Untuk Lebaran

Bunyi bedug yang menggema diikuti lantunan takbir yang bertalu-talu menyemarakkan suasana pagi ini. Sebenarnya masih terlalu dini kalau dikatakan pagi. Adzan Subuh pun belum terdengar. Yach, baru pukul setengah empat pagi. Jujur aku masih malas untuk bangun dari tidurku. Apalagi angin yang bertiup kencang pagi ini, terasa semakin menusuk hingga ke tulang belulangku. Makum daerahku adalah pegunungan yang terletak sekitar 700 dpl. Sudah begitu, di belakang, disamping kanan kiri, hingga di depan rumahku, pohon-pohon besar berdiri dengan kokohnya. Duh, lengkap deh, membuat aku betah mendungkul di ranjang lama-lama. Apalagi selimut ‘tiger’ku yang sudah hampir 4 tahun ini, makin terasa anget. Tidur lagi ah, siapa tahu mimpi ketemu idola.

“Nduk, kamu nggak akan ikut sholat Id tha? Bapak sama Imin sudah pergi ke masjid lho,” kata-kata ibu tiba-tiba membangunkanku kembali.

“Iya, bu,” sahuku lemas.

Yach, begitulah ibu. Ada aja kata-kata yang beliau lontarkan untuk memerintahku secara tak langsung. Termasuk untuk membangunkanku.

Aku turun dari ranjang tidurku. Dengan langkah setengah malas aku menuju ke pintur dapur. Kusandarkan tubuhku di kaki pintu sembari memperhatikan apa yang sedang ibu kerjakan. Dapat kulihat, dengan begitu cekatannya, ibu mengangkat ketupat-ketupat yang telah matang dari dalam panci. Kemudian menggantungkannya pada paku-paku besar yang sengaja dibuat untuk cantelan itu.

“Bu, apa ibu tidak lelah. Dari tadi malam, ibu nampaknya tidak istirahat?” tanyaku kemudian.

“Lelah?, tentu saja tidak. Lagi pula siapa bilang ibu tidak istirahat. Tadi malam ibu tidur mulai jam sebelas, baru kemudian bangun lagi pukul dua tadi. Kamu saja yang nggak lihat ibu tidur,” jelas Ibu.

Aku hanya melongo. Ih, malunya. Ibu semalam tidur hanya 3 jam, eh anaknya malah 8 jam sendiri. Dasar kebo! Eh manusia ding.

Aku pun beranjak ke kamar mandi.

“allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, laa ilaa haillallaahu Allaahu Akbar. Allaahu Akbar walillaahilmandu”. Suara takbir semakin kencang. Aku semakin mempercepat pekerjaanku. Kukeluarkan semua yang telah dipersiapkan dari kemarin. Yang pasti yang kata ibu untuk lebaran. Aku ingat ketiga tiga hari lalu ibu pesan itu padaku.

“Zah, ini toples dicuci semua ya, untuk lebaran nanti biar kelihatan bersih,” uh, padahal nggak harus lebaran kan memang semuanya harus bersih. Ibu saja yang tak memperhatikan itu.

Nggak hanya itu, waktu aku mau makan pakai piring yang disimpan di almaripun, ibu bilang nggak boleh, katanya buat lebaran besok. Sampai serbet makan baru pun turut buat lebaran juga. Yach, semuanya untuk lebaran!

“Zah, udah siap belum? Yuk kita berangkat ke Masjid!” ajak Ibu padaku. Beliau sudah tampak rapi dengan mukena barunya.

“Duh, duh, mukena baru nih? Untuk lebaran ya Bu? Tanyaku menggoda.

“Hus, jangan keras-keras. Pemberian Bu Hajah Hanifah kemarin. Sekalian…… untuk lebaran” Jawab ibu yang diiringi dengan senyuman. Uh, dasar ibu.

Aku pun segera mengenakan mukenaku. Meskipun tak baru, yang penting bersih. Untuk lebaran! Ha…… ha…… ha……

“Wassalaamualaikum warohmatullaahi wabarokaatuh”, ucapan salam diakhir acara pagi ini, menutup ritual yang diadalan hanya dua kali dalam setahun ini.

“Waalaikummussalaam warohmatullaahi wabarokaatuh,” jawab para jamaah serempak walau tanpa aba-aba. Kemudian dengan bersholawat, masing-masing jamaah yang semuhrim bersalam-salaman. Kadang air mata pun ikut mewarnai acara salam-salam itu. Aku jadi terharu. Apalagi bila sadar dosaku sudah lebih tinggi dari Mount Evereset, rasanya sedih dan menangis, hik, hik, hik……

seketika berbagai petasan mulai dinyalakan. Dari yang sebesar korek api, hingga yang sebesar tiang listrik (bukan tingginya lho!), dan dari yang bunyinya “Thar”, hingga yang bunyinya dor!!, semuanya membuat suasana terasa begitu beda dari biasanya..

Namanya juga tradisi, meski sudah dilarang untuk menyalakan petasan di sembarang tempat, tetap saja nggak bisa dicegah. Setiap tahun, pasti selalu rame oleh bunyi petasan.

Tak lama setelah itu, satu per satu jamaah meninggalkan masjid. Begitu juga aku dan ibu. Sedangkan Bapak dan Imin, adikku, langsung ke makam nenek untuk membersihkan sekitar makam.

Aku berjalan dengan perasaan tak menentu. Terasa ada sesuatu yang akan terjadi di lebaranku kali ini. Oh, kuharap ini hanya perasaanku saja. Termasuk dengan mas Hasby. Entah mengapa aku merasa begitu ingin bertemu dengan Mas Hasby. Memang kami belum lama saling tahu, dan aku juga tak pernah menduga kalau dalam waktu mendadak dia akan meminangku. Aku sempat tak percaya. Dan aku pun sempat nolak karena aku merasa masih belum siap dalam usiaku yang ke-19 tahun ini. Aku adalah remaja yang tak seberuntung yang lain. Setelah 3 tahun yang lalu aku lulus SMP, aku hanya duduk di rumah. Sebenarnya ngiri juga kalau lihat teman-teman sebayaku yang masih sekolah di SMA. Namun, syukurlah aku masih bisa merasakan bangku SMP walau tanpa memakannya. Sungguh aku sebenarnya masih terlalu muda. Aku pernah ngasih solusi pada Mas Hasby dengan jalan saling dekat dulu. Tapi, kata Mas Hasby itu sama saja mendekati zina, dan itu dilarang dalam Islam. Akhirnya ya……, aku terima saja keputusannya untuk meminangku.

Tapi, beberapa saat semenjak rencana itu ia sampaikan padaku, ia justru pergi ke kota. Katanya ia akan kembali saat menjelang lebaran. Namun yang membuat aku ragu, sampai sekarangpun ia belum datang. Dimana kau sebenarnya Mas?.

“Dorr!!” tiba-tiba suara Upi mengagetkanku.

“Apa-apan si Pi, kalau manggil yang bener dong. Nggak usah pakai nge-dor segala. Bikin kaget tahu!” cercaku.

“Eh ni anak, udah tiga kali aku panggil, kamunya nggak nengok-nengok. Lagi pula di jalan kok ngelamun sih. Untuk nggak ada banyak kendaraan. Dan mesti ingat ya neng, nih hari adalah Idul Fitri. So, kamu juga nggak perlu marah-marah kayak tadi dong”, ucap Upi membela diri.

Eh, benar juga kata Upi. Tanpa banyak komentar aku pun segera tersenyum dan mengulurkan tanganku padanya.

“Nah, gitu dong,” ucapnya seraya membalas uluran tanganku dengan salam erat.

“Eh Zah, kamu mau ikut keliling kampung nggak nanti?” tanya Upi. Aku berpikir sebentar.

“Ehm, maaf ya Pi, kayaknya aku nggak bisa ikut deh, soalnya aku sedang nunggu seseorang. Lagian biasanya juga orang-orang sekampung satu-persatu ke rumahku untuk nemui kakek. Sekali lagi maaf ya” ucapku pada Upi, rendah.

“Ya udah nggak apa-apa, kalau kamu ada acara, aku pergi dulu ya. Assalaamualaikum” salam Upi sambil ngeloyor pergi.

“Waalaikumussalaam,” jawabku.

Duh, untung dia nggak tanya nunggu siapa, kalau dia sampai tahu aku nunggu Mas Hasby, bisa gawat nih urusannya. Syukurlah.

Suasana kampung semakin sepi. Kebanyakan mereka pergi ke rumah keluarga yang paling tua. Aku juga seharusnya ke sana, ke Madendo, dimana orang tua Bapakku tinggal. Namun, sejak tadi pagi, aku semakin tak tenang. Tak banyak yang aku kerjakan. Setelah acara maaf-maafan bersama keluarga, aku hanya didalam kamar. Aku hanya berdiam diri. Aku sadar, seharusnya aku tak seperti ini. Hari ini adalah lebaran, Idul Fitri, hari yang suci. Tak sepantasnya kunodai dengan perasaanku yang gila ini. Tapi, aku juga tak bisa mengingkari kalau aku begitu mengharap kehadirannya. Hanya untuk sebuah kepastian, untuk sebuah kebenaran.

“Nduk, kamu jadi ikut ke Madenda atau tidak? Tinggal kita berdua. Semua keluarga sudah berangkat ke sana. Mereka nanti terlalu lama menunggu lho” suara ibu yang setia menemaniku terdengar dari balik pintu.

“Nduk, untuk lebaran nduk. Jangan diam terus dong. Cerita, ada apa dengan kamu?” ulang ibu ketika tak ada jawaban dariku. Aku pun beranjak. Kubukakan pintu kamar dengan pelan. Seketika tampak senyum ibu yang begitu indah menyapa wajahku.

“Bu, kapan Mas Hasby datang? Katanya menjelang lebaran mau datang? Kok sampe sekarang gak datang-datang”  tanyaku kemudian dengan nada rendah. Ibu nampak mengernyitkan dahi.

“Mas Hasby? Ya Allah nduk, maaf, ibu sampai lupa” ucap ibu seraya menempelkan telapak tangannya ke dahi. Seketika aku terheran. Kuikuti langkah Ibu dengan suatu kekuatan baru. Sempat kulihat warna lain di wajah beliau saat itu.

Tak lama kemudian, diambilnya sebuah amplop putih, bersih dari bawah lipatan-lipatan baju di almari. Aku semakin heran.

“Nduk, ini titipan buat kamu,” ujar ibu seraya menyodorkan amplop itu padaku.

Titipan? Titipan apaan?! Aku mulai berpikir.

Dengan cekatan segera ku buka amplop itu dan kubaca satu persatu isinya dengan teliti.

Pekalongan, 20 Ramadhan 1428 H.

Teruntuk : Adikku “Izah”

di Penantian

Minal aizin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin. Dik, Mas Hasby mohon maaf, bila selama ini adik telah banyak berharap dari mas. Itupun juga karena kesalahan Mas Hasby, mas akui itu. Itu karena keteledoran mas.

Dulu mas belum tahu siapa kita. Mas telah mencari tahu. Kuharap adik mampu menerima ini, qt saudara dik. Kalau adik belum paham dengan yang mas tuliskan ini, tanyakanlah kebenarannya pada ibumu. Beliau lebih tahu. Yang pasti kita tak boleh lakukan pernikahan itu, dik!

Mas juga tak pernah pergi ke kota. Mas hanya ingin menghindar darimu, hingga kutemukan cara paling tepat untuk kuceritakan pada adik semuanya.

Sekali lagi, maaf!

Wassalamualaikum wr. wb.

Dari : Mas Hasby

Tiba-tiba seluruh tubuhku bergetar karena kalimat yang cukup panjang itu. Kertas itu melayang dan tertiup angin pegunungan. Walau ku tahu itu tak mampu membiaskan perasaanku. Kutatap mata Ibu yang tampak teduh walaupun layu. Anggukan pasti Ibu menghantam perasaanku.

“Bu, siapa Mas Hasby, Bu?” tanyaku dengan mata yang mulai membendung air bening. Aku kecewa. Sungguh. Aku tahu tak ada lagi yang dapat mengobati luka kecewaku ini. “Bu, siapa Mas Hasby?!” ulangku bergetar.

“Mas Hasbymu adalah masmu juga Zah, dia kakakmu juga. Dia memang bukan lahir dari rahim ibu. Tapi, sejak usia 1 bulan hingga usia 3 tahun, ibulah yang menyusuinya. Hingga kemudian orang tuanya pindah ke tempat lain. Dan secara agama, kamu dan Hasby adalah muhrim, kamu tahu hukumnya pernikahan sesama muhrimkan nduk?” jelas ibu panjang lebar.

Aku hanya diam. Aku sudah dapat mencerna apa yang akan Ibu katakan. Aku dan Mas Hasby tidak boleh menikah! Tapi, kenapa mesti baru sekarang ibu katakan itu? Kenapa? Aku benci!!!

“Kamu tahu nduk, kapan surat itu datang?” tanyanya,

Aku menggeleng.

“Waktu itu Hasby kesini. Kebetulan kamu tidak di rumah. Lalu ibu ajak ia bercakap-cakap. Akhirnya ibu tahu latar belakang keluarganya. Ia pun saat itu sempat kaget dan tercengang waktu ia tahu bahwa ibulah yang menyusuinya. Ibu maklumi itu,” ungkap ibu.

“Kemudian beberapa hari setelah itu, ia kesini lagi serta ia titipkan surat ini pada ibu. Sekarang,…… kamu bisa mengerti kan nduk?” lanjutnya.

Aku masih terbenam dalam kekecewaan. Dia yang selalu kunanti ternyata tidak boleh menikahiku.

“Bu, tapi kenapa tidak Ibu sampaikan surat ini dari dulu,” tanyaku kemudian. Mencoba tuk mengurangi dan mengontrol perasaanku.

“Spesial. Hanya untuk hari ini. Untuk lebaran Zah!” jawab ibu singkat.

“Mas Hasby juga, tak pernah ceritakan ini sebelumnya. Sebelum aku lama menunggu hingga terasa bosan,” lanjutku mencoba menghibur diri.

“Untuk lebaran, dik,” tiba-tiba suara yang tak asing lagi di telingaku itu mengarahkan pandanganku dan Ibu ke arah pintu tengah.

“Mas Hasby!!,” ucapku setengah tak percaya.

Oh, tanpa sadar aku menitikkan air mata. Entah apa itu artinya. Tapi aku merasa bangga memiliki mas segagah dia.

Langkahku mendekat pelan, ke arahnya. Kini aku tak perlu lagi terlalu menundukkan pandanganku. Karena dia idamanku. Karena dia “my brother”. Sungguh indah lebaranku kali ini. Benar-benar indah!.

Aku tak perlu menangis

Karena tak memilikimu

Aku tak perlu membakar laut

Karena tak mendapatkanmu.

Aku pun tak perlu menangkap petir,

Dan meledakkannya di cermin hatiku

Karena aku sadar, hanya dalam maya

Mau milikku seutuhnya.

Namun aku rela.

Aku malu bila harus mematahkan asa

Hanya demi sebutir zarah di angan-angan

Aku malu bila harus mengais cinta

Dan memandang keindahan semu dimatamu,

Di setiap langkah tegap, bibir merah, kulit putih

Aku malu lakukan itu, karena q-ta miliNya.

Karena kuyakin, ada cinta terbesar menghampiriku

Tanpa perlu ku mengemis kepadaNya

Ada keindahan yang nampak jelas

Tanpa perlu ku mengorbankan nafsu jiwa

Ditulis dalam CerPeN. 1 Comment »

Satu Tanggapan to “Untuk Lebaran”

  1. dedi Says:

    bagus banget,,,i like id,,,,
    poin 99
    yg 1 poin bwt bahasa awal’y sedikit campuran tp okelah buat pemula,,,mantap pokox’y


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: