas utama seorang siswa adalah belajar. Bukan bermain atau menonton TV saja!” tegas Ibu seraya berlalu meninggalkan Doni yang sedang asyik dengan tayangan TV favoritnya.

“Huh, Ibu. Sebel!” gerutu Doni.

***

“Dor!” Ryan mengagetkan Doni dari belakang.

“Yan! Mengagetkan saja!” Doni tidak terima dengan ulah sahabatnya.

“He..he..maaf,” ucap Ryan.

“Doni, kamu kenapa? Dari tadi ko` diam saja,” tanya Bimo yang berdiri di samping Ryan. Sejenak Doni diam.

“Sahabat, kenapa tiba-tiba aku ko` merasa takut…” ucap Doni pada Ryan, Bimo dan Uncup yang berada di depannya.

“Takut kenapa? Takut dimarahi Bu Tuti lagi?” Ryan kaget. Memang selama ini Doni dan kelompoknya yang terdiri dari Ryan, Bimo dan Uncup seringkali membuat ulah. Mereka sering tidak ikut pelaajran di kelas karena asyik memancing di Pantai Pasirsari atau bermain playstation. Hampir setiap ulangan ia mendapatkan nilai 2, 3 atau 4. Karena alasan inilah mereka sering dipanggil bu Tuti, guru BK di SD 10 Pekalongan tersebut. Sebenarnya bu Tuti tidak pernah memarahi mereka. Beliau hanya mengingatkan lebih tegas bahwa tugas utama seorang pelajar adalah belajar. Tidak hanya bermain dan santai-santai saja. Beliau juga mengingatkan bahwa jika mereka tetap tidak mau belajar, masih senang membolos, dan nilai ulangan mereka masih 2, 3 atau 4, maka bisa jadi mereka tidak lulus ujian akhir. Dengan kata lain mereka tidak dapat melanjutkan ke SMP.

“Hm, tidak. Siapa bilang aku takut dimarahi bu Tuti? Aku takut karena sebentar lagi kita ujian,” terang Doni kemudian.

“Oh, lalu kenapa Don?” tanya Bimo penasaran.

“Aku takut tidak lulus Bim. Aku takut tidak bisa mengerjakan soal ujian. Selama ini kan kita tidak pernah belajar,” Doni lemas. Ia merasa kecewa karena selama ini ia selalu menolak setiap kali diingatkan ibu untuk belajar.

“Ting! Aku punya ide,” tiba-tiba Uncup berujar dengan mata berbinar.

“Ide apa?” yang lain penasaran. “Begini, Don. Pak De kamu kan kepala sekolah di SD kita. Kenapa kamu tidak minta bocoran soal ke beliau saja? Dengan begitu kita akan mudah mengerjakan soal waktu ujian nanti,” Uncup menjelaskan. “Wah, ide bagus Cup! Kenapa dari tadi aku tidak berpikir sampai kesitu ya?” Doni girang. Sekarang ia punya tenaga baru. Ketakutan akan ujian akhir seketika hilang. Doni berharap pak De Firman bisa memberikan bocoran soal ujian untuk keponakannya ini. Pasti beliau kasihan padaku. Mana mungkin seorang pak De rela melihat keponakannya tidak lulus ujian? Batin Doni.

“Kapan kamu mau ke rumah pak Firman, Don?” tanya Ryan. Doni berpikir sejenak.

“Besok aku ke sana. Nanti kalian menemani ya,”

“Baiklah. Tapi kalau nanti kamu dapat bocoran soal, kita diberitahu ya,” pinta Ryan.

“Baiklah,” Jawab Dino.

***

“Assalamualaikum…” ucap Dino setelah tiba di depan pintu rumah pak Firman.

“Walaikumsalaam..” jawab Bu Ina, istri pak Firman. “Oh, nak Doni dan temannya. Ada apa ya nak?” tanya Bu Ina.

“Kami ingin ketemu pak De, bu De…” jawab Doni.

“Oh, mau ketemu pak De. Sebentar ya, bu De panggilkan dulu. Silahkan duduk,” bu De mempersilahkan duduk seraya masuk ke ruang tengah memanggil pak De.

“Oh, Doni. Ada apa nak?” pak Firman menghampiri mereka berempat. Ryan, Uncup dan Bimo tampak gugup. “Begini pak De, kami mau minta bocoran soal ujian akhir,” Doni memberanikan diri.

“Bocoran soal ujian?” pak Firman tampak kaget.

“Iya pak De, karena sebentar lagi ujian. Doni dan teman-teman takut pak De,” ungkap Doni.

“Kenapa harus takut nak? Bukannya ujian itu hal yang wajar?” pak Firman heran.

“Kami takut karena selama ini kami tidak pernah belajar. Kami takut tidak lulus pak De,” lanjut Doni dengan suara pelan. Ketiga sahabatnya menggangguk pelan. “Pak De kan Kepala Sekolah, pasti bisa dengan mudah mendapatkan bocoran soal ujian itu,” Doni berujar seakan memohon supaya pak De nya berkenan memberikan bocoran soal ujian yang ia harapkan. Pak Firman hanya diam. Beliau tersenyum menatap raut wajah empat anak di depannya. Sejenak kemudian beliau ijin ke dalam. “Sebentar ya nak, pak De ambilkan bocoran soalnya,” ungkap pak Firman dengan senyum penuh wibawa. Tidak lama kemudian pak De kembali ke ruang tamu dengan menggenggam kertas putih yang dilipat rapi.

“Anak-anakku, bocoran soal itu ada di kertas ini. Kalian pelajari dengan baik ya,” ucap pak Firman seraya menyerahkan kertas tadi pada Doni.

“Terimakasih pak De,” Doni girang. Tidak kemudian mereka berpamitan pulang. Pak Firman tersenyum sembari menggeleng-gelengkankan kepalanya “Dasar anak-anak nakal,” gumam beliau.

***

Doni dengan cekatan membuka lipatan kertas. Dia kaget dengan tulisan di kertas tersebut. Sahabat-sahabatnya  yang berdiri mengelilinginya juga tampak tidak percaya. Mereka membaca lirih tulisan singkat itu hampir bersamaan:

 Kalau ingin lulus ujian akhir, kalian harus rajin belajar! Tidak ada yang bisa membantu kalian untuk lulus kecuali kalian sendiri. (pak De-Kepala Sekolah)

Mereka saling berpandangan. Wajah Uncup, Ryan dan Bimo tampak kecewa. Sedangkan Doni sebaliknya. Dia justru merasa bangga pada pak Firman yang bijaksana. Sejak saat itu Doni berjanji akan mulai belajar dengan giat supaya saat ujian nanti dia bisa lulus dengan usahanya sendiri. “Sobat, tidak ada kata terlambat untuk belajar kan?” Doni tersenyum kepada ketiga sahabatnya. Terimakasih pak De. Batin Doni. 

                                                                                                            Pekalongan, 13 Maret 2008

Ditulis dalam AnAk-anak. Tag: . Leave a Comment »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: