Menilik Geliat Pemuda di Era Tekhnologi

By: Siti Khuzaiyah*

Hakikat Pemuda
Apa yang terlintas di pikiranmu ketika mendengar kata pemuda? Apakah sekedar manusia muda dengan beragam gayanya yang serba up to date? Ataukah ada yang bisa mengartikan pemuda dengan makna yang lebih dalam?
Ya, secara umum pemuda memang berarti orang yang masih muda (KBBI). Lebih lanjut mengenai usia pemuda, Undang-Undang Nomor 40/2009 tentang kepemudaan membatasi usia pemuda mulai 16 hingga 30 tahun, meskipun saat ini masih banyak organisasi kepemudaan yang memiliki pengurus aktif dengan usia di atas 30 tahun.
Berdasarkan ciri-ciri psikologi, pemuda cenderung memiliki ciri-ciri sebagai berikut (Mulyana, 2008):
1. Selalu ingin memberontak terhadap kemapanan. Hal ini lebih disebabkan karena pada usia ini seorang pemuda sedang mencari identitas diri. Keinginan untuk diakui dan ingin mendapatkan perhatian mendorong pemuda untuk berbuat sesuatu yang ”tidak biasa-biasa saja dan sama dengan yang lain”. Ditinjau dari sisi positif perilaku ini akan memunculkan kreatifitas, akan tetapi disisi lain akan muncul penentangan dari pihak lain khususnya pihak orang dewasa yang sudah mapan.
2. Bekerja keras dan pantang menyerah. Sifat kedua ini berhubungan erat dengan sifat pertama. Kerja keras dan pantang menyerah inilah yang mendorong pemuda berlaku revolusioner. Perilaku revolusioner inilah yang memunculkan anggapan bahwa pemuda itu tidak berpikir panjang sehingga akan berpotensi untuk menimbulkan konflik baik itu dengan sesama pemuda maupun dengan orang tua.
3. Selalu optimis. Sifat ini sangat menunjang sifat kerja keras dan pantang menyerah. Sifat optimis ini akan mendorong pemuda selalu bersemangat berusaha untuk mencapai cita-citanya.
Suatu saat, dalam sebuah pertemuan, penulis bertanya mengenai apa yang terlintas di pikiran mahasiswa mengenai pemuda, maka secara spontan mahasiswa menjawab:
”Hm…pemuda itu dinamis”
”Pemuda itu kuat”
”Pemuda itu pantang menyerah”
”Pemuda…idealis dan kritis”.
Yup, itulah beberapa karakter ideal pemuda yang secara umum dapat spontan keluar dari pikiran kita ketika mengingat hakikat pemuda. Namun sayangnya, saat ini banyak kita jumpai pemuda yang kehilangan identitasnya dikarenakan ia terlena oleh suatu pola pergaulan yang hedonis (keduniawian). Tidak jarang pemuda saat ini `loyo` ketika dituntut bekerja keras, tidak semangat ketika menghadapi suatu tantangan baru, mudah putus asa ketika menghadapi kegagalan, berpikir serba praktis mengenai suatu hal, serba `manut` dan terpenjara dalam sistem yang monoton, tidak kritis serta takut menyampaikan ide-ide briliannya. Ada juga pemuda yang ter nina bobokan oleh karena semua keperluan hidupnya sudah tercukupi oleh suapan orangtua, mereka tidak mengetahui hakikat kerja keras bagi seorang pemuda.
Yupz, semoga kita -para pemuda- bisa menjadi seorang pemuda ideal…

Peran Pemuda
”Beri aku sepuluh pemuda, maka akan kugoncangkan dunia,” inilah sebuah ungkapan yang pernah dilantunkan sang orator ulung yang pernah dikenal dunia, sekaligus presiden perdana yang pernah memimpin Indonesia. ia menyanjung, betapa pentingnya keberadaan sebuah komunitas pemuda dalam suatu bangsa dan negara. Dalam sejarah Indonesia, dari prolog sampai epilog kemerdekaan, pemuda memiliki peranan luar biasa sebagai ”avant grade” (ujung tembok) perubahan, tonggak kebangkitan lahirnya kesadaran ”berbangsa”, peran tersebut dapat dilihat sejak para pemuda membuat ”komunike politik kebangsaan” 28 Oktober 1928 ”Satu tumpah darah, satu bangsa dan satu bahasa”
Berdasarkan UU kepemudaan, maka dapat dilihat bahwa sebagian besar usia pemuda (16-30 tahun) berada pada masa-masa sekolah dan kuliah, dimana masa-masa itu merupakan masa penuh idealisme. Adanya karakter khas pada pemuda, disertai dengan adanya masa sekolah/kuliah (sebagai masa pembelajar), akhirnya mendukung pemuda untuk berperan lebih. Diantara peran pemuda yang sampai saat ini masih relevan adalah perannya sebagai agen perubahan (Agent of change) dan sebagai agen kontrol sosial (agent of social control). Salah satu perangkat agar pemuda bisa menjalankan peran sebagai agen perubahan dan agen kontrol sosial adalah melalui organisasi. Ya, kita tidak akan bisa bergerak sendiri. Kita butuh partner dalam melakukan sebuah perubahan di lingkungan sosial sekitar kita. Partner itu akan didapatkan dalam sebuah organisasi. Organisasi di sini tdak hanya organisasi yang eksis (tampak) saja, tetapi juga organisasi yang terselubung (seperti pada zaman penjajahan Jepang dimana organisasi pemuda dilarang ada di Indonesia). Melalui organisasi akan lahir diskusi-diskusi dan budaya yang mendukung adanya sebuah perubahan. Perubahan di lingkungan sekitar hingga skala yang paling luas sekalipun.

Pemuda, Dulu dan Sekarang

Jika kita lihat, ada perbedaan menonjol antara pemuda dulu dan sekarang. Dahulu, dimana keadaan negara masih ”menegangkan”, lahirlah para pemuda dengan generasi yang penuh idealisme, rela berkorban, semangat juang tinggi, perintis, pelopor dan nasionalis dalam diri Soekarno, Hatta, Sjahrir, ataukah Soetomo. Tetapi coba bayangkan dengan keadaan pemuda sekarang. Membaca hasil jajak pendapat yang di buat oleh Litbang Kompas (23/10/2010), sebagai orang muda, saya juga prihatin.
Dari hasil jajak pendapat tersebut, didapatkan bahwa menjadi kaya dan popular adalah tujuan dan niat terutama (28,8 % dan 12,2 %) jika di bandingkan dengan keinginan untuk menjadi seorang pemimpin (17,6 %). Hal lain yang menjadi keunikan dan ciri khas pemuda jaman sekarang adalah pragmatis dan apolitis. Pragmatis karena hanya mementingkan tujuan diri sendiri (kepentingan pribadi), kaya, dan terkenal. Apolitis, dimana pemuda kurang berminat untuk terjun di bidang politik, organisasi kemasyarakatan, partai ataukah anggota legislatif. Pergeseran jati diri pemuda ini secara tidak langsung dipengaruhi oleh adnaya perubahan kondisi dan tekhnologi.
Perkembangan teknologi tidak disikapi secara positif oleh kaum muda sekarang. Secara skala, penggunaan tekhnologi mungkin saja didominasi oleh kaum muda. Akan tetapi, hanya sebagian kecil pemuda yang memanfaatkan tekhnologi untuk hal-hal positif. Dalam tayangan investigasi di salah satu TV swasta beberapa saat lalu, di katakan bahwa konten dan situs porno dapat di akses secara bebas lewat handphone oleh pelajar sekolah dasar, seiring dengan menjamurnya layanan internet murah provider selular. Anak-anak sekolah lebih banyak menghabiskan waktunya di warnet untuk membuka situs porno dan game online.
Adanya situs jejaring sosial seperti Friendster, MySpace, Facebook dan Twitter telah menyita banyak waktu pemuda untuk `bermain`. Jejarnig sosial tersebut dibangun tentu ada tujuan dan manfaat yang hendak dibagikan (menjalin silaturahim, berbagi info, dsb), akan tetapi penggunaan yang berlebihan dan tidak kenal waktu justru akan menjerumuskan si pengguna pada penghamburan waktu dan tenaga pada hal yang minim manfaat.

Pemuda dalam Pandangan Islam
“Manfaatkan yang lima sebelum datang yang lima: masa mudamu sebelum datang masa tuamu; masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu; masa kayamu sebelum datang masa miskinmu; masa hidupmu sebelum datang masa matimu; masa luangmu sebelum datang masa sibukmu.” (H.R. Al Baihaqi)
Di dalam Al Qur’an, peran pemuda diungkapkan dalam kisah Ashabul Kahfi (18:9-22), kisah pemuda Ibrahim (21:60,69 dan 2:258) dan pemuda dibunuh oleh Ashabul Uhdud (lihat tafsir Ibnu Katsir Q.S. Al Buruuj) dan para Assabiqunal Awwalun pada umumnya berusia muda. Pemuda memegang peranan penting dalam sejarah kebangkitan Islam. Diantara pada pejuang muda Islam adalah Ali bin Abi Thalib dan Zubair bin Awwam, yang paling muda ketika itu keduanya berumur 8 tahun, Thalhah bin Ubaidillah (11), al Arqam bin Abi al Arqam (12), Abdullah bin Mas’ud (14) yang kelak menjadi salah satu ahli tafsir terkemuka, Saad bin Abi Waqqash (17) yang kelak menjadi panglima perang yang menundukkan Persia, Jafar bin Abi Thalib (18), Zaid bin Haritsah (20), Utsman bin Affan (20), Mush’ab bin Umair (24), Umar bin Khatab (26), Abu Ubaidah Ibnul Jarah (27), Bilal bin Rabbah (30), Abu Salamah (30), Abu Bakar Ash Shidiq (37), Hamzah bin Abdul Muthalib (42), Ubaidah bin al Harits, yang paling tua diantara semua sahabat yang berusia 50 Th.
Islam sangat menghargai keberadaan pemuda. Bahkan di dalam sebuah hadits mengenai 7 golongan yang dijamin masuk syurga, nomor 2 disebutkan adalah `seorang pemuda yang hidupnya selalu beribadah kepada Allah`. Ya, siapakah yang tidak ingin mausk syurga? Mari berlomba-lomba menjadi pemuda yang baik, generasi khoiru ummah, yang dapat berperan untuk perbaikan di sekitar kita.

Pemuda Seperti Apakah Kita?
Apakah kita tergolong pemuda yang aktif, suka berkerja keras, senang mencoba hal-hal baru serta senantiasa memberi manfaat untuk lingkungan sekitar kita? Ataukah kita pemuda yang hanya berdiam diri, berfoya-foya, terlena pada arus tekhnologi yang membuat kita tidak produktif, serta tidak mau bergerak dan berkiprah untuk sekitar?
Hm…tarik nafas panjang… Renungkan, berapa sisa waktu kita? Dalam waktu 24 jam, hal-hal apa yang sudah kita lakukan? Tidur berapa jam? Belajar berapa jam? Bermain di depan komputer berapa jam? Berkongko-kongko dengan teman berapa jam? Facebookan berapa jam?
Berapa waktu dari 24 jam itu yang sudah kita sumbangkan untuk lingkungan sekitar kita? Semoga kita benar-benar menjadi pemuda yang sesungguhnya, pemuda yang terus menggali dan mengembangkan potensi diri, ikut peka terhadap kondisi lingkungan sosial sekitar. Menjadi pemuda yang berkiprah untuk kebaikan dan senantiasa beribadah, hingga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang dijamin masuk syurga. Amien…
*Penulis adalah pemuda, staff pengajar di Prodi DIII Kebidanan STIKES Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (http://www.ukht.wordpress.com)
Sumber:
Burhani, R. 2011. Undang-undang Batasi Usia Pemuda 16-30 tahun. Available on http://www.antaranews.com. Diakses pada 22 Oktober 2011
Fajri. 2007.Pemuda Adalah Ujung Tombak Bangsa. Available on http://fajrieq.multiply.com. Diakses pada 22 Oktober 2011
http://kamusbahasaindonesia.org/pemuda
Mulyana, N.2008.Siapakah Pemuda Itu? Available on http://blogs.unpad.ac.id/suaraqolbu/?p=5
Pramana. 2008. Peran Pemuda sebagai Agen Perubahan. Available on http://anggitsaputradwipramana.blogspot.com Diakses pada 22 Oktober 2011
http://mixcustom.blogspot.com/2010/10/pemuda-adalah-orang-yang-mengatakan inilah saya dan bukan ini bapak saya.html#ixzz1bTM3XzOQ
http://soulheaven73.wordpress.com/2007/04/29/sepuluh-risalah-pemuda-islam/
http://hukum.kompasiana.com/2010/06/26/pemuda-islam-bangkitlah-kobarkan-semangat-perjuanganmu/.
http://peperonity.com/go/sites/mview/artikels/15980435. GOLONGAN AHLI SURGA

Ditulis dalam ArTikEL UMuM. 1 Comment »

Satu Tanggapan to “Menilik Geliat Pemuda di Era Tekhnologi”

  1. dia Says:

    ukhti lama tak da kabar…………………..hmmmm masalah yang di bahas bagus2 salut ma ukhti


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: